Trenggalek Jelita (Cangkrug-ane CahNdeso): Sisi Mistis Tari Bedhoyo Ketawang, 9 Penari Wanita, Penari Kesepuluh Nyi Roro Kidul - Biografi Tokoh Nobel - Tokoh Indonesia - Lowongan Kerja, lowongan CPNS - Info Beasiswa - Dukung Palestina - Anti Zionist
Untuk Sukses, Persiapkan Diri Anda Sebaik-baiknya:

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)
Disclaimer
I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified. All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.
Thank You So Much All Guests and Blogger Friends
I greatly appreciate your kindness to visit my blog and, in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great deal of thing which will be useful for advancing our human values. For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on my Chat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.

Yours sincerely and best regard.
[CahNdeso]

Rabu, 13 Juli 2011

Sisi Mistis Tari Bedhoyo Ketawang, 9 Penari Wanita, Penari Kesepuluh Nyi Roro Kidul

7 Komentar
KRA.Bekti Harry Suwinto Adinagoro,SH
Kali ini kita akan coba membedah sisi Mistis Tari Bedaya Ketawang Keraton Surakarta Hadiningrat pada saat "Tingalan Jumenengan Dalem ISKS Pakoe Boewono XIII Gusti Hangabehi". Menurut kitab "Wedbapradangga" yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja Pertama dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul.
Sinuhunan  duduk di singgasana


Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan legenda ini dikenal. Namun demikian, legenda mengenai penguasa mistik pantai selatan mencapai tingkat tertinggi pada keyakinan yang dikenal  di kalangan penguasa kraton dinasti Mataram (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) bahwa penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul, merupakan "istri spiritual" bagi raja-raja di kedua kraton tersebut. 

Pada kala-kala tertentu, keraton memberikan persembahan kepada sang Ratu Kidul di Pantai Parangkusuma (gambar 1), KRA.Bekti Harry Suwinto Adinagoro,SH. melakukan "komunikasi" bathin di Cepuri, Bantul 3 hari sebelum Tingalan Jumenengan Dalem Keraton Surakarta bersama Juru Kunci. Cepuri adalah tempat Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul dahulu memadu kasih), dan/atau di Pantai Paranggupita, Wonogiri. Panggung Sanggabuwana (gambar 3) di komplek kraton Surakarta dipercaya sebagai tempat bercengkerama sang Sunan dengan Kanjeng Ratu. Konon,Sang Ratu (gambar 4) tampil sebagai perempuan muda dan cantik pada saat bulan muda hingga purnama. 
Panggung Sanggabuwana

Sebelum tari ini diciptakan, terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. Tarian Bedhoyo Ketawang (gambar 5) tidak hanya digelar pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga dipertunjukkan setiap tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Jumenengan Dalem".

Bedhoyo Ketawang tetap dipagelarkan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana ke-XIII Gusti Hangabehi, hanya saja sudah terjadi pergeseran nilai filosofinya. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang sekarang telah mengalami tranformasi pada berbagai aspek, baik aspek mistik maupun aspek politiknya. Bentuk tatanan pertunjukannya masih mengacu pada tradisi ritual masa lampau. Namun nilainya telah bergeser menjadi sebuah warisan budaya yang dianggap patut untuk dilestarikan.
Kanjeng Ratu Kidul
Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun.Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo". Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang Ageng, Kendhang Ketipung dan Gong Ageng. Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar, dua buah rebab benama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sebuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir.

Pertunjukan Bedhoyo Ketawang Sri Susuhunan Paku Buwana XIII dilakukan setiap 25 Rajab. Yang membuat Bedhoyo Ketawang menarik ialah terkandungnya hal-hal yang memiliki daya khas, misalnya saja setiap kali ada upacara peringatan ulang tahun kenaikan tahta, yang senantiasa diisi dengan pegelaran Bedhoyo Ketawang. Pada saat-saat itulah terasa sekali suasana yang lain daripada biasanya. Lebih-lebih bila tiba-tiba terdengar suara rebab yang digesek, mengiringi keluarnya para penari dari Dalem Ageng Prabasuyasa, menuju ke Pendapa Agung Sasanasewaka.

Tenang, sunyi dan hening !
Semuanya yang hadir diam. Kesembilan penari dengan khidmat berjalan dengan pandangan mata yang penuh kesungguhan dan sikap yang agung.

Setibanya di hadapan Sinuhunan yang duduk di singgasana (gambar 2), mereka duduk bersila. Tidak lama kemudian terdengar suara suarawati yang mengalunkan lagu, dengan kata-kata yang jelas terdengar:

“Raka pakenira sampun …” (“Kanda perintahmu sudah …dst.”)

Tari Bedhoyo Ketawang
Suaranya yang jernih, merdu merayu itu seolah-olah menembus serta menyusupi kepulan asap dupa yang membawa serta bau harum semerbak mewangi. Sementara itu asap dupa tak henti-hentinya mengukus, berarak menyelimuti seluruh ruangan pendapa agung. Dan suasana di sekitarnya makin hening, khidmat, terpengaruh oleh daya perbawa mistis, yang sukar untuk dilukiskan dan dijelaskan. Suara gamelan dan suarawati yang mengiringi tarian Bedhoyo Ketawang itu mengingatkan kita pada bait dalam Bhatarayuddha, yang melukiskan betapa meriahnya alam ini karena bunyi-bunyian alam.

Dan pada kesempatan ini untuk yang kesekian kalinya K.R.A Bekti Harry Suwinto Adinagoro,SH. bersama Pengurus dan anggota PUSAKA berkesempatan untuk berfoto bersama ISKS Pakoe Boewono XIII Gusti Hangabehi dan KGPH.Puger,BA setelah acara "Tingalan Jumenengan Dalem kaping VII" selesai. 

KGPH Puger adalah Pengageng Kasentanan Keraton Surakarta Hadiningrat. Beliau juga peramu minuman Salafresh yang sangat terkenal di Solo. Sungguh pelestarian Budaya yang sangat baik untuk ditiru dan dikembangkan khususnya di Kabupaten Trenggalek. Seperti kegiatan Hari Jadi yang selalu dilakukan Kabupaten Trenggalek setiap 31 Agustus. Kental dengan suasana Budaya Jawa.

Bersama Membangun Bangsa dengan Budaya!
Wallahua'lam....Amien...

(KRA.Bekti Harry Suwinto Adinagoro,SH, Redaktur Khusus Tabloid Mingguan dan Situs Berita Online prigibeach.com).

7Komentar:

Poskan Komentar

"Bila Anda berkenan, dengan segala kerendahan hati, penuh rasa hormat saya mohon, sudilah menuliskan komentar di sini; Bagi Anda yang berniat Copas konten blog, saya persilahkan, dan tolong link balik diikutkan. Terima kasih, Love and Peace".

 
Foto Saya
Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia
Seorang anak desa, tinggal di desa, hidup di desa, dan -InsyaAllah- dikuburkan di desa, lahir bulan Agustus, di Jawa Timur, Indonesia.
hostgator coupons

Back To Top