Selasa, 26 April 2011

Negosiasi Proyek Pembangunan, Terlantarkan Rakyat Jelata

Padi menguning, harapan rakyat
Demi memperkuat landasan hukum pemberantasan korupsi, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana orupsi. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 ini secara tegas menuangkan keinginan untuk memberantas praktik korupsi; antara lain dengan dimuatnya secara lebih tegas tentang unsur suap, dan juga tentang tindak pidana suap lain yang disebut sebagai gratifikasi yang berkaitan dengan jabatan, kewajiban, dan tugas.

Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan gratifikasi adalah pemberian dalam arti yang luas yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas, penginapan, perjalanan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Pemberian tersebut, baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan mempergunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Dengan pencantuman gratifikasi tersebut, makin terang benderang bahwa berbagai fasilitas yang selama ini diragukan sebagai suatu pelanggaran atau penyelewengan menjadi jelas, yaitu semua itu termasuk kategori suap yang dapat diusut.

Dalam suatu negara hukum, supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih adalah merupakan salah satu kunci berhasil tidaknya suatu negara melaksanakan tugas pemerintahan umum dan pembangunan di berbagai bidang. Yang dimaksud dengam supremasi hukum adalah keberadaan hukum yang dibentuk melalui proses yang demokratis dan merupakan landasan berpijak bagi seluruh penyelenggara negara dan masyarakat luas, sehingga pelaksanaan pembangunan secara keseluruhan dapat berjalan sesuai aturan yang telah ditetapkan. Sedangkan pemerintahan yang bersih adalah pemerintahan yang bebas dari praktek KKN dan perbuatan tercela lainnya. Dengan demikian, supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih yang didukung oleh partisipasi masyarakat dan atau lembaga kemasyarakatan untuk melakukan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan pemerintahan umum dan pembangunan merupakan salah satu upaya reformasi birokrasi dalam rangka mewujudkan good governance.

Kondisi saat ini, memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai masalah penyalahgunaan kekuasaan atau kewenangan yang berbentuk KKN, meskipun cukup komprehensif dan disertai peraturan perundang-undangan yang lengkap dan bagus sebagaimana diuraikan secara singkat di atas, namun belum nampak dilakukan penanganan yang serius oleh pemerintah, khususnya pemerintah di level daerah kabupaten/kota. Selain itu, belum berhasilnya pemberantasan korupsi meskipun sudah ada perangkat hukum yang bagus dan dilengkapi dengan berbagai lembaga penangkal korupsi yang juga cukup banyak seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pengawasan Fungsional --BPKP, Bawasda, Inspektorat --, Pengawasan Melekat (Waskat), dan Pengawasan Masyarakat (Wasmas), disebabkan antara lain belum adanya persamaan persepsi antara penegak hukum dalam memahami dan melaksanakan peraturan perundang-undangan tersebut, dan belum mantapnya penyelenggaraan fungsi lembaga-lembaga penangkal korupsi.
Sesungguhnya kondisi yang mendukung upaya untuk mencari solusi yang tuntas terhadap masalah besar ini telah tersedia, yaitu tingkat kritis masyarakat yang tidak lagi tabu untuk membuka borok penyelewengan atau KKN. Transparansi semakin menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar, masyarakat semakin tergugah untuk menuntut keadilan, kebenaran, dan pemerintahan yang bersih. Masyarakat semakin memiliki keberanian untuk mengungkapkan masalah-masalah yang semula hanya menjadi bahan gunjingan.

Namun demikian, dalam keadaan masih lemahnya moralitas, tradisi atau budaya disiplin, dan patuh hukum dari penyelenggara negara termasuk penegak hukumnya dan masyarakat, dan selama hukum kita belum dapat benar-benar melindungi semua warga negara secara adil, selama hukum masih bisa dibelokkan untuk kepentingan yang berkuasa atau kelompoknya atau yang mampu dan bersedia membayar, maka reformasi birokrasi akan berjalan timpang dan sulit untuk mewujudkan good governance yang kita cita-citakan.

Negosiasi Paket Proyek

Dalam dinamika roda pemerintahan di daerah -kabupaten dan kotamadya- tingkat kritis masyarakat masih terbilang rendah. Di Trenggalek, jika pun ada masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mampu dan kapabel, ternyata hanya sedikit sekali yang memiliki integritas tinggi dan sungguh-sungguh pro-Rakyat. Oleh sebab itu,untuk menyingkap berbagai kasus KKN yang melibatkan para birokrat dan legeslator, sulit dilakukan. Utamanya, dalam hal regulasi yang menyangkut berbagai proyek fisik dan non fisik dengan anggaran besar.

Sudah bukan rahasia lagi, bila di Trenggalek ini sangat sering terjadi perselingkuhan dalam hal penetapan anggaran proyek dan penunjukkan rekanan. Bahkan, ketika suatu proyek yang seharusnya dilelang secara terbuka, ternyata kemudian dipolitisir. Pengumuman lelang ditayangkan di suatu media, hanya sebagai bahan untuk dilaporkan ke atasan dan sebagai bukti kepada publik. Sebab, "kongkalingkong" telah disepakati dengan rekanan yang dikehendaki oleh sang birokrat maupun tokoh legeslator di daerah ini.

Terlebih lagi, indikasi banyaknya anggota legeslator maupun birokrat yang diam-diam memiliki saham di berbagai badan usaha kontraktor, dll. Sehingga ada kepentingan untuk menegakkan bendera usaha yang dibackinginya. Tatkala proyek-proyek pembangunan fisik (infrasturktur) ditetapkan, maka pelaksanaannya sangat sering jadi terlambat, dan/atau hasil akhir garapan proyek terlihat bagus sesuai dengan RAB namun kualitasnya amburadul.
Anggaran pro-Rakyat, hanya sebuah polesan di permukaan tanpa ada bukti yang memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan masyarakat. Semua itu adalah akibat ulah oknum pejabat dan legeslator yang bersepakat dengan deal-deal dalam suatu negosiasi di antara mereka. Ambillah contoh, berapa ratus kilometer garapan infrastruktur jalan maupun talud dan saluran irigasi yang terselsaikan namun tidak berumur panjang. Hanya dalam hitungan bulan, sudah ada bagian-bagian garapan tersebut yang rapuh dan rusak. Padahal bila pengerjaan sesuai RAB, proyek itu seharusnya mampu bertahan hingga minimal lima tahun tanpa harus rehab total.

Rakyat Jadi Korban

Negosiasi dan kesepakatan untuk meluncurkan sebuah proyek yang terjadi antara birokrat dan legeslator di Trenggalek ini menjadi wacana yang lumrah. Sementara perselingkuhan oknum birokrat/legeslator dengan para rekanan selama ini seakan menjadi keseharian yang tidak terelakkan. Masyarakat pemilik badan usaha kelas bawah lebih seing gigit jari karena tidak kebagian garapan, di sisi lain mereka yang pengusaha high class mampu mendapatkan kaplingan berlebih. Dan publik yang menikmati hasil garapan harus selamanya was-was, karena kualitas hasil garapan yang amburadul. Rakyat jadi korban sebuah konspirasi.

Setiap tahun, indikasi penyelewengan dalam penetapan berbagai proyek infrastruktur di daerah ini tidak pernah sepi. Tahun 2011, ada 22 proyek infratruktur jalan senilai 13 Milyar lebih dan 55 buah jaringan irigasi senilai lebih dari 5 Milyar rupiah. Pihak Bina Marga dan Pengairan Trenggalek, baru pada tanggal 15 April lalu memajangnya di papan pengumuman dan di situs (blog gratisan) milik dinas ini, serta melalui LPSE Jatim. Semua garapan tersebut menyangkut kepentingan rakyat seluruh Trenggalek. Merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Trenggalek. Tapi mengapa bisa terjadi kesan lambatnya penurunan proyek-proyek tersebut, bahkan Peraturan Bupati pun belum juga ada?

Rakyat jelata di daerah ini, sangat bergantung pada anggaran pemerintah untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Mereka bukan meminta jatah dana, melainkan berharap agar infrastruktur vital dapat mereka manfaatkan demi mendukung tingkat perekonomian mereka. Ratusan ruas jalan utama di daerah ini mengalami kerusakan sangat parah. Jalan jurusan Trenggalek-Dongko-Panggul, Trenggalek-Kampak-Munjungan dan Trenggalek-Bendungan, bila tidak segera ditangani, niscaya akan melumpuhkan perekonomian rakyat kecil. Atau bahkan akan merenggut nyawa banyak pengguna jalan tersebut! Sementara jaringan irigasi yang ambrol dan rusak, bila tidak segera dibenahi akan membunuh para petani, serta banjir bandang akan tetap jadi langganan.

Seharusnya dengan diterapkannya Peraturan Presiden Nomor 54/2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, menggantikan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007, pemerintah berharap agar derap pembangunan di daerah-daerah dapat berlangsung lancar. Proses pengadaan lebih cepat, sehingga kontrak-kontrak pengadaan bisa mulai dilaksanakan pada bulan Januari/Februari (Awal Tahun Fiskal yang sedang berjalan). Diharapkan apabila pelaksanaan pekerjaan sudah dimulai pada bulan Januari/Februari, maka penyerapan APBN/APBD tidak menumpuk diserap pada triwulan keempat, namun sejak triwulan pertama sudah diserap dengan baik.

Sebaliknya, di daerah Trenggalek dan daerah-daerah lain se-Eks Karesidenan Kediri, ternyata ada wacana yang justru terlambat proses pengadaan barang/jasa pemerintahnya. Banyak peluang KKN bisa terjadi dalam penempatan kontraktor. Negosiasi "tertutup" yang terjadi jelas sudah menghambat, sehingga kontrak-kontrak pengadaan tidak bisa mulai dilaksanakan pada bulan Januari/Februari. Dan, rakyat pun harus "nerima" andaikata harus hidup dalam keterpurukan di jurang kesengsaraan akibat infrastruktur yang macet dan terbengkalai.

Beberapa tokoh LSM anti KKN di Trenggalek, pernah berdiskusi non-formal, dalam beberapa kesempatan terpisah membahas masalah tersebut. Mereka seakan bersepakat, bila sangat terpaksa, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), perlu diberikan fakta-fakta kasus yang terjadi di daerah. Sebab, bila hanya regional, maka KKN sangat sulit dibrantas.
(prigibeach.com)

Jumat, 22 April 2011

Ujian Nasional di Trenggalek, Lancar, Tertib dan Aman

Ujian Nasional (UN) SMA/MA/SMK di Kabupaten Trenggalek sampai hari terakhir kemarin Kamis (21/4), secara umum berlangsung lancar dan tidak ada masalah berarti yang menghambat pelaksanaannya. Hanya saja, beberapa pengamat pendidikan sangat menyesalkan masih adanya pengawas yang membawa handphone dan mengaktifkannya saat di dalam kelas. Seharusnya, semua personil yang ada di dalam kelas di mana UN berlangsung, dilarang mengaktifkan selularnya, demi mencitrakan netralitas. Sementara itu memang terjadi kekurangan naskah soal dan juga di beberapa sekolah penyelenggara ada kasus tertukarnya naskah ujian mata pelajaran yang seharusnya terjadwal.

Sabtu (16/4) lalu, naskah soal dari Surabaya masih belum lengkap, ada 3 mata pelajaran, biologi dan IPA sebanyak 69 sampul besar dan 10 sampul kecil, serta Matematika Bisnis 17 sampul besar 10 sampul kecil, yang totalnya mencapai 1920 soal. "Namun masalah itu dapat diatasi dan tidak sampai menghambat kelancaran UN," ujar Drs. Kusprigianyto, MM, melalui Kabid SMP/SMU dan SMK, Drs. Anwaruddin, Kamis (21/4).

Masalah lain tiba-tiba muncul di beberapa sekolah pada Rabu (20/4), yakni tertukarnya mata pelajaran yang diujikan. "Di SMK Negeri 1 Trenggalek, SMAN 1 Tugu dan SMAN 1 Karangan, terjadi dalam satu sampul berisi dua mapel. Hal ini sepenuhnya adalah kesalahan distributor naskah soal, bukan tanggung jawab Dinas Pendidikan," kata Anwaruddin, yang pernah manjadi Kasi Kurikulum selama hampir 5 tahun sebelum kemudian menjadi Kabid. Anwar menambahkan, bahwa sesuai peraturan dan standar operasional prosedur UN, baik pihak dinas pendidikan maupun sekolah, dan pengawas memang tidak diperkenankan membuka sampul yang berisi naskah soal ujian sebelum hari yang dijadwalkan, dan di hadapan para siswa serta pengawas dan Tim Pemantau Independen.

"Kejadian itu bisa segera di atasi, karena untuk setiap Mapel memang sudah ada naskah cadangannya. Ujian hari itu di sekolah tersebut juga berlangsung lancar, tidak amburadul seperti diissukan," tambahnya sambil tertawa.

Melalui selularnya, Drs. Kusprigianto, MM., juga menandaskan, bahwa adanya temuan dua mapel dalam satu sampul naskah tidak sampai membuat UN amburadul. "Pemerintah sudah mengantisipasi hal ini, antara lain dengan memberikan naskah soal cadangan untuk setiap Mapel. Panitia atau siapa pun itu, tidak berhak membuka sampul naskah UN yang bersegel pengaman itu, sebelum hari H ujian, itu pun harus di hadapan siswa peserta ujian dan disaksikan oleh pengawas serta Tim Independen. Oleh sebab itu, kami pun baru tahu, kalau terjadi seperti itu (ada dua Mapel dalam satu sampul/Red)," katanya.

Di Kabupaten Trenggalek sebanyak 41 sekolah menyelenggarakan Ujian Nasional. Terdiri dari 16 SMA, 7 Madrasah Aliyah (MA) dan 18 SMK. Sedangkan untuk siswanya berjumlah 5.694 orang terdiri dari 2.333 orang siswa SMA, 765 siswa MA dan sisanya sebanyak 2.596 orang berasal dari SMK.

Naskah UN SMP/MTs Tiba di Mapolres

Menjelang pukul 22.00 WIB, Kamis (21/4), sebuah mobil box dengan kawalan ketat petugas Polres Trenggalek memasuki halaman Mapolres Trenggalek. Mobil yang dikawal itu mengangkut paket UN untuk SMP dan MTs. Naskah diantar petugas dari Bidang Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur. Menurut Drs. Benny, staf Bidang Dikmenum Dispendik Prop. Jatim, keseluruhan naskah tersebut diantar langsung oleh petugas demi memastikan kelengkapan dan keamanannya.

Sebelum dimasukkan ke dalam ruangan penyimpanan khusus di Mapolres Trenggalek, seluruh naskah diperiksa dengan teliti dan dihitung dengan cermat baik jumlah sampul maupun jenis Mapelnya. Dalam pemeriksaan itu, pihak Dinas Pendidikan Trenggalek menemukan sebuah sampul berisi soal namun tidak diberi label jenis mata pelajarannya. Sampul itu kemudian di sisihkan selanjutnya akan dieliminasi sebelum dimusnahkan atau dikirim balik ke Surabaya.

Naskah UN SMP/MTs akan dibagikan ke seluruh sekolah penyelenggara pada hari Jum'at dan Sabtu. "Kami berharap, naskah ini sudah sampai di sekolah-sekolah penyelenggara tepat waktu. Karena itu, kami bersama pihak kepolisian bersepakat untuk tetap bertugas kendati hari libur," kata Anwaruddin di tengah-tengah kesibukannya meneliti paketan naskah, Kamis (21/4).

Kapolres Trenggalek AKBP Totok Suharyanto S.Ik., M.Hum., mengatakan sebanyak 526 personil telah diterjunkan untuk mengamankan pelaksanaan Unas SD, SMP dan SMA. Pengamanan yang diberi sandi Cendekia Semeru 2011 ini akan dilakukan selama 2 minggu, mulai tanggal 17 April sampai 6 Mei 2011, dengan sistem pengamanan tertutup dan terbuka. Naskah Unas di simpan dalam salah satu ruangan Mapolres, digembok dengan kunci ganda, dan diberi segel pengaman.(prigibeach.com)
Niadesain.com

Rabu, 20 April 2011

Guyub Rukun dan Gotong Royong, Membuat Karangturi Menjadi Desa Terbaik di Munjungan

Mulai 11 April hingga besok 21 April 2011, Pemkab Trenggalek, melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) melakukan penilaian Lomba Desa Tingkat Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Desa yang dinilai sebanyak 14 desa, yang merupakan wakil dari kecamatan se Kabupaten Trenggalek. 

Dalam lomba ini saya menjadi salah seorang Juri bidang pendidikan, saya hanya mewakili teman dari Dinas Pendidikan Trenggalek, dan telah melakukan perjalanan keliling bersama Tim Juri yang berjumlah 9 orang. Sungguh mengasyikkan bisa menikmati refreshing 'gratis' dan sudah tentu juga suguhan makanan dan minuman yang oke banget dari setiap yang kami kunjungi. Siang tadi saya bersama Tim Juri, meninjau desa Karangturi dan memberikan penilaian, dalam hal ini yang kami nilai hanyalah adminsitratif desa saja.

Dari sebelas desa yang ada di Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Desa Karangturi dianggap memiliki keunggulan tersendiri oleh juri Lomba Desa tingkat Kecamatan Munjungan. Karena itu, desa ini diajukan untuk mewakili wilayah tersebut dalam lomba Desa tingkat Kabupaten, demikian ujar Camat
Munjungan, Joko Susanto, Rabu (20/4), saat menerima kedatangan Tim Juri Lomba Desa Tahun 2011 Tingkat Kabupaten Trenggalek.

"Kendati demikian, kami merasa bahwa banyak sekali kekurangan di desa ini bila dibanding dengan desa-desa yang mewakili kecamatan lainnya. Namun kami tetap optimis, dan berharap semoga Dewan Juri memberikan penilaian yang positif dan obyektif, sehingga desa Karangturi bisa masuk nominasi", ujarnya. Camat Munjungan menambahkan, bahwa pemilihan desa terbaik untuk tahun ini telah mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan datangnya Tim Juri ke desa-desa di empat belas kecamatan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, biasanya hanya menilai desa yang masuk empat besar.

"Namun sayangnya, hadiah yang diberikan kepada desa yang masuk nominasi masih terbilang minim. Di Kabupaten Ponorogo, hadiah pemenangnya mencapai ratusan juta rupiah," ujar Joko sambil berharap pihak Pemkab bisa lebih memperbesar nilai nominal hadiah agar desa-desa yang dijagokan lebih bersemangat.

Dalam mpada itu, Sunardi, Ketua Tim Juri Kabupaten, mengatakan sekalipun hadiah juara I hanya 5 juta rupiah, namun Bupati Trenggalek, Mulyadi WR, siap untuk menambah jumlah hadiah tersebut. "Bunda Penny mengatakan saat di desa Salamrejo, Karangan, bahwa Pak Mul akan memberikan tambahan hadiah kepada desa yang menjadi juara, besaran hadiah tambahan itu belum disebutkan" ujar Sunardi yang baru lima bulan menjadi Kabid di Bapemas Trenggalek, sebelumnya dia menjadi salah seorang pejabat di BKD Trenggalek.

Redi Susilo, SE,(47), Kepala Desa Karangturi, menjelaskan tentang sikap warganya yang siap menerima hasil penilaian Tim Juri. "Kami berharap Tim Juri dapat memberikan penilaian secara obyektif dan tanpa rekayasa. Bagi kami, apapun penilaian Tim, akan menjadi cambuk bagi kami untuk terus belajar dan memacu diri demi hari depan yang lebih baik," katanya penuh rendah hati dan jujur.

Desa Karangturi terletak tepat di bawah bukit Kambengan, yakni bukit yang beberapa bulan lalu dihebohkan oleh gempa tektonik dan dentuman gemuruh dari dalam perut bumi. Desa ini nampak asri, dengan pemandangan alam yang masih alami. Hasil bumi dari desa ini menurut Redi Susilo, SE., yang menonjol adalah cengkeh dan kopi, selain hasil hutan seperti kayu jati dan sengon. Secara tradisional, masyarakat Karangturi masih mematuhi adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, utamanya dalam hal kegotong-royongan dan kehidupan yang guyub ruku.

Desa ini memiliki 4 sekolah dasar, namun dua di antaranya sudah merger, yakni SDN 1 dan SDN 2 Karangturi, demikian ujar Hadi Subeno, Kepala UDP Kecamatan Munjungan. Selain itu.juga ada tiga buah madrasah ibtidaiyah yang dikelola oleh pihak swasta. "Warga Karangturi dan warga Munjungan pada umumnya sangat gigih menuntut ilmu pengetahuan. Serta tekun dan gigih dalam memperjuangkan cita-citanya. Banyak tokoh munjungan yang kini berperan di luar daerah, misalnya IM Hardjito dari RT 9 RW 3 Desa Tawing, dia menjadi dosen kesenian ntradisional Jawa di Universitas California Amerika Serikat," ujar Hadi Subeno yang juga asli Munjungan dan sekaligus keponakan dari IM Hardjito.

Memang benar, putra asal Munjungan banyak yang menjadi tokoh baik di level regional maupun nasional dan internasional. Mereka berprofesi sebagai seniman, pendidik, politikus, birokrat maupun pengusaha. Nah, semoga jejak para pendahulu itu bisa disusul dan diteladani oleh generasi dari desa Karangturi, kata Hadi Subeno berharap.

Kades Karangturi, Redi Susilo, SE., yang asli Kelurahan Sumbergedong Kecamatan Trenggalek itu, juga berharap ada warganya yang mampu mengikuti jejak generasi seniornya. Redi juga sangat membanggakan jiwa dan semangat guyub rukun dan kegotong-royongan warga desanya.

"Karena watak mereka yang begitulah, maka saya dalam 4 tahun ini mampu membangun desa dan membawa Karangturi menjadi wakil Munjungan. Partisipasi masyarakat sangat nyata, serta mendukung setiap program kegiatan yang dicanangkan oleh pemerintah desa," pungkasnya.

Niadesain.com

Selasa, 19 April 2011

Kilasan Sejarah TNI AU (bagian 2)

Peningkatan Kekuatan (1950-1960)


Dengan tekanan dari PBB, Belanda akhirnya setuju untuk mengakui kemerdekaan Indonesia dan perjanjian damai ditandatangani pada tahun 1949, mengakhiri konfrontasi. Angkatan bersenjata Belanda meninggalkan Indonesia (kecuali di Papua, di mana mereka tinggal sampai 1963) dan pesawat milik mereka diserahkan ke Indonesia sebagai pampasan perang. Pesawat-pesawat tersebut terdiri dari, antara lain, P-51, B-25, C-47 dan PBY Catalina, yang selanjutnya menjadi kekuatan utama Angkatan Udara Indonesia untuk dekade berikutnya.
K5Y1 Willow (Chureng), salah satu pesawat tempur andalan
Angkatan Udara waktu itu
Selama era ini, Indonesia menerima pesawat jet pertama; de Havilland DH-115 Vampire. Era ini lambang nasional berubah menjadi segi lima merah & putih, tanda bahwa pesawat milik Indonesia.

Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu TNI AU memiliki pesawat dari Uni Sovyet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, pembom TUPOLEV TU-2, dan pemburu LAVOCKHIN LA-11. Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.
Masa Keemasan (1960-1970)

TNI AU mengalami popularitas nasional tinggi dibawah komando KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani awal 1960-an. TNI AU memperbarui armadanya pada awal tahun 1980-an dengan kedatangan pesawat OV-10 Bronco, A-4 Sky Hawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, dan Hawk 100/200.

Gelegar partai komunis di Indonesia telah menarik Indonesia lebih dekat dengan Blok Timur. Beberapa pesawat buatan Soviet mulai tiba di 60-an. Indonesia bahkan menjadi negara non-Soviet pertama yang menerima dan mengoperasikan pesawat pembom Tu-16 Badger baru. Sampai dengan 25 Tu-16 luak tiba, jenis penghancur yang memberikan daya jera besar ketika menghadapi beberapa pemberontakan dan konfrontasi. Beberapa jenis MiG juga tiba terdiri dari MiG-15UTI, MiG-17F/PF, MiG-19s dan MiG-21F-13, didukung dengan Il-28, Mi-4, Mi-6 dan An-12.

Pesawat Tu-2 dari Cina juga datang, dimaksudkan untuk mengganti B-25, tapi sayangnya mereka tidak pernah mencapai status operasional. Pesawat ini disajikan bersama dengan sisa pesawat barat seperti B-25, A-26, C-47, dan P-51. Selama periode ini, Angkatan Udara Indonesia menjadi kekuatan udara terbesar di belahan bumi selatan. Era ini juga menandai konfrontasi terakhir dengan Belanda di Papua, sebelum Belanda, sekali lagi di bawah tekanan dari PBB harus hengkang dari Irian Barat.

TNI AU Periode 1970 Hingga Sekarang

Revolusi tahun 1965 segalanya berubah dan rezim anti-komunis yang baru merebut kekuasaan. Hubungan dengan negara-negara blok Timur diputus total, dan dengan demikian dukungan dan suku cadang untuk pesawat pun mengalami hambata. Pada tahun 1970-an sebagian besar pesawat blok Timur diparkir di hanggar atau sama sekali dihapuskan. Akibatnya sangat fatal, Indonesia sebagai negara dengan angkatan udara terbesar di belahan bumi selatan perlahan tapi pasti pudar dan menjadi salah satu yang terkecil.

Pemerintah baru berpaling kepada negara-negara Barat untuk mendukung angkatan bersenjata dan pesawat "baru" mulai berdatangan terdiri dari T-33 pelatih dari USA (yang kemudian dimodifikasi oleh teknisi Indonesia untuk menjadi AT-33 dengan kanon internal dan ketentuan untuk membawa roket FFAR) dan Avon Sabres (ex-RAAF) dari Australia. Ini yang kemudian disempurnakan dengan Broncos OV-10F. Batch berikutnya datang dalam bentuk A-4E Skyhawk ex-Israel, Bae Hawk Mk. 53, F-5E / F Tiger II (di era 80-an), diikuti oleh B / F-16A, dan Hawk 109 & 209 (di era 90-an).

Aerobatic Tim

Aerobatic tim di Angkatan Udara Republik Indonesia tidak pernah dibentuk sebagai tim khusus, tetapi perjalanan sejarah panjang dari Angkatan Udara Indonesia itu ditandai saat beberapa aerobatic mereka tampilkan. Awal tahun 1962, beberapa MiG-17 menunjukkan beberapa acara aerobatic di depan para pejabat tingkat tinggi. (Lihat MiG-17 foto lebih lanjut di atas dalam artikel ini). Kemudian pada tahun 1978, Roh 78 menggunakan Avon Sabres dibentuk, diikuti oleh Roh 85 (1985) menggunakan 5 Bae Mk.53 Hawk.
Tradisi ini berlanjut ketika F-16 datang memaksa "Elang Biru" dibentuk dengan bantuan instruktur USAF's Thunderbirds. Elang Biru terbang beberapa tur, juga penampilan di Indonesia Air Show 96. Tim Jupiter yang dibentuk kemudian kurang dikenal, dengan menggunakan Hawk Mk.53 dan akhirnya berkembang menjadi tim aerobatic saat ini dikenal sebagai Blue Jupiter, menggunakan F-16, Hawk 53 dan Hawk 109.

Hari Bhakti TNI Angkatan Udara

Semboyan TNI-AU adalah bahasa Sansekerta Swa Bhuwana Paksa yang berarti "Sayap Pelindung Tanah Airku". Dengan tugas utama melindungi dan mendominasi ruang udara Indonesia serta seluruh wilayahnya. Jumlah personil 27,850 personnel dengan 346 pesawat. Jenis dan jumlah pesawat milik TNI AU lihat pada grafik 1, 2 dan 3.

Sesuai dengan UU TNI pasal 10, Angkatan Udara bertugas:
  • melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan;
  • menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi;
  • melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara; serta
  • melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara.

Peristiwa sejarah monumental yang selalu diperingati jajaran TNI AU tiap tahun adalah Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti TNI AU, dilatar belakangi oleh dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari pada 29 Juli 1947. Peristiwa Pertama, ketika pagi hari, tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Churen dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Peristiwa Kedua, jatuhnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan gugurnya tiga perintis TNI AU masing-masing Adisutjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo. Pesawat Dakota yang jatuh di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta itu, bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa oleh pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya. Penembakan dilakukan oleh dua pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang merasa kesal atas pengeboman para kadet TNI AU pada pagi harinya. Untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan ketiga perintis TNI AU tersebut, sejak Juli 2000, di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA (Ngoto) telah dibangun sebuah monumen perjuangan TNI AU dan lokasi tersebut juga dibangun tugu dan relief tentang dua peristiwa yang melatar belakanginya. Di lokasi monumen juga dibangun makam Adisutjipto dan Abdurachman Saleh beserta istri mereka.
 



(Dari berbagai sumber, data pesawat : wiki indonesia)

Niadesain.com

Senin, 18 April 2011

Kilasan Sejarah TNI AU (bagian 1)

Angkatan Udara Indonesia, yang dikenal sebagai TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara) atau sebelumnya dikenal sebagai AURI (Republik Indonesia Angkatan Udara) memiliki sejarah yang menarik dan perlu diapresiasi karena pesawat udara yang dioperasikan berasal dari negara yang berbeda, yang terdiri dari ex-Jepang, ex- Blok Timur dan pesawat dari negara Barat, sekaligus tidak sepadan bila harus menghadapi serangan udara Belanda.  

Pada Hari Bhakti TNI AU tanggal 9 April 2011 yang lalu, TNI AU telah berhasil membuat seluruh Bangsa Indonesia sangat bangga. Tim Aerobatic mereka telah menampilkan formasi-formasi yang menegangkan dan memukau. Sungguh sangat menegangkan dan sangat patut diacungi jempol seluruh rakyat Indonesia, di mana dalam formasi tersebut sayap-sayap pesawat yang diterbangkan hampir bersentuhan, hanya berjarak beberapa meter!
Pesawat Sukhoi Su-30MK2 Flanker TNI-AU
TNI AU Periode 1945 - 1950

Setelah Jepang menyerah pada akhir Perang Dunia II, sesudah melalui berbagai intrik dan bentrokan bersenjata, Bangsa kita di bawah kepemimpinan Soekarno menyatakan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Beberapa hari kemudian, Badan Keamanan Rakyat (BKR) dibentuk untuk melakukan tugas keamanan. Pada awal berdiri, Indonesia sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara. Badan Keamanan Rakyat yang dibentuk dalam sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945 bukanlah tentara sebagai suatu organisasi kemiliteran yang resmi. BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah wewenang KNIP dan KNI Daerah dan tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. BKR juga tidak berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan setempat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai peperangan menghadapi Sekutu.
Sebagian atraksi dari Tim Jupiter dan Tiga Sukhoi
Akhirnya, melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Oktober 1945 (hingga saat ini diperingati sebagai hari kelahiran TNI), BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 7 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian pada 24 Januari 1946, diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Karena saat itu di Indonesia terdapat barisan-barisan bersenjata lainnya di samping Tentara Republik Indonesia, maka pada tanggal 5 Mei 1947, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan untuk mempersatukan Tentara Republik Indonesia dengan barisan-barisan bersenjata tersebut menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penyatuan itu terjadi dan diresmikan pada tanggal 3 Juni 1947.

Sesudah Badan Keamanan Rakyat (BKR) re-organisasi untuk membentuk pasukan bersenjata formal dengan nama Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) dan selanjutnya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Dalam kesatuan tentara tersebut Angkatan Udara Republik Indonesia juga dibentuk. Sementara itu, ketegangan memuncak antara Indonesia dengan Belanda yang mencoba mengklaim kembali bekas koloninya. Belanda melancarkan serangan udara besar-besaran pada 21 Juli 1947, dan menghancurkan sebagian besar pesawat yang parkir di hanggar. Beberapa pesawat berhasil diselamatkan meskipun dengan menyembunyikannya di daerah basis terpencil.

Terbentuknya TNI AU


TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada 29 Juli 1947 tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Churen (2 K5Y1 Willows) dan satu Guntei (Ki-51 Sonia) berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Sebenarnya ada satu pesawat lagi yang sedianya akan diikutkan dalam missi itu yakni pesawat keempat, Hayabusha / Ki-43 Oscar, juga harus terlibat dalam serangan itu, tapi hingga saat serangan itu diluncurkan, pesawat tidak pernah mencapai kondisi layak terbang. Aksi ini menandai operasi udara pertama oleh angkatan udara kita yang baru lahir, sebuah missi udara yang sukses! Kendati bom pembakar dan berbagai missile yang dijatuhkan hanya berhasil memporak-porandakan beberapa bagian kota. Secara taktis, serangan ini tidak memiliki efek pada posisi Belanda, tetapi secara psikologis itu adalah sukses besar karena terbukti bahwa Angkatan Udara Republik Indonesia masih ada.
Semangat patriotisme dan cinta Tanah Air telah menggelorakan para kadet TNI AU kala itu, kendati hanya bermodalkan pesawat ex-Jepang yang tersebar di mana-mana, terutama di Pulau Jawa.

Pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Churen, Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Setelah keputusan Konferensi Meja Bundar tahun 1949,barulah TNI AU  menerima beberapa aset Angkatan Udara Belanda meliputi pesawat terbang, hanggar, depo pemeliharaan, serta depo logistik lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda yang diambil alih antara lain C-47 Dakota,B-25 Mitchell,P-51 Mustang,AT-6 Harvard,PBY-5 Catalina, dan Lockheed L-12.

Yang paling banyak dari pesawat adalah Kawanishi K5Y1 Willow pelatih, yang buru-buru digunakan untuk melatih kadet yang baru direkrut. Pada saat itu, hanya ada 1 orang Indonesia yang memegang lisensi pilot multi-mesin dari Flying School Belanda sebelum perang (tapi tidak pernah punya kesempatan untuk terbang selama pendudukan Jepang 3,5 tahun). Ia dibantu oleh beberapa pilot Jepang yang memutuskan untuk tinggal di negara yang baru lahir ini, yakni Indonesia. Lambang baru diciptakan hanya dengan lukisan putih di bagian bawah Hinomaru Jepang, yang mencerminkan merah & putih bendera Indonesia. (bersambung).

(Dari berbagai sumber, data pesawat : wiki indonesia)

Sabtu, 16 April 2011

Jurug Gue, Kembali Minta Tumbal Sepasang Kekasih

Sesosok mayat seorang wanita tersangkut di salah satu onggokan batang pisang, di pinggiran sungai Kedung Gondang, Desa Mlinjon, Sabtu (9/4) siang. Warga sekitar menjadi geger, beberapa orang berinisiatif untuk melaporkan penemuan tersebut kepada Kades Mlinjon, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek Jawa Timur, selanjutnya diteruskan ke Polsek Karangan.

Mayat wanita itu, pertama kali ditemukan oleh Mulyono (54) warga Desa Mlinjon. Ketika siang itu, dia dan beberapa 'sambatan'nya sedang mengobati padi di ladangnya yang terletak tepat di mana mayat tersebut ditemukan. "Begitu tahu ada mayat di situ, saya langsung memanggil teman-teman untuk melihatnya. Kami berusaha menggerak-gerakkan, namun jasad itu sama sekali sudah tidak bergerak", ujar Mulyono. Kemudian, dia bersama warga sekitar berusaha untuk mengevakuasi mayat dari lokasi dan meletakkannya di tepian kali yang lebih tinggi dan kering.

Setelah berada di tempat yang kering, kemudian warga berusaha mencari identitas yang mungkin ada. Ternyata mereka hanya menemukan handphone di salah satu sakunya. Karena handphone itu mati akibat basah dan tidak bisa dihidupkan, maka seseorang berinisiatif untuk melepaskan simcard-nya lalu dimasukkan ke dalam handphone milik warga yang hadir di situ. "Dari kartu itulah diketahui bahwa mayat wanita itu adalah warga Ngasem, Desa Karangan, Kecamatan Karangan. Karenanya, kemudian kasus ini dilaporkan ke Polsek Karangan, bukan ke Polsek Suruh," ujar Sururi (33) Kades Sukowetan yang berbatasan dengan
Desa Mlinjon.

Bersamaan dengan itu, beberapa warga yang lain menghubungi Kepala Desa dan selanjutnya peristiwa tersebut dilaporkan ke Polisi Sektor Kecamatan Karangan. Pada pukul 13.30 petugas dari Polsek Karangan, di dampingi dokter Puskesmas dan tim medis tiba di TKP langsung melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan kondisi mayat perempuan yang diperkirakan masih berusia antara 16 - 17 tahun, memakai celana hotpant jean berbaju kaos warna putih polos.
"Luka memar di batok kepala, dan pelipis tepat di atas matanya. Diduga adalah akibat benturan b nda keras. Sekujur tubuhnya tidak ditemukan luka sama sekali", demikian Dokter Puskesmas, Bambang, menjelaskan. Keterangan dari pihak kepolisian, mayat itu bernama Hesti Triasningrum, siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Suruh, berusia 16 tahun. AKP Sumianto, Kapolsek Suruh menegaskan tidak ada tanda-tanda penganiayaan. "Luka memar di bagian kepala diperkirakan akibat benturan batu kali ketika dia hanyat terbawa arus sungai," ujarnya. Dalam pada itu, polisi sudah menyampaikan berita kematian Hesti kepada keluarganya di dusun Ngasem, Desa Karangan.  Polisi kemudian mengevakuasi jasad korban ke Puskesman Karangan.

Sartono, Kepala SMPN 1 Suruh, mengatakan bahwa hari itu, Sabtu (9/4), siswa kelas VIII sudah dipulangkan lebih dahulu, yakni pukul 11.30. Namun  dia belum tahu, apakah Hesti hari itu bolos atau tetap mengikuti pelajarn. Informasi dari beberapa guru sekolah itu, Hesti akhir-akhir ini memang sering berulah ceroboh. "Tapi, kami tidak mengira bila dia ternyata harus mati secara tragis", ujar guru itu.

Keluarga Sangat Terkejut

Sugeng (43), ayah Hesti, mengaku sangat terkejut dan tidak percaya bila mayat yang ditemukan adalah anak gadisnya. "Saya bersama isteri tadi pagi sedang ke Dongko untuk mengantar keluarga yang lamaran. Sehingga tidak tahu, kalau Hesti tidak sekolah.Sebelum kami berangkat di sudah pamit mau sekolah mengendarai sepeda onthelnya", ujar Sugeng penuh nada pilu.

Hesti Triasningrum adalah anak pertama bagi Sugeng, sementara adiknya masih kecil. Menurut Sugeng, Hesti itu memang sedikit tertutup dengan keluarga. Kendati demikian, keluarga tahu kalau dia (korban) sudah menjalin hubungan dengan seorang pemuda beralamat di Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh. Mendengar anaknya mati karena jatuh di Jurug Gue, Sugeng langsung mengira anaknya telah dicelakai oleh pemuda yang diketahui Sugeng bernama Mukani (25) itu. Sugeng kemudian meminta kepada pihak Polsek Karangan untuk mengurusinya dan mencari informasi ke rumah orang tua Mukani. Menurut tetangga dekatnya, Sugeng memang tidak menyetujui jalinan kasih anaknya dengan Mukani, mengingat Hesti masih kecil dan di bawah umur.

Keluarga Mukani di Desa Ngrandu juga kaget. Ayah Mukani yang bernama Jadi, sudah mengetahui bahwa anak laki-laki itu berpacaran dengan Hesti. Bahkan keluarga tahu, bila Mukani pamit akan ke Jurug Gue bersama Hesti dengan mengendarai Yamaha Jupiter-nya. Terkait kemungkinan anaknya dituduh telah mencelakai Hesti, Jadi pun merasa ikut bertanggung. "Kalau memang anak saya yang sudah mencelakai Hesti, saya akan ikut bertanggung jawab. Hesti sudah saya anggap seperti anak sendiri," katanya, (9/4) sekitar pukul 19.30 WIB di rumahnya.

Hingga tengah malam, Mukani yang diketahui pergi bersama Hesti, tidak kembali ke rumah.  Sementara Sepeda motor Yamaha Jupiter milik Mukani sudah ditemukan, dititipkan di rumah salah satu warga dekat Jurug Gue. Keluarga Hesti tetap bersikeras, bila kemungkinan Mukani yang mencelakai Hesti. Sedangkan Jadi sekeluarga justru merasa sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang hingga dini hari belum juga diketahui rimbanya.

Mayat Mukani Ditemukan di Sukowetan

Pagi Minggu (10/4) pukul 08.11 WIB, ganti warga Sukowetan dibuat geger. Di dusun Dawuhan, tepat di tepian kali dekat komplek pemakaman umum, ditemukan sesosok mayak laki-laki dengan kondisi mengenaskan, sebagian jasadnya tenggelam ditanah walet (lumpur). Mayat itu memakai kais motif garis melintang hitam putih bertuliskan "Convert", celana jean dengan model sobek bagian lutut. Bagian wajah dikerumuni lalat hijau, namun mayat belum berbau busuk. Sementara di bagian kepalanya, tanda-tanda darah yang mengalir dari situ terlihat di tanah sekitarnya yang berwarna merah darah yang mulai mengering.

Andi (35) Kepala Dusun Tamtu, Desa Sukowetan, langsung menghubungi Kades Sukowetan, Sururi, dan berusaha untuk menjaga lokasi penemuan agar tidak diganggu warga sekitar. Menurut Andi, yang menemukan mayat itu pertama kali adalah Gudi (54), warga RT 21 Sukowetan. "Begitu ditemukan, warga langsung menghubungi saya, dan selanjutnya saya laporkan pada pak Sururi, kemudian beliau meneruskannya ke Polsek Karangan," ujar Andi.

Kades Sukowetan, Sururi datang lebih awal dari tim Polsek Karangan. Dia langsung menginstruksikan kepada semua warga untuk mensterilkan TKP dan melarang siapapun mendekati mayat. Ketika tim dari Polsek Karangan akhirnya tiba, bersama Kades Ngrandu, Suparni. Kedatangan tim ini memastikan, bahwa mayat yang ditemukan adalah Mukani (25), warga desa Ngrandu Kecamatan Suruh, teman kencan Hesti Triasningrum yang kemarin siang jasadnya sudah terlebih dahulu ditemukan.

Usai dilakukan pemeriksaan awal, jasad Mukani langsung dievakuasi ke RSUD Dr Sutomo untuk otopsi dan menentukan penyebab kematiannya. Keterangan sementara yang diperoleh dari tim Kecamatan Karangan, penyebab kematian kemungkinan besar adalah benturan di bagian kepalanya. Bagian punggung dan pinggul korban juga terdapat luka memar akibat benturan benda keras.

Tumbal Jurug Gue

Prigibeach.com berusaha melacak tragedi yang menimpa sepasang kekasih tersebut. Dari berbagai sumber yang masih simpang siur, dan nadanya hanya gosip yang sukar untuk dipertanggung jawabkan kebenarannya. Di antaranya yang mungkin bisa dipercaya adalah keterangan Suindiah (34), warga Mlinjon, katanya keduanya terlihat menuju sumber kali Kedung Gondang yang dikenal dengan sebutan Jurug Gue. Saat itu, masih sekitar pukul 9 pagi, dan cuaca sedikit mendung, katanya.

"Entah bagaimana tiba-tiba air kali mendadak meluap, ada air bah datang dari atas, jan orang sa'bain-ne (betul-betul tidak sewajarnya), tidak ada hujan deras, tiba-tiba ada banjir bandang", cerita Suindiah.
Bagi warga Sukowetan dan khususnya warga Mlinjon, terutama yang dekat Jurug Gue, kematian sepasang kekasih tersebut adalah pengulangan sebuah tragedi pada belasan tahun lalu. Menurut para sesepuh dua desa itu, Jurug Gue masih sangat angker. "Mbah-e (maksudnya, yang mbaurekso, penunghuni Jurug Gue/Red), sangat murka bila lokasi Jurug dijadikan tempat bermesum ria," kata banyak warga dan sesepuh desa. Menurut mereka, siapapun yang melakukan perbuatan mesum tatkala berwisata ke lokasi Jurug Gue, niscaya akan mengalami nasib yang serupa. Dan ini sudah terbukti beberapa kali. 

Dalam pada itu, ada pula sekelompok masyarakat yang memperkirakan pasangan tersebut ketika buru-buru akan meninggalkan lokasi karena ada banjir, tiba-tiba saja jatuh dan kemudian hanyut terbawa arus air. Akibat derasnya arus, keduanya tak mampu menguasai diri atau bahkan tidak bisa berenang, maka tubuh mereka terombang-ambing lalu membentur bebatuan sepanjang aliran sungai. Artinya, kematian mereka bukan karena tenggelam, melainkan karena kepala keduanya yang membentur-bentur bebatu kali.

Informasi dari pihak Polres secara resmi belum ada, namun  wacana yang diperkirakan masyarakat itu bisa saja benar bahwa penyebab kematiannya bukan dibunuh atau bunuh diri, melainkan karena hanyut dan benturan bebatuan. "Saat ini, polisi masih melacak dan menyelidik kasus itu sesuai prosedur. Untuk jelasnya silahkan tanya kepada Kapolsek atau kepada AKP Siti Munawaroh, Kabag Humas Polres Trenggalek," kata sumber itu yang enggan disebut namanya.

Apapun penyebab kematian, dan bagaimana kronologis pastinya, yang jelas Jurug Gue masih kukuh pada tradisinya yang tidak sudi lokasi seindah dan sealami Jurug Gue dikotori oleh hal-hal yang berbau mesum, sejak dahulu hingga sekarang, ujar seorang sesepuh yang bertempat tinggal tidak jauh dari situ.(Mah/Haz).

Niadesain.com

Rabu, 13 April 2011

Tiga Kebangkrutan Fundamental Anggota Legeslatif Kita

Moralitas bagi bangsa ini merupakan hal yang sakral dan selalu dijunjung tinggi. Lazimnya, nilai-nilai yang terkandung senantiasa dihubungkan dengan dogma-dogma agama dan kepercayaan setiap insan di Persada Nusantara. Karena itu, adalah hal yang tak terbantahkan apabila seorang pejabat publik, pejabat negara, wajib memiliki moralitas yang terpuji. Terlebih lagi bagi seorang anggota legeslatif, yang menjadi "corong" masyarakat yang memilihnya sekaligus wakil dan tauladan bagi rakyat.

Peristiwa yang terjadi di DPR-RI, Jum'at 8 April 2011 pukul 11.39 - 11.41 (WIB), di mana Arifinto anggota DPR dari PKS tertangkap basah camera Media Indonesia, ketika sedang asyik menikmati kontent pornografi, ternyata juga terjadi di kalangan aleg Trenggalek. Pada hari yang sama, pukul 22.07 WIB, salah satu anggota legeslatif DPRD Trenggalek berjenis kelamin laki-laki, telah digrebeg oleh warga Tulungagung di rumah seorang purel berjenis kelamin wanita. Aleg tersebut masih bujangan dan sang purel juga bujangan. Keduanya belum terikat dalam sebuah pernikahan, namun menurut warga sekitar yang menggrebeg, aleg tersebut sering menginap di rumah sang purel. Bila sepasang manusia berlainan jenis berada dalam suatu tempat, siapa makhluq di antara keduanya? Sudah tentu Syaithanirrojiim, yang gemar menggoda agar pasangan haram melakukan dosa-dosa besar.

Moral anggota dewan saat ini dinilai pengamat sudah banyak yang bobrok. Kasus politisi PKS Arifinto yang asyik menikmati adegan porno saat sidang paripurna, merupakan contoh kecil dari banyak kasus amoral lainnya. Mantan anggota DPR-RI, Permadi mengatakan, tidak sedikit anggota dewan yang sering berbuat cabul dengan sekretaris pribadinya di ruang kerja mereka.

“Saat menjadi anggota DPR saya sangat dekat dengan cleaning service. Mereka banyak yang cerita sering menemukan kondom bekas di ruangan anggota DPR saat hendak membersihkan ruangan,” kata Permadi kepada prigibeach.com melalui selulernya Senin (11/4). Permadi mengaku, waktu itu sering mendapat keluhan dari para sekretaris pribadi anggota DPR soal perilaku bos-bosnya tersebut.“Ada yang mengaku pernah diperlakukan tidak seronok oleh atasannya. Jadi, skandal anggota DPR dengan sekretarisnya tersebut bukanlah hal yang tabu. Ini sudah biasa terjadi,” tandas Permadi yang kini beralih dari PDI-P ke Gerindra.

Kasus Arifinto, hanya satu contoh dari sekian ribu kasus yang melibatkan wakil rakyat dalam berbagai tindakan asusila, amoral maupun kriminal. Tindakan oknum wakil rakyat tersebut sangat mencederai perasaan rakyat. Betapa tidak, di tengah derasnya sorotan terhadap kinerja para wakil rakyat, ternyata masih ditemukan tindakan amoral yang tak layak dilakukan pejabat publik atau pejabat negara. Berbagai kasus yang diteropong oleh Permadi menyebabkan dirinya tidak mau lagi mencalonkan diri menjadi anggota DPR.

Kasus Arifinto dan anggota DPRD Trenggalek, menjadi pembelajaran berharga, bahkan sangat berharga bagi konstituen agar tidak terkelabui dalam memilih wakil di legeslatif. Konstituen harus jeli menilik rekam jejak partai dan calon anggota legislatif sebelum menentukan pilihan politik. Tidak kalah penting adalah pembelajaran bagi anggota DPRD di daerah ini. Adalah fakta yang terang-benderang bahwa sebagian wakil kita sering mangkir sidang. Kalaupun hadir dalam rapat, sebagian di antara mereka lebih asyik ber-Facebook, atau mengobrol sesamanya di luar materi sidang dan bahkan terlelap dalam mimpi.

Masyarakat kita hingga saat ini masih mempertanyakan dan bahkan sulit sekali menemukan dan merasakan kinerja wakil mereka di legeslatif yang bekerja berbasiskan komitmen dan integritas. Publik lebih kerap menjumpai anggota DPR metroseksual yang lebih mengutamakan gaya dan wangi penampilan, tetapi nihil keprihatinan sosial. Justru mereka kian lupa diri (kemaruk) sehingga ada jurang yang menganga antara aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat dan materi persidangan dewan. Kasus penggrebegan purel bersama aleg kita, hanyalah sebuah puncak gunung es yang terlihat di lautan persoalan di lingkungan DPRD.

Perlu ditegaskan, melalui Obrolan CahNdeso ini untuk menggarisbawahi betapa telah terjadi kebangkrutan moral anggota dewan kita. Bukan sembarang kebangkrutan moral karena yang menonton video porno itu adalah anggota DPR dari PKS, sedang aleg Trenggalek yang digrebeg sedang mesum dengan purel anggota DPRD dari PKNU, partai yang berbasiskan nilai-nilai agama dan PKS yang paling gigih memperjuangkan lahirnya Undang-Undang Pornografi.

Kelakuan mesum dan asusila anggota dewan bukan hanya menunjukkan moral susila yang rusak, melainkan juga moral politik. Kasus itu menambah panjang daftar dekadensi anggota legeslatif dan politikus. Bukankah ada anggota DPRD kita yang masuk penjara karena korupsi? Bukankah amat banyak anggota DPRD yang gemar mangkir bersidang? Bukankah banyak keputusan DPRD produk transaksional? Bukankah hasil studi banding penuh dengan omong kosong? Pamit pada keluarga di rumah akan bersidang di dewan, tapi ternyata aleg kita itu mangkir sidang atau malah sedang tidak ada jadwal sidang,  dia pamit keluar rumah hanya karena harus hadir di cafe dan berkaraoke ria. Saat studi banding atau dinas ke luar kota, ada yang diam-diam dan sembunyi-sembunyi menghindari mata jeli wartawan, menelusuri tempat-tempat hiburan dan esek-esek. Pada bulan suci Ramdahan, banyak sekali aleg kita yang berjenis kelamin pria dan beragama Islam yang tanpa beban menikmati makanan dan minuman di siang hari dalam ruangan tertutup.

Semua itu jelas bukti DPRD mengalami kebangkrutan moral yang menggerus kepercayaan publik. Bahkan, tidak berlebihan untuk mengatakan sesungguhnya telah terjadi kebangkrutan kepercayaan dan kebangkrutan legitimasi terhadap DPRD. Tiga kebangkrutan yang fundamental. Lalu dengan dasar apa DPRD masih layak memutuskan kebijakan publik atas nama rakyat?

Kapankah masyarakat Trenggalek bisa sejahtera bila wakil mereka di Dewan berlaku mesum, korup atau tanpa malu-malu menodong birokrat untuk meminta jatah tiket perjalanan dinasnya.

Wallahu'alam bishawab.


Niadesain.com

Selasa, 12 April 2011

Politikus Muda PKNU “ndekemi” Purel di Tulungagung, Mateg Aji “Halimunan” Ketika Digerebeg Warga

Anggota  legeslatif di mata masyarakat Trenggalek adalah bak Cossanova atau bahkan dewa. Mereka dihormati dan disegani, dianggap perkasa dan punya kuasa untuk membantu sesama, memiliki etika tinggi dengan jiwa yang tawaddhu, patuh dan taat pada agamanya. Namun, ternyata ada banyak juga yang terbukti tidak layak menyandang penghormatan tersebut.  Salah seorang di antaranya adalah Agus Widiyanto alias Agus Samin, anggota DPRD Trenggalek yang terpilih pada Pileg 2009 yang lalu di bawah bendera PKNU.

Agus Widiyanto yang lebih populer dengan panggilan Agus Samin, anggota DPRD Trenggalek dari PKNU memang masih muda, ganteng dan gagah bak artis yang binaragawan. Penampilannya  flamboyan, ternyata tidak disukai oleh orang-orang disekelilingnya. Bagi mereka, boleh jadi aleg yang satu ini selalu necis dan bergengsi, tapi berbeda dengan  sikapnya yang angkuh dan “gembeleng” serta selalu merendahkan orang lain.  Selain itu, sering kali gonta-ganti pacar.  “Agus itu sombong dan sangat suka gonta-ganti cewek,” ujar Slamet Widodo, tetangga dekatnya.

Digerebeg Warga

Jum’at  sore (8/4), Agus berangkat dari rumahnya mengendarai mobil panther putih nopol AG-1377-YB menuju arah kota Tulungagung. Dia sudah ada dating dengan seorang purel atau pemandu lagu salah satu café di kota itu yang berinisial R alias W.  Kelincahannya menyetir mobil, membuatnya dengan mulus dan cepat tiba di rumah R alias W di Desa Rejoagung RT 07/RW 01, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Di rumah ini dia ditemui oleh orang tua R alias .  Keduanya berbasa-basi beberapa saat, sebelum kemudian datang R alias W, dan sang orang tua pun meninggalkan kedua sejoli itu berduaan.

Tanpa sepengetahuan Agus Samin, di luar rumah ada tiga orang pemuda warga Desa Rejoagung RT 07/RW 01 yang selalu memantau gerak-gerik pasangan tersebut. Sementara itu, tak jauh dari rumah itu, puluhan warga lain telah bersiap-siap menerima informasi dari tiga pemuda yang mengamati lokasi rendezvous Agus dan R alias W.  Setiap perkembangan yang terjadi di rumah tersebut, disampaikan melalui selular oleh salah seorang pemuda  yang memonitor kepada warga yang ada di tempat lain. Komunikasi berlangsung intensif, hingga pukul 22.00 WIB.

Pengurus RT dan warga setempat, memang geram menyaksikan tingkah polah politikus muda yang masih adik kandung pejabat teras di Pemkab Trenggalek itu.  "Warga marah lantaran dia kerap menginap di rumah perempuan itu tanpa izin. Padahal, mereka berdua bukan suami-istri," kata Ketua RT 07/RW 01, Wasit (37), Sabtu (9/4).

Lewat pukul 22.00 WIB Agus Samin tak kunjung keluar dari rumah, aksi massa pun mulai. Puluhan warga setempat langsung menyerbu rumah R alias W, mereka menyatroni rumah dan berusaha mencari keberadaan Agus Samin dan sang purel.  Namun usaha warga sia-sia. Agus Samin dan R alias W tidak berhasil mereka jumpai. Nampaknya, keduanya sudah lari terbirit-birit melewati jalan lain yang lepas dari pengawasan warga.

Warga yang marah langsung mengamankan Isuzu Panther milik Agus yang terpakir di halaman. Beberapa warga yang marah berniat memecahkan kaca mobil, namun dapat  diredam oleh perangkat desa dan Ketua RT Wasit.  Aksi anarkis bisa dicegah, dengan kesepakatan mobil akan digelandang ke Mapolsek Kedungwaru, atau terpaksa mereka sandera. "Akhirnya setir mobilnya kami gembok agar tidak bisa di dorong. Dia harus bertemu kami dan menjelaskan perbuatannya, kalau ingin mobil kembali," kata Wasit.

Sebelum kepergok, keinginan Agus untuk menginap di rumah pemandu lagu berinisial Ren, itu sebenarnya telah disampaikan ayah perempuan itu. Permintaan izin tersebut tidak dikabulkan. Wasit mengaku, dirinya waktu itu sudah mengingatkan agar Agus tidak menginap karena masih belum terikat pernikahan. Warga marah melihat ulah Agus yang belakangan kerap diketahui menginap di rumah R alias W. Peristiwa penggrebegan ini sudah dilaporkan ke Mapolsek Kedungwaru Tulungagung, dan masalah tersebut kini sedang dipelajari oleh pihak kepolisian Sektor Kedungwaru.

Playboy Tapi Banyak Hutang

Agus Samin yang masih bujangan dan belum pernah menikah ini, di kalangan gadis dikenal sebagai sosok yang elegant dan charming. Hanya sayang, dia juga dikenal sebagai sosok pemuda yang royal dengan janji gombal dan sering bikin patah hati. Beberapa gadis yang pernah menjalin hubungan intim dengannya, bahkan sempat akan menikah, mengaku terpaksa menerima nasib ditinggalkan oleh sang Arjuna. “Menurut saya itu lebih baik, daripada sakit hati ketika sudah menjadi isterinya kelak,” aku salah seorang gadis tersebut.

Sejak peristiwa penggrebegan Agus menghilang bagai ditelan bumi. Saat dicari di kantor dewan, Agus bolos, ketika didatangi di rumahnya, Dusun Jarakan, Desa Karangsoko, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek, Senin (11/4), yang bersangkutan tidak ada di rumah. Namun menurut beberapa tetangga, Agus memang jarang di rumah. Pasalnya, Agus terbelit hutang dan kerap dicari penagih. Hutang tersebut dipakai Agus saat magang caleg DPRD Trenggalek dari partai PKNU.

“Saya tidak tahu kalau dia punya hutang, namun setahu saya memang sering ada orang yang mencarinya ke rumah. Dia jarang ada di rumah, barangkali memang menghindari tamu-tamu yang datang mencarinya”, kata Slamet Widodo yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah Agus. Barangkali mereka memang datang untuk nagih hutang yang dipakai Agus untuk magang caleg tambahnya.

Suka Bolos

Selain suka gonta ganti perempuan, Agus ternyata juga tukang bolos di kantornya. Dan kini, Dewan Syuro Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKNU Trenggalek merencanakan untuk mencopot keanggotaan Agus dari DRPD Trenggalek. Perilaku Agus yang suka bolos di DPRD Trenggalek sudah menjadi rahasia di kalangan sekretariat dewan. Para staf di gedung wakil rakyat ini sangat paham, jika Agus adalah anggota dewan yang jarang hadir. Menurut salah satu staf administrasi, dalam seminggu Agus kadang cuma hadir  2 hari saja. Bahkan jika tidak ada agenda persidangan, Agus kerap tidak ngongol. Kalau pun menginjakan kaki di kantor, biasanya hanya untuk kepentingan absensi.
   
Hal senada juga diungkapkan rekan sesama anggota DPRD Trenggalek. Keterangan salah satu anggota fraksi Karya Nasional, tempat partai Agus bernaung, menurut aturan anggota yang bolos dalam rapat sebanyak 6 kali berturut-turut akan ditindak oleh BK (Badan Kehormatan). Namun biasanya Agus mengakali aturan tersebut dengan bolos setiap 5 kali rapat. Pada rapat ke-6, yang bersangkutan selalu hadir sehingga lepas dari sanksi dari BK. “Kalau tukang bolos, siapa pun di gedung ini (DPRD) juga tahu. Tapi dia selalu mengakali aturan, sehingga tidak pernah kena sanksi,” ujar salah satu rekan Agus yang tak mau disebut namanya.
   
Ketua BK DPRD Trenggalek, Suyatno tidak menjawab tegas jika Agus memang gemar bolos. BK pun tidak pernah menerima laporan dari fraksi tentang perilaku Agus. Namun lewat pembicaraan antar sesama anggota, BK menerima masukan. Suyatno menegaskan, BK akan membahas masalah perilaku Agus secara khusus dalam minggu-minggu ini. “Dalam minggu-minggu ini akan kami rapatkan dulu di internal BK. Terserah bagaimana nanti keputusannya,” ujarnya.
   
Dewan Syuro PKNU Marah

Sementara Ketua Dewan Syuro DPC PKNU Trenggalek, KH Ali Ridho, saat dikonfirmasi mengaku sangat malu. Beberapa kali pengasuh Pondok Pesantrena Subulus Salam, Desa Melis, Kecamatan Gandusari, Trenggalek,  ini mengucap “Masyaallah” saat berbicara mengenak Agus Widiyanto. Menurutnya, partai telah kecolongan dan kemasukan kader yang tidak berkualitas.

Ali menegaskan,  kasus ini akan menjadi pelajaran,  dia akan mengusulkan lewat mekanisme partai, agar Agus dicopot keanggotaannya dari DPRD Trenggalek. Sebab menurutnya, Agus telah mencemarkan nama baik partai. “Masih banyak kader partai yang berkualitas dan bermoral baik. Akan saya usulkan agar dia segera diganti,” tegasnya, saat ditemui di pondoknya.
   
Mengenai perilaku Agus, Kyai Ali tidak membantah jika Agus memang kerap terjerat masalah perempuan. Setidaknya sudah 2 kali Agus diperingatkan pengurus partai agar merubah sikapnya tersebut. Namun nyatanya Agus malah digrebeg warga saat menginap di rumah perempuan yang bukan istrinya. Ali mengaku pertama kali mendengar kabar tersebutlangsung memerintahkan utusan untuk mengecek kebenaran kabar tersebut. Lewat utusan tersebut akhirnya didapat laporan, jika Agus memang digrebeg warga. Kabar tersebut segera menyebar di kalangan kader partai.

Masih menurut Ali, kader yang berada di daerah pilihan 4, meliputi Munjungan, Dongko dan Panggul marah mendengar perilaku Agus. Bahkan mereka sudah menyatakan hendak mengerahkan massa untuk mendemo Agus. Namun hal tersebut berhasil dicegah dan akan diselesaikan lewat mekanisme partai. “Kalau tidak saya cegah, kader pasti akan melakukan gerakan massa, mendemo Agus,” katanya. Selanjutnya Ali menyatakan permohonan maafnya kepada masyarakat.  “PKNU sudah kecolongan karena memilih Agus menjadi anggota DPRD Trenggalek, nyatanya tidak mampu membawa amanah.  Saya atas nama seluruh warga PKNU memohon maaf,” katanya. (prigibeach.com).

Niadesain.com

Sabtu, 09 April 2011

Selusur : Gerbong Mutasi Masih Digulirkan, Adakah MK Berupaya Memperkuat Jaringan?

Sejak menjabat Bupati Trenggalek, Jawa Timur, H. Mulyadi WR, sudah 3 kali melakukan rolling pejabat publik di daerah ini, plus pemutasian dan pengangkatan Kepala Sekolah secara massal. Rolling terakhir dilakukan H. Mulyadi WR kemarin Rabu (6/4). PNS yang dimutasikan sebanyak 36 orang, yakni 6 pejabat eselon III, 28 eselon IV dan 2 orang eselon V.

Tepat 25 hari sesudah dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati, MK (Mulyadi dan Kholiq), sudah menunjukkan kesungguhannya untuk mereformasi birokrasi di daerah ini, mutasi massal pertama digulirkan tanggal 28 Oktober 2010. Sebelumnya, pada Rabu (13/10-2010), Mulyadi dalam wawancara dengan prigibeach.com, di ruang kerja sementara-nya, menegaskan bahwa pemerintahannya memang bertekad mewujudkan good government dan clean government, demi meningkatkan pelayanan terhadap segenap lapisan masyarakat.

Beberapa masalah yang saat ini terjadi di pemerintahan Kabupaten Trenggalek perlahan harus dibenahi. Amburadulnya sistem birokrasi saat kepemimpinan Bupati sebelumnya menjadi PR terberat mantan Irwil Propinsi Jatim itu. Mulai dari akuntabilitas laporan dinas-dinas, sampai program apa saja yang sudah terlaksana mapun yang belumt. Menurut Mulyadi saat itu, beberapa keputuskan pemerintah Kabupaten sengaja ditindak lanjuti dengan pemaparan para pimpinan SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) agar dalam visi-misinya tidak ada hambatan. "Yang baik kita lanjutkan, yang kurang kita benahi dan yang belum akan kita laksanakan" Tegas Bupati Mulyadi hari Rabu (13/10-2010) sekitar pukul 11.30 WIB.

Orang No 1 di Trenggalek tersebut membantah pelaksanaan evaluasi itu adalah dalih untuk memperkokoh jaringannya. "Kita tidak bicara masalah mutasi, sekali lagi ini bagian dari pemetaan terhadap eselon agar memudahkan tugas saya dalam melaksanakan visi-misi, sehingga tidak ada benturan antara visi-misi dengan APBD yang pro-Rakyat," imbuhnya.

Bahkan dengan ramah Bupati yang juga pernah menduduki kursi Bupati Trenggalek periode 2000-2005 itu menfilosofikan kinerja aparaturnya dengan "Ibarat naik harus lewat Lift , tetapi turun harus pakai tangga". Artinya akselerasi pembangunan di kabupaten Trenggalek harus secepatnya dilakukan dengan seiring sejalannya arah kebijakan yang pemimpin terapkan, sambil mengevaluasi ke bawah dengan menuruni tangga untuk melihat kelemahan mapun kekurangan dari kinerja itu.

Sebelum menggulirkan mutasi pejabat eselon II s.d V, masyarakat yakin, H. Mulyadi WR dan Kholiq sudah melakukan evaluasi dan menjaring berbagai informasi dari segala penjuru. Itulah sebabnya, kendati ada pejabat eselon II yang sebelumnya berprestasi dan memperoleh penghargaan kinerja, justru juga dimutasikan. Itulah yang terjadi, bila diteropong ternyata kinerja sang pejabat justru menghambat laju pertumbuhan perekonomian dan meremehkan faktor pelayanan terhadap masyarakat.

Pada mutasi pertama 226 pejabat, terdiri dari 21 pejabat eselon II, 71 pejabat eselon III, 137 pejabat eselon IV dan 7 pejabat eselon V, dirolling dan diangkat yang baru. Rolling kedua Rabu (16/2-2011) dilantik 74 orang pejabat struktural eselon V hingga eselon II. Dari 74 pejabat tersebut, 7 orang diantaranya pejabat eselon II dan 16 orang pejabat eselon III, 48 orang pejabat eselon IV dan 3 orang pejabat eselon V. Mutasi ketiga dikhususkan untuk lingkungan dinas pendidikan, 141 Kepala Sekolah dilantik, Senin (7/3-2011). Mereka adalah 116 orang Kepala Sekolah Dasar (SD), 19 orang Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 6 orang Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA). Tepat satu bulan kemudian, yakni 6 April 2011, gerbong mutasi menggelinding lagi membawa 36 orang, yakni 6 pejabat eselon III, 28 eselon IV dan 2 orang eselon V.

Tidak Ada Alasan Politis

Jika mencermati para pejabat yang dimutasi oleh MK, barangkali ada yang berpikir bahwa alasan peluncuran gerbong rolling pejabat PNS sejak yang pertama, hingga terakhir adalah bersifat politis. MK bukan saja berniat mereformasi birokrasi, namun juga demi memperkuat jaringan mereka. Beberapa tokoh yang enggan disebutkan namanya, yang menjadi korban rolling, merasakan itung-itungan MK adalah untuk menetralisir dan meredam para pendukungnya dikala Pilkada Juni 2010 lalu. Setidaknya begitulah politik citra dari seorang Bupati, katanya.

Disisi lain, bila kita mau bersikap obyektif dan netral, H. Mulyadi WR dan Kholiq mengatakan bahwa mereka akan mereformasi birokrasi baik melalui sistem dan prosedur maupun tahapan evaluasi dan managerial. Setiap tahun -atau bahkan hitungan bulan- akan ada evaluasi sampai tahapan rolling pejabat. Mari kita telusuri aktivitas MK selama enam bulan memerintah daerah ini. Hampir tiada hari tanpa tatap muka dengan masyarakat kecil. Keduanya dengan seksama dan hati-hati, berusaha untuk mengikuti dan menjaring setiap aspirasi masyarakat. Tatkala ada kasus seseorang yang dikenal sangat dekat dengan MK, akan mengurusi ijin usaha, namun pelayanan pihak KPPM dinilai lambat, sehingga menyebabkan seseorang itu akan menggugat sistem perijinan di Trenggalek melalui PTUN, maka dengan segera Mulyadi merespon dengan memberikan teguran keras kepada Kepala KPPM.Teguran keras dilontarkan bukan karena si-pencari ijin usaha kenal dekat sama MK, melainkan memang birokrasi di KPPM saat itu sangat "njelimet".

Kasus terbaru, menyangkut SPBE yang belum memiliki AMDAL, dan sang pejabat mengekspos masalahnya melalui media tanpa lebih dahulu melakukan mediasi dengan pihak pemodal, H. Mulyadi pun seketika menanggapinya dengan positif. Teguran keras dilontarkan, sang pejabat langsung dimutasi.  MK sangat mahfum, bahwa daerah ini membutuhkan kerjasama yang baik dengan pemilik modal dari luar daerah maupun lokal. Bila pelayanan terhadap mereka tidak dibarengi dengan senyum, bagaimana kita bisa lebih mempercepat putaran roda kesejahteraan masyarakat?

The Man Behind The Gun

Jika benar perubahan personil para pejabat publik tersebut didasarkan pada alasan politis, maka perubahan yang dilakukan MK tidak akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Bagi masyarakat ini tidak ada untungnya, hanya menimbulkan kegaduhan politik, dan terbengkalainya pembangunan fisik maupun non fisik. Bersamaan dengan itu, KKN akan tetap berproses kearah yang lebih eksis.

Dalam berbagai kesempatan baik Mulyadi maupun Kholiq menegaskan, rolling dan pergantian pejabat dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja SKPD. Evaluasi mereka lakukan dengan cara-cara yang sistematis dan terprogram. Dan penetapannya juga berdasarkan keputusan Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan) Kabupaten Trenggalek. Dari sini dapat dinilai bahwa mutasi dilakukan demi merasionalisasi setiap SKPD, dengan mengganti pejabat yang dianggap kurang mampu.

Ada tiga kemungkinan pilihan mutasi, pertama dan yang paling aman adalah memutasi pejabat tertentu dan menggantinya dengan calon dari lingkungan SKPD itu sendiri, yang dianggap memiliki kapabilitas dan profesional. Kedua, merampingkan struktur yang terbukti tak efektif dengan mengurangi beberapa unit satuan tugas tertentu atau sekaligus menghilangkannya dari struktur, atau menambahkan unit pelaksana baru. Ketiga, mengganti pejabat berdasarkan penilaian kompetensi yang diukur secara internal melalui badan pengawasan seperti Inspektorat, BPK dan penelitian Baperjakat.

Dari tiga pilihan mutasi yang ada itu, tetap saja ada penekanan khusus kepada para pejabat yang dilantik. Azas demokrasi yang dianut pemerintahan daerah ini dalam menetapkan pejabat publik, dibawah kepemimpinan MK bukan hanya dipengaruhi oleh Baperjakat, namun -yang barangkali lebih di kedepan MK- adalah nilai manfaatnya bagi kemajuan dan percepatan pemerataan pembangunan dan penyejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, jangan heran, bila dalam tiga atau empat bulan sekali MK akan melakukan rolling setiap pejabat yang dianggap "banci", dan tidak mengerti istilah The Man Behind The Gun is Pro-Rakyat.

Infrastruktur Dukung Reformasi Birokrasi

Setangguh apapun seorang pimpinan dalam sebuah SKPD dan pejabat di bawahnya, pengaruhnya terhadap kinerja para stafnya tidak akan mencapai 100 prosen. Ibarat seorang nakhoda yang mengemudikan sebuah perahu di tengah badai, dia membutuhkan perahu yang kokoh, dengan perlengkapan dan persiapan ransum yang sesuai.

Begitulah kinerja para pejabat publik yang memiliki banyak staf dan unit pelaksana di wilayah kecamatan. Ambillah contoh, Dinas Pendidikan Trenggalek, adalah sebuah instansi yang menggunakan APBD dan APBN terbesar di daerah ini. Namun, bila kita masuk ke lingkungan kantornya, sungguh memilukan! Para staf bekerja berjejal-jejal di antara tumpukan berbagai arsip dan dokumen penting. Suasana dan design interiornya sudah payah, sementara bila hujan turun ada beberapa bagian atap gedung yang dirembesi air hujan. Kondisi tersebut bukan karena kurang pengaturan, nampak jelas adalah akibat sempitnya ruangan padahal volume tugas dan bundelan file setiap hari selalu bertambah.

Demikian pula kantor-kantor instansi lain atau Unit pelaksana teknis dari berbagai SKPD. Rasanya sudah banyak yang perlu untuk segera direnovasi atau bahkan ada yang semula belum punya harus dibangun yang baru. Termasuk infrastruktur jalan, sarana transportasi yang menghubungkan antar wilayah kecamatan, dewasa ini, sangat-sangat parah kondisinya.

Reformasi birokrasi tidak seratus prosen mendukung akselerasi pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, apabila insfrastruktur kondisinya masih jalan di tempat. Terlebih lagi bila ransum untuk para PNS yang diwujudkan dengan uang LP hanya cukup untuk membeli secangkir kopi susu per-hari. 

Wallahu'alam bishawab.
Niadesain.com

Jumat, 08 April 2011

Pejabat Publik Butuh Keamanan dan Kenyamanan

Ada iklan berbunyi : Tidak puas dengan satpam/seucrity? Kami solusinya! Satpam, Security, Pengawal, Bodyguard profesional siap kami tempatkan di dekat Anda, di Kantor, Pabrik, Mall, Rumah, Pejabat, Artis, Pribadi, dll. Khusus Anda yang peduli kualitas bukan hanya harga!

Itu salah satu iklan biro penyedia jasa pengawalan (bodyguard alias centeng) yang dipajang di banyak media cetak dan elektronik di berbagai kota besar di Indonesia. Biro penyedia jasa pengawalan menjadi trend usaha sejak reformasi bergulir dan kran demokrasi dibuka. Ketika rasa aman menjadi kebutuhan, jasa centeng ternyata kian bisa dikomersialkan. Bisnis jasa keamanan, marak sekali sejak peristiwa Mei 1998. Kerusuhan bernuansa rasial yang begitu mencekam itu telah membuka mata banyak orang tentang keharusan melindungi diri dan keluarga tercinta dari segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Selama tiga belas tahun sejak Mei 1998, sudah menjamur perusahaan jasa keamanan, baik lokal maupun asing. Perusahaan itu mencakup penyedia jasa satpam (satuan pengamanan), peralatan, konsultan pengamanan, pengawalan, dan pendidikan. Beberapa perusahaan dimotori oleh pensiunan polisi atau tentara. Ada Laksamana Muda Purn. Yuswadji dengan Group 4-nya, Mayjen (Pol.) Purn. Hindarto dengan Nawakara Perkasa Nusantara -lebih beken dengan sebutan 911. Atau juga Mayjen (Pol). Purn. Jacky Mardono, yang menjadi penasihat Bravo Humanika Perkasa (BHP).

Centeng merupakan kata Betawi untuk menyebut penjaga rumah (pabrik, gudang) waktu malam hari. Selain itu juga berfungsi sebagai tukang pukul bayaran sekaligus pengawal pribadi. Pada umumnya mereka memakai baju kampret berwarna hitam dengan kancing jepret model baju sadariah dengan leher tali sepatu, atau lebih dikenal dengan daun tikim. Memakai celana pangsi hitam yang dilipat serta digulung sebagaimana memakai kain, karena celana ini bentuk atasnya tidak memakai tali atau karet sebagaimana celana kolor, beralas kaki sandal terompah. Dilengkapi assesoris cincin batu akik serta gelang bahar. Penampilan yang seram akan membuat bulu kuduk merinding saat berhadapan dengan sosok centeng atau bodyguard.

Bukan hanya di Trenggalek, di banyak daerah bahkan di Ibukota juga terjadi, seorang pejabat, baik ia bupati maupun wakil bupati, kepala dinas/instansi ataupun lembaga pemerintah, terpaksa menggaji centeng pribadi. Sekali lagi, para pejabat daerah ini terpaksa melakukan, bukan khawatir akan dirampok atau takut dianiaya oleh musuh-musuhnya. Ada efek psikis yang mengekor digelindingan era keterbukaan dan globalisasi, antara lain bergeliatnya kesewenang-wenangan, arogansi dan degradasi moral dengan topeng sok bersih. Inilah yang membuat para tokoh dan pejabat harus membatasi diri bukan saja dengan berbagai bentuk protokoler, namun juga dengan pengawalan khusus di luar satpam yang dikuatkan oleh aturan pemerintah.

Para pejabat hampir-hampir kehilangan waktu -jangankan untuk santai bersama keluarga di rumah- justru bisa jadi kalangkabut untuk melakukan tugas dan fungsi yang dituangkan dalam tupoksi, akibat kesibukan untuk menerima tamu-tamu yang sangat tidak mereka harapkan. Mereka adalah oknum-oknum yang bertujuan untuk "konfirmasi" hal-hal yang memang ada sangkut pautnya dengan kinerja kedinasan. Hanya sayangnya, terkadang penampilan dan aksentualitas para tetamu tersebut nampaknya cenderung dianggap momok oleh para pejabat publik. Sebab, diantara tetamu ternyata ada yang datang dengan mengharapkan sesuatu yang dibungkus "konfirmasi" atau bahkan "somasi".

Etika intelektual dan azas demokrasi bangsa kita sebenarnya tidak mengharapkan adanya pejabat publik yang memelihara centeng pribadi. Demikian pula adab kesopanan dan peraturan perundangan yang mengatur kinerja masyarakat pencari keadilan dan penegakan hukum. Undang-undang anti korupi, maupun undang-undang keterbukaan informasi yang memberikan keleluasaan partisipasi aktif masyarakat untuk menggerus para koruptor dan pejabat "tengik", sudah menata sistem dan prosedur aktivitas tersebut. Oleh sebab itulah, pemerintahan di era reformasi ini memberikan kebebasan pers dan keleluasaan masyarakat untuk membentuk berbagai lembaga yang berperan mengawasi pelaksanaan berbagai kebijakan publik.

Kita semua pada hakikatnya sangat tidak ingin kesejahteraan masyarakat terbengkalai hanya demi kepentingan segelintir golongan. Semua kebijakan pemerintah dan semua peraturan perundangan kita, bertujuan untuk mengangkat derajat bangsa dan masyarakat kita. Termasuk pemberian "kapling-kapling" kewenangan khusus kepada lembaga-lembaga di luar institusi pemerintah, seperti pers dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Namun, apabila kemudian terjadi sang pejabat "selingkuh", selanjutnya sang pencari "konfirmasi" dan pembuat "somasi" juga berpartisipasi, apa jadinya? Korupsi Kolusi dan Nepotisme akan kian marak, otonomi daerah hanya berbuah simalakama bagi rakyat jelata.

Alangkah manis dan segarnya "buah otonomi daerah", seandainya setiap komponen yang terlibat dalam upaya mensejahterakan masyarakat di daerah ini, bersikap tawaddhu, istiqomah dan sungguh-sungguh mengabdikan diri untuk rakyat. Tidak ada lagi pejabat publik yang harus menyisihkan anggaran bagi pengawal pribadinya, dan para pemilik kewenangan untuk konfirmasi dan membuat somasi meneguhi komitmen sesuai peran masing-masing.

Kerawanan bocornya anggaran dan ketidak-nyamanan para pejabat publik dalam melaksanakan tupoksi, akan menghambat akselerasi pembangunan di segala lini. Kegelisahan mereka (pejabat) akibat ulah segelintir oknum, justru bisa menjerat dan menciptakan sebuah jalur pintas lancarnya arus KKN. Kita harus bersimpati pada mereka yang sudah berniat dengan sungguh-sungguh untuk melasanakan tugas demi mensejahterakan rakyat. Adalah kewajiban semua warga masyarakat untuk tidak menjerumuskan mereka ke jurang petaka. Masyarakat Indonesia berkewajiban untuk mengawal reformasi agar berbuah manis bagi seluruh rakyat.

Mari kita bersama mawas diri, dan tetap bersikap bijak bestari.

Wallahu'alam bishawab.

Jumat, 01 April 2011

Gaddafi Bertengger di Ujung Tanduk Kekuasaan

Oleh : Munawar Saman Makyanie

Menlu AS Hillary Clinton (tengah) berbicara dalam konferensi pers di Kantor Urusan Luar Negeri dan Persemakmuran di London, Selasa (29/3). Lebih dari 40 pemerintahan dan lembaga internasional bertemu di London untuk merencanakan Libya tanpa Muammar Gaddafi, dengan Italia dan Inggris menyarankan ia bisa pergi ke pengasingan. (FOTO ANTARA/REUTERS/Stefan Rousseau/pool/djo/11)


Kairo (ANTARA News) - Tahta kekuasaan Presiden Libya, Muamar Gaddafi, kini berada di ujung tanduk, cepat atau lambat bakal terjungkal terutama setelah Konferensi Internasional London pada Rabu (30/3) yang secara terang-terangan mengambil keputusan: "pemimpin negara Afrika Utara itu harus meninggalkan negaranya!"

Konferensi yang dilaporkan diikuti 40 menteri luar negeri dan perwakilan dari organisasi-organisasi penting regional dan internasional itu, sepakat menghakimi nasib penguasa Libya, sang kolonel yang telah berkuasa selama 40 tahun.

Kepala negara yang gemar tidur ditenda-tenda secara berpindah-pindah dengan penjagaan ekstra ketat dan suka bicara lantang itu, tampaknya akan dipaksa untuk menerima "hukuman" itu.

Menlu Inggris, William Hague, selaku ketua pertemuan dalam pernyataannya menegaskan, bahwa para peserta konferensi London menyepakati peningkatan tekanan politik dan militer terhadap Muamar Gaddafi.

"Mereka sepakat Gaddafi dan pemerintah Libya yang dia pimpin telah kehilangan legitimasi dan semua tindakannya harus dipertanggungjawabkan", katanya seperti dikutip oleh kantor-kantor berita transnasional.

Rakyat Libya harus bebas untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Menlu Italia Franco Frattini mengatakan bahwa para peserta konferensi London dengan suara bulat menyepakati pemimpin Libya itu harus meninggalkan negaranya.

Keputusan itu diambil berdasarkan Resolusi 1973 DK PBB tentang zona larangan terbang yang memberi keleluasaan kepada negara-negara kuat untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu, guna menghentikan penguasa Libya membantai rakyatnya.

Dalam kaitan itu, peserta konferensi mengakui perlunya semua unsur warga Libya, termasuk Dewan Nasional Transisi Sementara, para pemuka suku, dan lain-lain untuk bersama-sama memulai proses politik inklusif, yang konsisten dan relevan dengan resolusi DK PBB.

Untuk itu, "Kami mengimbau masyarakat internasional untuk mendukung proses ini, bekerjasama erat dengan Perwakilan Khusus Sekjen PBB Abdel-Elah Mohamed Al-Khatib, termasuk aktor-aktor kawasan, khususnya sahabat Libya negara-negara Afrika dan negara-negara Arab tetangganya," kata Hague.

Konferensi juga menegaskan NATO akan mengambil alih kendali operasi di Libya.

Konferensi juga menyambut prakarsa Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk memimpin koordinasi bantuan kemanusiaan dan perencanaan dukungan stabilisasi jangka panjang.


Pengasingan

Pernyataan London tidak menyebutkan mengenai kemungkinan pengasingan Gaddafi. Tetapi menurut Frattini konsensus telah dicapai, bahwa peserta pertemuan menghendaki dengan suara bulat agar Gaddafi harus meninggalkan negaranya.

"Di luar itu, tergantung pada negara yang mungkin akan manawarkan diri untuk menyambut baik Gaddafi. Tapi hingga kini belum ada usulan resmi negara yang telah merumuskan rencana seperti itu."

Hengkangnya Gaddafi, menurutnya adalah prasyarat situasi Libya bisa dipecahkan.

Masalahnya adalah akankah Gaddafi menerima begitu saja hukuman yang dijatuhkan padanya oleh masyarakat internasional yang disponsori negara-negara besar itu.

Menurut pers setempat, Gaddafi masih mendapat dukungan sedikitnya dari sekitar 53 persen rakyatnya. Perlawanan dari kubu pro Gaddafi di kota Sirte merupakan salah satu bukti.

Selain di dalam negeri, ternyata pendukung Gaddafi juga bermunculan di luar negeri, termasuk di depan gedung konferensi London itu berlangsung.

Pada saat konferensi berlangsung, sejumlah aktivis pro-pemimpin Libya antara dari kalangan aktivis anti-perang memprotes konferensi internasional yang dicetuskan oleh pemerintah Inggris itu.

Gerakan Hentikan Koalisi Perang (STWC) mengatakan, sangat penting dunia melihat adanya oposisi besar di sini terhadap rencana mereka.

Sementara itu hasil jajak pendapat di Inggris mengenai intervensi memperlihatkan bahwa publik Inggris berbeda pendapat dengan pemerintahnya yang cenderung menggunakan tindakan militer.

Sekitar 53 persen peserta jajak pendapat setuju tidak bisa menerima tentara Inggris berada dalam bahaya cedera atau kematian hanya untuk melindungi pasukan oposisi Libya.

Berbagai media massa di Timur Tengah pada Rabu (30/3) melaporkan, pasukan pemberontak meninggalkan kota minyak Ras Lanuf setelah pasukan yang setia pada Muamar Gaddafi bergerak lebih jauh ke timur dan menggempur posisi-posisi pemberontak dengan roket-roket.

Pihak pemberontak, sebagiannya memang bersenjata senapan ringan dan mengakui kalah dalam persenjataan dan kekuatan militer pasukan Gaddafi.

Ada gagasan dari negara kuat untuk mempersenjatai pemberontak Libya.

Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan masalah mempersenjatai pemberontak tidak dibicarakan di London, dan menegaskan bahwa tafsiran Washington terhadap Resolusi 1973 DK PBB mengesampingkan hak mempersenjatai siapa pun di Libya.

Tetapi Menlu Prancis Alain Juppe dalam pertemuan Selasa menegaskan negaranya siap membahas dengan sekutunya terkait rencana memasok bantuan militer kepada pemberontak di negara Afrika Utara itu.

Sementara itu Menlu Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa Moskow beryakinan kekuatan asing tidak memiliki hak untuk mempersenjatai pemberontak di Libya atas dasar mandat DK PBB.

Sedangkan Sekjen NATO, Fogh Rasmussen mengakui operasi di Libya digelar dengan tujuan melindungi warga, bukan untuk mempersenjatai mereka.

Lavrov menyatakan sependapat dengan pernyataan Sekjen NATO tersebut.

Sebaliknya Liga Arab sebelumnya menegaskan pihaknya mengharapkan solusi politik dalam konferensi internasional di London bukan angkat senjata.

Liga Arab mengharapkan ada pemecahan politik untuk mengakhiri operasi militer di Libya, tegas Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab, Hesham Youssef menjelang keberangkatan ke London untuk menghadiri konferensi tentang Libya itu.

Gaddafi nasibnya berada di ujung tanduk, begitu juga nasib rakyat Libya, belum tahu bakal dibawa ke mana. (antara)



Catatan CahNdeso:

Sejak awal Kemerdekaan  hingga menjelang kejatuhannya, Bung Karno sudah memprediksi bahwa jaman akan dikuasai oleh kaum yang berideologi Neo-kolonialisme dan kaum kapitalis, yakni sekutu Inggris dan Amerika. Itulah sebabnya, Bung Karno kemudian mencetuskan sebuah organisasi Non-Blok, dan menentang segala bentuk penjajahan. Termasuk menentang Amerika dan Inggris. 

Setiap ada sumber daya alam yang berlebih, kaum kapitalis dan neo-kolonialis akan mempergunakan segala cara dan strategi untuk menguasainya. Mereka akan memakai baju HAM dan demokrasi, tapi nyatanya mereka sendiri dengan bengis membunuhi manusia warga negara lain, yang kelak nantinya mereka pun akan menjajah negara itu. Menguras semua sumber daya alamnya untuk mensejahterakan bangsa dan rakyat mereka sendiri. 

Setelah Irak dan Afghanistan, kini mereka menghancurkan kekuasaan para pribumi yang tidak taat pada Amerika dan sekutunya.  Sesudah Libya, akan ada korban lain lagi, barangkali Iran, dan bisa jadi Indonesia pun akan digilas bila tidak lagi bersedia memenuhi persyaratan kerja sama dengan mereka. 

Bagi saya, Sekutu dan tentaranya adalah wabah paling berbahaya. Tentara Amerika dan Inggris tidak lebih dari para barbar yang lebih mementingkan bangsa dan negerinya, ketimbang melihat bangsa lain sejahtera.  Mereka hanya bermuka manis, tatkala ada maunya.

Masyaallah....!
Niadesain.com

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (256) Artikel (222) Info (213) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (85) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (82) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (62) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Artikel-Copas (19) Selebritis/Tokoh (19) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (8) Fauna (8) Idul Fitri (8) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) lebaran (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top