Sabtu, 31 Juli 2010

RJ Katamsi Martoraharjo, Pendiri ASRI

R.J. KATAMSI MARTORAHARJO, Seniman yang membidani lahirnya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta.  Pemikirannya mendominasi sistem pengajaran di ASRI.  Ia melahirkan siswa-siswa berbakat di bidang seni yang mampu meraih penghargaan di tingkat internasional.

R.J. Katamsi lahir di Karangkobar, Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 7 Januari 1897. Nama lengkapnya, RJ Katamsi Martoraharjo, cucu dari R. Ng. Sastropermadi yang konon berbakat melukis dan kalau benar demikian maka bakat itu menurun kepada cucunya.    Ia memulai pendidikan di sekolah desa selama tiga tahun.  Pendidikannya berlanjut ke Inlandsche School,  lulus tahun 1913.  Setamat IS ia hijrah ke Jakarta masuk sekolah Belanda hingga tamat tahun 1915.  Pada tahun yang sama Katamsi diajak asisten Residen Cilacap Jan Pieter Dom ke Netherland.  Di negeri kincir angin itu ia masuk ke sekolah seni rupa.  Setelah berhasil tamat dari sebuah akademi seni pada tahun 1922 Katamsi kembali ke Indonesia. 

Pada tahun 1923 ia menjadi guru menggambar di MULO Surakarta.  Tiga tahun berselang ia menjadi guru menggambar dan sejarah kesenian di AMS sekaligus di HKS.  Kesibukannya sebagai guru di Solo tak menghalangi langkahnya untuk menyelenggarakan kursus guru menggambar dengan ijasah A di Yogyakarta. Ornamen kerajinan perak di pusatnya Kotagede Yogyakarta juga mendapatkan sentuhan tangannya.  Para perajin perak menerima ornamen-ornamen baru yang disodorkan Katamsi. 

Katamsi juga bergiat di bidang pendidikan.  Berkat jasa-jasanya ia mampu meyakinkan pemerintah akan pentingnya didirikan akademi seni di Indonesia.  Gagasan itu terwujud dengan berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta pada tanggal 15 Januari 1950, dan Katamsi ditunjuk sebagai direktur pertama.  Jurusan yang ditawarkan beragam yakni seni rupa, seni kriya, seni reklame, dekorasi, ilustrasi dan grafika, serta guru gambar. 

Dua pemikiran Katamsi yang mendominasi sistem pengajaran di ASRI.  Pertama “proyek global” dan kedua “abklatsch” yang berarti pengambilan. Proyek global tidak mementingkan rincian dari obyek yang dihadapi tetapi mengutamakan kesan secara keseluruhan ditambah konsep pribadi.  Manfaatnya, dalam tempo singkat siswa mampu menyelesaikan pekerjaan secara utuh. Sedangkan “akblatsch” atau pengambilan adalah mengkopi bagian-bagian candi untuk kepentingan studi, pemugaran dan rekonstruksi.  Bahan yang digunakan kertas singkong, tanah liat dan gips.  Upaya ini dimaksudkan agar siswa menghargai seni rupa Indonesia kuno sebagai salah satu dimensi dari corak kebudayaan Indonesia.
Siswa-siswa Katamsi mampu meraih berbagai penghargaan dan prestasi di tingkat internasional.  Frans Harsono tiga kali berturut-turut (1954, 1955 dan 1956) meraih hadiah dari International Poster Contes of Human Education di Amerika Serikat (AS).  Edi Sunarso siswa bagian patung memperoleh hadiah kedua (Publik Ballet) dalam International Sculpture Competition di London Inggris dan meraih medali emas di India tahun 1953 dan 1957.  Lukisan karya Rusliati Arbidin dipamerkan oleh Division of Education Gallery Philadelphia Museum of Arts di AS tahun 1952.  Sutopo, siswa bagian reklame, memiliki rancangan gambar yang dijadikan perangko  Olimpiade India tahun 1951. 

Katamsi pensiun dari jabatannya tanggal 31 Maret 1959.  Semua ilmunya telah ia wariskan kepada generasi penerusnya di ASRI, kecuali Graphologi.  Graphologi adalah ilmu untuk mengetahui tabiat seseorang dari tulisannya.  Pada tahun 1975 Katamsi wafat. 

Ia sosok yang meninggalkan kesan positif bagi para penerusnya.  Berkat prestasi dan jasa-jasanya Katamsi mendapatkan berbagai anugerah seni yakni: Piagam Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; Piagam penghargaan dari Yayasan Reklame Jakarta;  Piagam penghargaan dari Reuni Pertama ASRI Yogyakarta; Penghargaan dari Kasultanan Yogyakarta.

Dari berbagai sumber. Foto: artmoko

Frederick Passy, Ekonom dan Aktivis Kemanusiaan

FREDERIC PASSY, seorang pengacara yang ahli ekonomi dan akvitis kemanusiaan Perancis. Ia terkenal sebagai orang yang mendirikan Masyarakat Perdamaian Perancis dan menjadi presiden yang pertama dari organisasi ini. Atas jasa-jasanya yang tinggi dalam ikhtiar mencegah perang dan konflik di antara negara-negara dan masyarakat internasional, ia berbagi Hadiah Nobel Perdamaian di tahun 1901 bersama pendiri Palang Merah Internasional, Henri Dunant.  

Frederick Passy lahir pada tanggal 20 Mei 1822 di kota Paris, Perancis. Ia menetap di ibukota Perancis ini selama umurnya yang panjang, 90 tahun. Ia berasal dari keluarga besar Passy yang tersohor sebagai keluarga birokrat selama banyak generasi. Pamannya, Hippolyte Passy bekerja sebagai menteri di bawah pemerintahan Louis Philippe dan Louis Napoleon. Setamat dari sekolah tinggi hukum, ia bergabung dengan birokrasi pada umur 22 tahun. Kedudukannya adalah akuntan di Dewan Negara. Tiga tahun berikutnya, ia ke luar dari korps pegawai negeri untuk mempelajari ilmu ekonomi secara intens dan sistematis.

Di tahun 1857 Passy muncul sebagai ekonom teoritis yang berkualitas melalui sekumpulan esainya yang tajam dan mengiris. Ia kemudian mengajar di Universitas Montpellier dari tahun 1860-1861 dan menerbitkan dua jilid buku mengenai topik politik-ekonomi yang kian memashurkan namanya sebagai cendekiawan Perancis. Passy tak hanya berteori tetapi juga terjun langsung ke dunia bisnis. Ia menjadi pengusaha ulet yang percaya bahwa perdagangan bebas pada akhirnya akan menali banyak negara ke dalam semacam korporasi bersama. Di bawah kontak seperti ini, negara-negara akan melucuti diri dari segala bentuk persenjataan dan kemudian meninggalkan perang sebagai sarana memperoleh kejayaan.

Pada waktu yang bersamaan, Passy juga terus memberikan kuliah di kota-kota dan universitas-universitas di Perancis seraya menggencarkan pandangan-pandangan politik-ekonominya melalui media penerbitan. Tak kurang dari sepuluh buku yang ia hasilkan dalam periode ini. Beberapa bukunya memperoleh sambutan luas dan  menjadi dasar pengangkatannya sebagai anggota Akademi Sains Perancis pada tahun 1877.

Sisi lain dari gagasan-gagasan Passy yang hebat adalah aksi-aksi riilnya yang hebat pula. Ia bukan cendekiawan penyendiri tetapi jenis manusia yang bertindak. Di tahun 1867, untuk mencegah perang besar antara Perancis dan Prusia, ia mendirikan Liga Internasional untuk Perdamaian Abadi. Saat liga ini tercemar oleh meruyaknya perang Perancis-Prusia di tahun 1870-1871, ia menatanya ulang dan mengubahnya menjadi Masyarakat Perancis Pro-persahabatan dan perdamaian. Di tahun 1889, ia kembali mengubah organisasinya menjadi Masyarakat Perancis bagi Arbitrase Antarbangsa.

Dilain pihak, Passy juga bergiat di tubuh pemerintahan. Ia terpilih menjadi anggota parlemen di tahun 1881 dan 1885. Posisi ini ia tinggalkan pada tahun 1889 setelah ia kalah dalam pemilihan. Selama berada di Parlemen, ia mendukung peraturan yang menguntungkan kaum buruh, terutama dalam konteks terjadinya kecelakaan kerja. Ia pun menentang politik kolonialisme Perancis, mengusulkan perlucutan senjata dan menyodorkan resolusi mengenai arbitrase perselisihan internasional. Usulan terakhir Passy dipicu oleh keberhasilan Randal Cremer menggiring parlemen Inggris mengesahkan resolusi yang mewajibkan Inggris dan Amerika menyelesaikan semua bentuk konflik di antara mereka melalui arbitrase, bukan hanya melalui jalur diplomasi biasa.

Pada tahun 1888, Cremer mengepalai delegasi yang terdiri dari 9 anggota parlemen Inggris dan kemudian bertemu dengan 24 anggota parlemen Perancis pimpinan Passy. Kedua belah pihak membahas arbitrase dan cara-cara organisasional untuk mewujudkannya. Satu tahun kemudian, sebanyak 56 orang anggota parlemen Perancis, 28 Inggris, serta para wakil dari parlemen Italia, Spanyol, Denmark, Hungaria, Belgia dan Amerika Serikat membentuk Uni Interparlementer dengan Passy sebagai satu dari tiga direktur pertamanya. Uni ini, yang tetap eksis sampai sekarang, mendirikan kantor pusat dan menggalakkan terbentuknya kelompok-kelompok parlementer informal yang mendukung legislasi menuju perdamaian, terutama melalui arbitrase.

Pemikiran dan tindakan Passy betul-betul menyatu. Perdamaian internasional merupakan tujuan hidupnya dan ia bergerak secara nyata ke arah tujuan itu dengan mengembangkan arbitrase internasional sebagai mekanisme untuk memecahkan perselisihan politik dan ekonomi antarnegara, memperbesar dukungan nasional terhadap Uni Interparlementer, membangun rupa-rupa badan yang inovatif serta menggalang kesadaran yang selaras di tingkat anggota masyarakat dan pemilih.

Melalui karya perdamaiannya yang luar biasa selama setengah abad, Passy menjadi terkenal sebagai “rasul perdamaian”. Tulisan-tulisannya mengalir dengan hidup dan tak pernah berhenti. Pada umur 87, ia sanggup merampungkan sebuah otobiografi yang menawan. Ia juga terkenal sebagai pembicara yang sangat berbakat. Suaranya kuat, gerak tubuhnya mengesankan dan sikapnya penuh keagungan dan martabat. Dengan semua kelebihan itu, ia dikenal sebagai orator yang selalu mampu membawa audiensnya ke arah kesadaran intelektual tertentu yang kondusif bagi ikhtiar mendamaikan dunia. Passy meninggal dunia pada 12 June 1912.

Dari berbagai sumber. Foto : nobelprize 

Penderita HIV /AIDS Di Trenggalek Meningkat

Kotaku yang terkenal dengan tepung Cassava ini sudah lama tidak punya "terminal cinta terlarang", yaitu sejak ditutupnya kompleks pelacuran "Ngebong" di Karangsuko, Kecamatan Trenggalek. Namun demikian, ternyata data terakhir yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek menyatakan bahwa penderita HIV/AIDS di kotaku meningkat.

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Namun, ada issu terbaru bahwa HIV/AIDS bisa  pula ditularkan melalui pakaian -utamanya celana/pakaian dalam. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan biasakan tukar-pakai (Jawa: lanjen) pakaian dalam dengan teman. Juga hindari pembelian pakaian-pakaian bekas, khususnya pakaian  bekas yang diimport dari luar negeri. Walaupun issu penularan melalui pakaian masih belum akurat kebenarannya, paling tidak untuk mempertinggi kewaspadaan. 

Pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Trenggalek tercatat pada Dinas Kesehatan, tahun ini (Januari-Juli 2010) ada 11 warga dinyatakan resmi mengidap HIV-AIDS. Jumlah tersebut naik seratus persen dari tahun sebelumnya. Sementara jumlah kasus terhitung sejak 2004 terdapat 44 kasus HIV/AIDS. Pada 2009 lalu, dilaporkan 10 warga positif terinfeksi HIV/AIDS, dengan rerata kenaikan 10 orang setiap tahun.

Dari 44 kasus yang saat ini ditangani Dinkes, tiga puluh penderita diantaranya adalah laki laki, empat belas sisanya perempuan. Dari jumlah tersebut, dua puluh penderita diantaranya meningggal dunia. Di mana salah satunya baru meninggal sekitar satu minggu lalu.

Diperkirakan, kasus HIV /AIDS di Kabupaten Trenggalek tahun ini meningkat dua kali lipat. Menurut penelitian pihak Dinkes Trenggalek penularan virus HIV/AIDS di daerah ini lebih banyak disebabkan perilaku seks bebas dan
kegemaran segelintir warga untuk bergonta ganti pasangan. Kalaupun ada penyebab lainnya, sangat minim. Hanya satu kasus HIV/AIDS yang penularannya melalui jarum suntik, itupun karena dia pemakai narkoba.

Penderita  HIV/AIDS yang terdaftar hampir semuanya pernah bekerja di luar Kabupaten Trenggalek. Kebanyakan TKI, merantau di luar pulau, dan yang paling banyak berprofesi sebagai pelaut atau kerja di bidang pelayaran. Hal ini tidak mengherankan, sebab para pelaut, sopir truck antar  kota antar provinsi biasanya suka jajan sembarangan.

Sebagai tindakan antipasti, Dinkes terus melakukan pemantauan terhadap penderita HIV/AIDS yang sudah terdata. Serta memberikan konseling kepada keluarga penderita terkait masalah HIV/AIDS. Antara lain, jikalau yang terinfeksi suaminya, sang istri rutin harus menjalani tes darah tiap 6 bulan. Begitu pula sebaliknya. Kemudian Dinkes juga memberikan pengarahan kepada dokter maupun paramedis diseluruh Puskesmas di Kabupaten Trenggalek untuk selalu berhati-hati ketika menangani pasien. Khususnya, pasien dicurigai suspek HIV/AIDS.

Sebenarnya, penyakit kelamin jenis ini memang tidak ada obatnya atau belum ditemukan. Tuhan menciptakan HIV/AIDS, merupakan rahmat dan petunjuk bagi manusia, agar menghindari hubungan sex di luar aturan agama. Bagaimana pun, mengamalkan tatanan agama adalah pilihan yang terbaik untuk menikmati kehidupan di dunia ini. Masalah ada tidaknya hidup sesudah mati, menurut saya itu urusan nanti. Bukankah ajaran agama yang diamalkan oleh setiap pemeluknya memang bertujuan untuk melindungi diri sendiri dan mengamankan jalinan persaudaraan antar manusia?

Andre, Bocah Empat Tahun Ditemukan Polres Trenggalek

Seorang bocah yang diperkirakan berusia kurang lebih 4 (empat) tahun telah ditemukan oleh awak Bus Antar Kota Dalam Propinsi Jurusan Surabaya-Trenggalek. Bocah tersebut pertama kali ditemukan oleh Suparno, kondektur Bus Rukun Jaya, dan kemudian diserahkan ke Pos Polisi Sektor Bendo.

Menurut keterangan saksi, bocah tak dikenal itu naik bus dari terminal Trenggalek menuju ke Tulungagung untuk menemui kedua orang tuanya. Sesampainya di terminal Tulungagung ternyata orang tua bocah itu tidak ditemukan, karenanya dia balik naik bus tujuan Trenggalek. Kondektur yang merasa curiga lalu menanyai yang bersangkutan; karena khawatir akan keselamatanya kondektur lalu menurunkannya di Pos Polsek Bendo . Oleh petugas, bocah itu dibawa ke Polres Trenggalek, dan sekarang masih berada di Mapolres Trenggalek.

Ketika ditanyai petugas, bocah itu mengaku bernama Andre, sedang ayahnya bernama Slamet Kirut dan ibu bernama Suminah. Ujar Andre dia dan keluarganya berdomisili di wilayah Blitar. Namun demikian, petugas Polres masih belum bisa memastikan, sebab setiap kali ditanyai, jawaban Andre selalu berubah-ubah.

Ciri-ciri fisik bocah yang mengaku bernama Andre ini kulit sawo matang, rambut lurus, betuk wajah oval, saat ditemukan mengenakan koas warna kuning, celana traning warna biru. Lebih jelasnya dapat dilihat pada fotonya. Petugas berencana akan menyerahkan bocah terlantar tersebut ke panti asuhan Kabupaten Trenggalek, dan akan berkoordinasi dengan beberapa lembaga terkait seperti Dinas Tenaga Kerja Trasnmigrasi dan Sosial Kabupaten Trenggalek.

"Kalau memang orang tuanya tidak ada, akan kita titipkan di panti asuhan," jelas Kapolres Trenggalek AKBP Eddy Hermanto melalui Kasat Reskrim AKP Saiful Rohman sebagaimana dirilis prigibeach sembari menambahkan, "Untuk sementara kita tampung di Polres Trenggalek," ujarnya.

Kepada sobat-sobit, bro and sis, blogger di kawasan Karesidenan Kediri, sudilah kiranya menyebarluaskan penemuan bocah terlantar ini, sehingga "Andre" bisa segera bertemu dengan kedua orang tuanya.

Jumat, 30 Juli 2010

Anggota DPRD Trenggalek Study Banding Biaya KTP Ke Tenggarong?!

Foto : detik-detik pengambilan sumpah/janji anggota Dewan (26/08/2009).

Kemarin tanggal 27 Juli 2010, Komisi I dan Komisi II  DPRD Trenggalek berangkat ke Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Dua komisi ini memberangkatkan 21 anggotanya dengan agenda Kunjungan Kerja (Kunker) selama tiga hari sampai tanggal 29 Juli 2010.

Sejak dilantik pada hari Rabu, 26 Agustus 2009 yang lalu hingga saat ini (kurang lebih sebelas bulan), tercatat ada sekitar sepuluh kali anggota legeslatif kita ini melakukan kunjungan kerja ke luar daerah dan  luar pulau. Seperti diungkapkan oleh Sekretaris Dewan (Sekwan) Mahfud Effendi sebagaimana dilansir oleh media lokal prigibeach.com. "Ya, sekitar sepuluh kali dengan dananya mencapai Rp 900 jutaan itu," jelas Mahfud.

Walaupun sudah menghabiskan Rp 900 juta, namun anggaran yang disediakan dewan untuk urusan kunjungan kerja tahun anggaran 2010 kali ini masih sangat banyak. Yakni, Rp 2,3 miliar. Artinya, masih sisa 1,4 miliar lagi. Dan para legislator tersebut masih bisa nglencer sepuasnya. "Pagu anggarannya segitu," tambahnya.

Sementara untuk  21 anggota Komisi I dan Komisi II yang kunker ke Tenggarong total dana yang dikeluarkan Rp. 120 juta. Dengan rincian, masing-masing komisi yang anggotanya berjumlah sepuluh orang mendapat alokasi dana Rp 60 juta. Itu artinya setiap anggota dapat jatah Rp 6 juta.

Padahal kunjungan ke Tenggarong kali ini, tujuannya hampir sama dengan kunjungan anggota dewan sebelumnya, yakni,  seputar masalah biaya cetak KTP dan "ornamen administratif" lainnya. Ditambahkan Mahfud, seperti biasa dalam kunker ini, Komisi I serta Komisis II DPRD Kabupaten Trenggalek selalu  didampingi pejabat dari Pemkab Trenggalek.

Agenda yang disampaikan oleh anggota Dewan memang demikian, dan sekretariat dewan sama sekali tidak mengetahui atau barangkali juga sengaja tidak mau tahu, apa yang dikerjakan para wakil rakyat tersebut selama kunker. Sementara itu, ketika dikonfirmasi wartawan melalui telepon selulernya, Suyatno, anggota Komisi I DPRD Kabupaten Trenggalek mengakui bahwa dirinya bersama anggota dewan lain dari Komisi II tengah berada di Tenggarong. Hanya saja, dia tidak mengatakan apa kegiatan yang akan dilaksanakan di sana."Wah, saya dalam perjalanan ini, di Tenggarong sekarang," ucapnya, seperti dirilis prigibeach.com.

Bagi masyarakat awam seperti diriku, wajarlah bila mereka -para aleg- melakukan study banding ke daerah-daerah di luar sana. Namun, layakkah bila kegiatan semacam itu dilakukan setiap bulan, apalagi jika materi yang diangkat ternyata nilai bobotnya relatif rendah dan hampir sama pula topiknya? Bayangkan, dalam 11 bulan, mereka telah "pelesir" sepuluh kali. Asyik juga, darmawisata dibiayai rakyat jelata...!

Hmmmmmm.................. Study banding biaya cetak KTP ke Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur?! Sekalian saja diagendakan study banding biaya cetak sertifikat/piagam penghargaan Kunker Aleg, ke Manokwari.... transportasinya kan lebih mahal, Oiiii...

Kamis, 29 Juli 2010

Bakrie Award 2010 Ditolak Dua Nominatornya!

Dua nominator penerima Bakrie Award tahun 2010 menolak penghargaan tersebut. Kedua nominator Bakrie Award yang menolak penghargaan itu ialah : Daoed Joesoef mantan Menteri Pendidikan & Kebudayaan dan sastrawan Sitor Situmorang . Sebuah sikap  penuh dengan pekikan hati nurani yang menafsirkan arti dan nilai-nilai kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan kemerdekaan Republik ini. Bila Goenawan Mohammad sempat menyimpan penghargaan yang diberikan Freedom Institute, Bakrie Award selama hampir 6 (enam) tahun, maka Daoed Joesoef dan Sitor Situmorang belum sempat menyentuhnya sama sekali, langsung menolaknya!

Kasus Goenawan Mohammad memang berbeda dengan kedua  tokoh di atas. Goenawan Mohammad menerima penghargaan tatkala Lumpur Lapindo yang menyengsarakan ribuan manusia (tua muda, besar kecil, laki perempuan, hingga balita) itu belum terjadi. Sehingga, baru beberapa bulan lalu Goenawan Mohammad mengembalikan penghargaan tersebut kepada Freedom Institute yang menangani  Bakrie Award. Namun, dibalik semua itu, ada kesamaan sikap tokoh-tokoh ini, yakni: mereka lebih peduli pada nasib rakyat Indonesia ketimbang diri sendiri!

Bencana Lapindo terjadi saat bumi yang dieksplorasi kandungan minyaknya oleh PT Minarak Lapindo Jaya aktif menyemburkan lumpur panas 100.000 meter kubik tiap harinya. Melumpuhkan 19 Desa dari tiga kecamatan; Porong, Jabon, dan Tanggul Angin. Menyebabkan 14.000 KK kehilangan kehidupan normal dan masa  depan mereka. Akibat keteledoran perusahaan ini telah menenggelamkan 33 sekolah dan 6 pondok pesantren sehingga menelantarkan ribuan murid dan santrinya. Menyebabkan 15 orang meninggal, karena ledakan pipa gas yang disebabkan penurunan tanah setelah semburan dan 5 orang meninggal akibat gas beracun. Lumpur ini juga telah menyebabkan penyakit saluran pernafasan meningkat pesat di desa-desa tersebut.

Untuk semua kehilangan itu PT. Minarak Lapindo Jaya (MLJ) hanya memberikan ganti-rugi dengan membeli tanah, rumah, dan sawah para korban. Itupun seharusnya sesuai Peraturan Presiden selesai dalam dua tahun setelah bencana, namun hingga kini, baru 60 persen korban yang telah menerima ganti rugi ini. Bahkan tanpa  ada ganti rugi masalah kesehatan, pendidikan, sosial, dan pencemaran lingkungan.

Sementara harta kekayaan penyandang dana Bakrie Award sangat berlimpah, dengan nilai trilyunan rupiah. Siapa penyandang dana Bakrie Award? Tidak lain adalah Abu Rizal Bakrie, salah seorang terkaya di Indonesia, pemilik PT. Minarak Lapindo Jaya. Sebuah ironi yang kelak akan menjadi tirani psikologis terhadap nilai-nilai sosial dan budaya bagi kekokohan martabat Bangsa ini, bila masih juga ada tokoh yang dengan gegap gempita mau menerima Bakrie Award, sementara rakyat korban Lapindo masih banyak yang ditelantarkan. Tirani psikologis terhadap nilai-nilai sosial dan budaya bagi kekokohan martabat Bangsa, adalah sebuah bentuk kemunafikan untuk menjerumuskan opini dan nilai-nilai pateriotisme. Sebuah sikap yang identik dengan pola-pola kaum kapitalisme dan kaum penjajah.

Sebagai anak desa yang awam politik dan hukum, saya hanya mampu berdoa : semoga para tokoh yang sudah menerima Bakrie Award mau menata sikap dan hati nurani. Apalah artinya sebuah penghargaan, bila kesakralan pengorbanan para pahlawan kemerdekaan ternodai?! 

Para penerima Bakrie Award
  • Tahun 2003 Sapardi Djoko Damono (kesusastraan) dan Ignas Kleden (sosial-budaya). BA 
  • Tahun 2004 Goenawan Mohamad (kesusastraan) dan Nurcholish Madjid (sosial-budaya) BA 
  • Tahun 2005 Budi Darma (kesusastraan), Sri Oemijati (kedokteran). BA 
  • Tahun 2006 Arief Budiman (pemikiran sosial), dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran). BA 
  • Tahun 2007 Putu Wijaya (sastra), Sangkot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Subang (teknologi). BA 
  • Tahun 2008 Taufik Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri, Mulyanto (kedokteran), Laksamana Tri Handoko (ahli fisika), Pusat Penelitian Kelapa Sawit. BA 
  • Tahun 2009 Sajogyo (pemikiran sosial), Ag Soemantri (dokter), Pantur Silaban (sains), Warsito P. Taruno (Teknologi), Danarto (Kesusastraan).
  • Tahun 2010 Sitor Situmorang (bidang Kesusastraan), Daoed Joesoef (bidang Pemikiran Sosial), S. Yati Soenarto (bidang Kedokteran), Daniel Murdiyarso (bidang Sains), Sjamsoe’oed Sadjad (bidang Teknologi), Ratno Nuryadi (Hadiah Khusus). 
Akhir-akhir ini, sebagaimana dilansir berbagai media massa cetak dan elektronik, banyak sikap dan kebijakan Abu Rizal Bakrie, sang penyandang dana Bakrei Award, yang menunjukkan kepongahan dan ketidak peduliannya pada Bangsa. Perusahaan-perusahaan Bakrie diduga banyak melakukan penggelapan Pajak. Akhir 2009, Direktorat Jendral Pajak mengungkapkan penelusuran dugaan pidana pajak dari tiga perusahaan tambang Bakrie PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resaurces Tbk., PT Arutmin Indonesia. Ketiga perusahaan ini, diduga tak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan secara benar. Total tunggakan pajak tiga perusahaan ini hingga Rp 2,1 triliun, dengan rincian: KPC Rp 1,5 triliun, PT Bumi Rp 376 miliar, PT Arutmin Rp 300 miliar.

Argumentasi PT Lapindo Minarak Jaya tentang peristiwa Sidoarjo, Lumpur Lapindo disebabkan oleh gempa Jogjakarta 26 Mei 2006, dengan telak dan lantang dibantah oleh para geolog internasional dalam pertemuan ilmiah para geolog di Capetown, Afrika Selatan. Dari 42 geolog yang hadir, hanya 3 orang, yang menyatakan adanya hubungan lumpur dengan gempa. Andaikata itu memang benar sebuah bencana alam, adalah sikap yang arif dan bijak apabila PT Lapindo Minarak Jaya tetap menunjukkan tanggungjawab terhadap nasib para korbannya. 

Dilain pihak, pemerintah kita nampaknya bersikap ambigu. Bahkan ada indikasi, selalu mengikuti irama hymne politik dan bisnis sang penyandang dana Bakrie Award. 

Semoga, Allah SWT senantiasa berpihak pada orang-orang yang teraniaya. Amien.

Trenggalek, 29 Juli 2010.

Rabu, 28 Juli 2010

Hasil Korupsi Kalau Untuk Naik Haji, Halal Apa Haram, Yaaa

Sebagai anak desa yang sehari-harinya menghirup udara bebukitan, aku merasa terhibur bila mendengar atau membaca berita tentang aktivitas gerakan anti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Sebab apa? Menurutku kekeringan dan penggundulan bukit-bukit di sekeliling tempat tinggalku ini salah satunya adalah karena ulah para koruptor. Baik itu koruptor kelas teri (pejabat desa, kecamatan dan kabupaten), maupun kelas deleg (pejabat di tingkat provinsi) dan kelas kakap (tahu sendirilah arti kelas kakap...) Karena itu begitu ada berita kompas hari ini dengan judul "ICW Desak Demokrat Pecat As'ad Syam", aku jadi kepingin langsung mempostingnya di blog ini. Maksudku, biar kelak anak cucukku juga bisa membacanya. (Halahdalah....aku kan wong melarat, bisanya cuma mewariskan blog ini untuk mereka! Jadi, mohon dengan hormat, sahabat blogger dan pembaca tidak mencela niatku...hhhmmm..makasih yaaa)

Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Partai Demokrat segera menarik As'ad Syam dari keanggotaannya di DPR dan memecat yang bersangkutan dari keanggotaan partai karena cacat integritas. Putusan Mahkamah Agung Nomor 1042 yang memberikan vonis 4 tahun atas As'ad Syam, anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, atas dugaan korupsi seharusnya sudah cukup untuk memecat dan memberhentikannya.
 
Seperti diwartakan, As'ad menjadi buron Kejaksaan Tinggi Jambi sejak 12 Juli 2010 setelah diputuskan terbukti bersalah terkait kasus korupsi proyek pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) unit 22 Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi, tahun 2004 senilai Rp 4,5 miliar. 

"DPR dan Partai Demokrat harus segera bertindak untuk membersihkan DPR dari unsur penjahat publik", ujar Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Ibrahim Fahmi Badoh, Rabu (28/7/2010) di Jakarta.
As'ad Syam dijerat dengan dakwaan Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU Nomor 20 Tahun 2001, Pasal 55 ayat 1 KUHP, atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 Pasal 55 ayat 1 KUHP, dengan hukuman 4 tahun penjara dikurangi masa penahanan sebelumnya. Selain hukuman kurungan, As'ad juga didenda sebesar Rp 200 juta yang jika tidak dibayar penambahan hukuman selama 6 bulan.

Putusan kasasi As'ad sebenarnya sudah diterima pengadilan, Jumat 16 November 2009. Dalam Keputusan Nomor 1142K/PID-sus/2008 tanggal 10 Desember 2008, MA mengabulkan tuntutan kasasi jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sengeti Nomor 207/T/2007 tanggal 13 April 2008 atas nama terdakwa As'ad Syam. Dalam putusan itu, MA menyatakan, As'ad telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan.

"Melihat dari jangka waktu sejak dikeluarkannya putusan atas terdakwa As'ad Syam, terlihat bahwa As'ad Syam telah bermasalah hukum bahkan jauh hari sebelum yang bersangkutan menjadi anggota DPR. Ini membuktikan bahwa proses rekrutmen politik di partai saat menerima yang bersangkutan sebagai calon tidak mempermasalahkan status hukum yang bersangkutan," kata Fahmi.

Partai Demokrat, sambung Fahmi, juga terkesan menyerahkan kepada As'ad Syam untuk mundur dari keanggotaan DPR tanpa adanya tindakan yang berarti sesuai kewenangan partai politik dalam upaya menjaga citra lembaga DPR dan partai terkait persoalan korupsi. Selain itu, pemrosesan kasus As'ad oleh Badan Kehormatan DPR juga cenderung lambat. Hampir delapan bulan sejak kasus yang bersangkutan diterima pengadilan, baru ada tindakan oleh BK DPR.

"Hal ini menunjukkan lemahnya sistem tanggap respons, sistem pengaduan, dan koordinasi antarlembaga negara terkait skandal pejabat publik," katanya.

Sejauh ini badan kehormatan baru meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan pada tanggal 22 Juli 2010 dan akan meminta klarifikasi dari Mahkamah Agung. ICW menilai, kasus As'ad menunjukkan buruknya koordinasi antara lembaga hukum, terutama pengadilan, dan institusi DPR. Seharusnya kasus ini sudah lama tertangani oleh BK DPR meskipun tidak ada laporan dari masyarakat. Putusan MA terkait kasus As'ad sudah cukup untuk memberhentikan yang bersangkutan sebagai anggota DPR RI.

Cacatan penutup : Wah...politik itu ternyata bisa jadi sumber kekayaan, yaaaaa... Terus, kalau hasil korupsi dipakai untuk naik haji ke Mekkah al Mukaromah tentu jadi halal, yaaaa???!!!

Aku Salah Seorang Fans Berat Sorpions

Sewaktu kecil, waktu angon bebek di sawah duluuuuu... aku sering mendengarkan radio yang dibawa oleh si-mbok ke dangau. Biasanya si-mbok nyetel kidung-kidung kelangenannya yang berirama keroncong dan kleningan. Dan aku mau tidak mau harus menyukai pilihan si-mbok; biasanya kala itu sesekali aku matur: wah, tembange nrenyuhake atau suarane sing nembang merdu emen, Waljinah kuwi mestine ayu, ya Mbok? 

Mendengar berbagai komentarku, si-mbok tentu akan membesarkan volume radionya. Sambil sesekali juga ikut menembangkan "walangkekek" dengan suara yang menurutku tak kalah merdunya dengan Waljinah. Aku pun diam, tersenyum simpul. Si-Mbok bahagia, aku gembira ria...hmmmmm...angin sepoi-sepoi meningkahi suasana hatiku.

Dalam pada itu, di rumah, sewaktu masih single duluuuuu... aku punya tape recorder kecil. Kasetku kebanyakan irama slowrock, lagu-lagu melankolis. Menyentuh alam bawah sadarku yang haus dan rindu asmara... hhhmmmm...maklum masih ABG. Di antara lagu-lagu itu, yang sering aku putar adalah lagunya Scorpions. Tapi, nyetelnya liriiiiii..iiih, jangan sampai didengar si-mbok.

Scorpions itu, band yang paling populer dan berasal dari Jerman, dengan hit-hit  heavy metalnya yang romantis. Band ini didirikan tahun 1965 dan barangkali masih akan terus hidup sampai para pemainnya meninggal satu persatu; kabarnya mereka (personil Scorpions) mengumumkan pembubaran bandnya pada awal 2010 lalu. By the way, sampai sekarang diberitakan  Scorpions sudah berhasil menjual hingga 100 juta copy album yang tersebar di seluruh dunia

CahNdeso yakin, Insyaallah, ABG abad 21 ini pun banyak yang sudah mendengar lagu-lagunya. Sebab, lagu-lagunya itu sejak dalam bentuk pita cassette laris manis - hingga jaman MP3 kini masih beredar dan mudah untuk didownload melalui internet. Personil Scorpions ada lima orang, yakni :
  • Klaus Meine
  • Matthias Jabs
  • Rudolf Schenker
  • Paweł Mąciwoda
  • James Kotta
Hampir semua lagu-lagu Scorpions aku suka.  Tapi ada 10 lagu yang benar-benar menjadi terbaik dan sampai sekarang masih sering diputar di TV dan radio. Ini peringkatnya bukan berdasar berapa banyak MP3 mereka yang di download melainkan dari sisi segi musikalitas seperti lirik maupun nuansa keromantisannya.

Kesepuluh lagu terbaik Scorpions berikut ini bisa langsung dinikmati melalui linknya.
  1. Rock You Like A Hurricane
  2. Still Loving You
  3. Wind of Change
  4. No One Like You
  5. Send Me an Angel
  6. You and I
  7. Lonely Nights
  8. When The Smoke Is Going Down
  9. Believe in Love
  10. Humanity
Selain sepuluh top di atas, cobalah simak juga judul-judul berikut ini, caranya mudah saja. Copy judul lalu paste di search engine Om Google, pilih link yang tepat. Beresssss....:
  • The Zoo
  • Always Somewhere
  • Big City Nights
  • A Moment In a Million Years
  • Under the Same Sun
  • Blackout
  • Rhythm Of Love
  • Lorelei
  • Tease Me Please Me
  • Coast to Coast
  • Life’s Like a River
  • Sting In the Tail
  • Top of the Bill
  • Hey You
  • Make It Real
  • Loving You Sunday Morning
  • Alien Nation
Scorpions memang layak dikenali dan digemari seluruh dunia....iya apa iya?!

Selasa, 27 Juli 2010

Anak-lanangku Memperkuat Kontingen POPDA Trenggalek

Siang ini (Selasa, 27 Juli) ada kesibukan dalam keluargaku. Bahkan sejak tadi malam isteri dan anakku Vivi nampak "heboh" menyiapkan keperluan anak lanang-ragilku yang baru duduk di kelas 2 SMAN 2 Karangan: Ibrahim Maksum Amrullah. Dia (anak lanangku itu) hari ini akan berangkat ke Nganjuk bersama kontingen POPDA Trenggalek. Anakku masuk anggota kontingen memperkuat cabang atletik (Lompat Jauh).

Ada rasa bangga dalam hatiku, namun tidak aku tunjukkan di hadapannya (biasa...aku memang selalu bertampang acuh tak acuh pada anak-anakku, dan suatu ketika aku kejutkan dia dengan surprise : bahwa aku sayang dan bangga!). Sebelum berangkat kerja, kupesan pada isteriku tercinta, pukul 1 siang nanti agar dia mengantar Ibrahim ke Pendopo Trenggalek bersama Vivi. Sambil mewanti-wanti, bahwa aku mungkin tidak bisa ikut karena sibuk "macul" di sawah.

Menjelang pukul 11.00 (WIB), ternyata ada waktu longgar; kugunakan untuk "keya-keya" ke Kompleks Pendopo Agung Trenggalek. Ramai sekali di sana. Lomba Macapat siswa SMP/MTs, SMA/MA/SMK sedang berlangsung. Asyik juga, telingaku agak terhibur oleh alunan tembang macapat yang dilantunkan para peserta. Aku duduk di kursi menyaksikan mereka. 

Diantara suasana lomba di dalam Pendopo, ada kesibukan lain di halaman. Anggota Kontingen POPDA  (Pekan Olahraga Daerah) Trenggalek untuk mengikuti Popda VIII   di event Regional Jatim di Nganjuk sudah berdatangan. Aku telepon anak-ragilku Ibrahim, ternyata dia sedang di jalan menuju pendopo.

Akhirnya, tiba juga dia diantar kakaknya Vivi dan ibunya. Upacara pemberangkatan kontingen tak lama kemudian digelar.

Dalam laporan Kepala Disporaparibu (Dinas Pemuda, Olahraga Pariwisata dan Budaya) menyebutkan bahwa Kontingen  Trenggalek berjumlah 100 orang yang terdiri dari 70 atlet dan 30 official. Bila berhasil meraih medali emas di event regional Jatim ini, maka atlit tersebut akan ikut dalam Pekan Olah Raga Nasional (Popnas) tahun 2011 di Pekanbaru, Riau. Atlet pelajar SD/MI, SMP/MTS dan SMA/SMK/MA ini akan bertanding dalam POPDA VIII selama 5 hari mulai 28 Juli s/d 2 Agustus 2010.

Sementara itu, Bupati Trenggalek, H. Soeharto dalam sambutannya menyampaikan rasa bangganya atas prestasi yang berhasil diraih atlet Kabupaten Trenggalek di kancah Nasional. Selama bulan Juli ini Kabupaten Trenggalek berhasil meraih 2 (dua) medali emas masing–masing dalam cabang olahraga Catur atas nama Andika Yoga Setiawan dari SDN Paraan dan Jos Rudi dari Gandusari untuk cabang Tenis meja dalam Olimpiade Olahraga Nasional. Selain itu, Kabupaten Trenggalek juga berhasil menyabet Juara 1 Putera dan Juara II Puteri di Kejurda sepak Takraw antar pelajar Jawa Timur 2010.

Aku berdoa, semoga para pejuang olahraga daerah kita bisa mengukir prestasi gemilang di ajang POPDA VIII Provinsi Jatim tahun 2010 ini; dan super khusus : mudah-mudahan anakku Ibrahim Maksum Amrullah mampu unjuk gigi sebagai atlet lompat jauh dan pulang membawa medali emas...Amin ya Robbal'alamin.

Permudah syarat Seleksi CPNS

Tahun ini nampaknya pemerintah akan serius untuk menyelenggarakan seleksi CPNS lagi. Indikasi kesungguhan niat tersebut dapat dilihat dari berbagai kegiatan dari Kementerian PAN & RB (Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatus Negara dan Reformasi Birokrasi). Bahkan diistruksikan kepada pemerintah daerah agar mempermudah persyaratan dalam mengikuti seleksi penerimaan CPNS. Salah satunya melalui penyederhaan administrasi dengan cara tanpa meminta kartu kuning, kartu kelakuan baik, surat dokter, dan bebas narkoba.

“Kalau sudah lulus, silakan persyaratan administrasi dimintai surat keterangan tersebut. Tapi sebelum pelamar dinyatakan lulus, jangan dimintai macam-macam,” tegas Menneg PAN & RB EE Mangindaan dalam raker dengan Komite I DPD RI, Rabu (21/7).


Men PAN & RB juga meminta agar kepala daerah selaku pejabat pembina kepegawaian tidak memungut biaya apapun dari pelamar untuk keperluan rekrutmen CPNS. “Proses seleksi dari pelamar umum harus sesuai dengan ketentuan. Yaitu objektif, kompetitif, akuntabel, bebas KKN, tanpa intervensi dari pihak manapun, tidak diskriminatif dan tidak dipungut biaya apapun,” tegasnya.

Saat ini, lanjutnya, proses rekrutmen dan seleksi pengadaan PNS telah diatur di dalam PP No 98 Tahun 2000 jo PP No 11 Tahun 2002 dan peraturan pelaksanaannya. Di mana pengadaan PNS dilakukan dalam rangka mengisi lowongan formasi.


Original Posting

Senin, 26 Juli 2010

Rosihan Anwar, Jurnalis Kawakan Pantang Menyerah

ROSIHAN ANWAR,  Wartawan senior, pemain sandiwara sekaligus sastrawan.  Sebagai wartawan Rosihan memiliki pengalaman meliput aneka peristiwa di dalam dan luar negeri, menulis di penerbitan dalam dan luar negeri, dan mengalami beberapa kali pembreidelan koran yang ia dirikan oleh rejim yang berkuasa. 

Rosihan Anwar lahir pada tanggal 10 Mei 1922 di Kubang Nan Dua, Kabupaten Solok, Sumatra Barat.  Ia putra Anwar gelar Maharadja Soetan, seorang asisten demang di Kubang Nan Dua. 

Ia menempuh pendidikan MULO di Padang hingga tamat.  Sekolah  Rosihan berlanjut ke Yogyakarta, dan ia masuk ke AMS bagian A (sastra).  Selesai pendidikannya di AMS Rosihan menguasai bahasa Belanda, Jawa, Indonesia, Inggris, Perancis, Jerman,  baik lisan maupun tulisan dengan lancar.  Ia juga tahu bahasa Latin. 
Memasuki usia ke 21 Rosihan terjun ke dunia jurnalistik.  Pada masa pendudukan Jepang tahun 1943-1945,  Rosihan Anwar menjadi reporter di koran “Asia Raya”.  Ia meliput sekaligus melaporkan peristiwa perang, kekejaman tentara Jepang terhadap bangsa Indonesia sampai Jepang menyerah kepada sekutu dan Indonesia memasuki jaman kemerdekaan. 

Pada masa revolusi kemerdekaan Rosihan bertugas sebagai reporter di kawasan Krawang-Bekasi, sebuah daerah perbatasan RI  dengan Belanda di Jawa Barat.   Sepeninggal Jepang koran Asia Raya ditutup.  Sebuah harian baru bernama “Merdeka” yang lahirnya dibidani BM Diah terbit.  Rosihan Anwar ikut bergabung menjadi redaktur selama satu tahun.  Keluar dari “Merdeka” Rosihan bersama-sama dengan Sudjati S.A. dan Sudjatmoko  mendirikan majalah politik “Siasat” yang terbit selama kurun 1947-1957. 

Pada tanggal 25 April 1947 Rosihan Anwar menikahi Siti Zuraida Sanawi (Ida Sanawi), di Yogyakarta. Ida Sanawi, gadis Betawi Asli, adalah adik kandung Sonia Hermine Sanawi, istri Usmar Ismail. Usmar Ismail, tokoh teater dan film nasional itu, adalah sahabat Rosihan. Perkenalan antara Rosihan dan Ida terjadi ketika mereka sama-sama bekerja di surat kabar Asia Raya, Rosihan adalah reporter dan Ida adalah sekretaris pemimpin redaksi.

Tahun 1948 ia juga ikut membidani lahirnya koran “Pedoman” yang terbit hingga tahun 1961 (periode pertama).  Pada tahun 1950 Rosihan Anwar ikut mendirikan PERFINI.  Pada periode itu, selain aktif di bidang jurnalistik Rosihan juga terjun ke dunia film.  Ia turut membintangi film “Atheis”. 

Rosihan juga pernah merasakan menjadi pemain drama yakni dalam Sandiwara Penggemar “Maya” yang diasuh Usmar Ismail.   Bulan Mei 1945 ia bermain sebagai insinyur muda dalam lakon “Jeritan Hidup Baru” bersama kritikus H.B. Jassin.   Pada pertengahan tahun 1949 Rosihan menghadiri KMB di Deen Hag  dan berlanjut dengan perjalanan jurnalistiknya di Spanyol, Portugis, Belgia dan Inggris.  Setahun kemudian (1950) ia diundang Rockkefeller Foundation ke Amerika Serikat untuk meninjau Yale University, Wastern Reserve, University Cleveland, Broadway (New York). 
Setelah revolusi kemerdekaan, buah pikiran Rosihan Anwar bisa disimak di beberapa penerbitan seperti Bussines News, Kompas, Kami, Angkatan Bersenjata, The New, Straits Time (Kuala Lumpur), Pos Kota, Jakarta, Asia Week (Hongkong, sebagai kolumnis tamu).   Pemerintah orde lama membreidel koran “Pedoman” dan itu sama sekali tak membuatnya patah semangat.  Ia terus menulis antara lain di majalah “Panji Masyarakat” dengan nama samaran Albahits yang berarti seorang pembahas atau pengurai. 

Di jaman orde baru koran-koran yang dulu dilarang terbit kembali beredar, yakni “Abadi”, “Indonesia Raya” dan “Pedoman” yang pernah didirikan Rosihan Anwar. Namun tragedi pembreidelan kembali menimpa Rosihan Anwar.  Tiga koran yang pernah didirikannya ditutup rejim Soeharto berkaitan dengan peristiwa “Malapetaka Januari 1974” yang terkenal dengan sebutan “Malari”.  Kendati korannya dilarang terbit ia terus menulis di harian luar negeri  yakni “Hindustan Time” (New Delhi, India), “World Forum” (London), “The Age” (Melbourne), “The Straits Time” (Singapura), “Asia Pacific” (Guam).  Di penerbitan dalam negeri Rosihan Anwar menulis di majalah wanita “Kartini”.  

Pada tahun 1971 ia menjabat Direktur Program pada “Karya Latihan Wartawan” yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.  Pada periode 1970-1973 dia terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat.

Ia juga aktif di beberapa organisasi seperti  menjadi Tim Ahli di Lembaga Pertahanan Nasional dan  pengurus Asia Mass Communications  Research and Information Centre di Singapura.  Di bidang organisasi politik, Rosihan pernah aktif di Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Sjahrir.

Kurun 1973-1978 ia masuk Golongan Karya dan mewakili partainya menjadi anggota MPR.  Rosihan juga pernah menjadi konsultan lembaga PBB UNESCO dan bertugas di Sri Langka pada tahun 1980. Sebagai wartawan Rosihan pernah mengalami sendiri peristiwa penting seperti kembalinya Jendral Besar Soedirman yang bergerilya dari hutan ke hutan dan dari desa ke desa.  Ia turut menyambut Soedirman bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX. 

Sebagai penulis produktif Rosihan Anwar melahirkan banyak buku  seputar persoalan jurnalistik sekaligus perjalanan jurnalistiknya.  Atas jasa-jasanya ia pernah menerima berbagai penghargaan seperti Bintang Mahaputra Utama III tahun 1973 dan Pena Mas tahun 1978, sebagai penghargaan atas karya tulisnya di media massa.

Hasil karyanya antara lain ialah :
  1. Ke Barat dari Rumah  (buku ini memuat laporan perjalanannya bersama tiga wartawan lain yakni Mochtar Lubis dan S. Tasrif) 
  2. India dari Dekat  (1954). 
  3. Dapat Panggilan Nabi Ibrahim (1954, memuat laporan perjalanan ibadah hajinya ke Mekah).
  4. Islam dan Anda (1962, kumpulan tulisannya yang diterbitkan dalam sebuah buku).  
  5. Sejarah Pergerakan Nasional dan Islam (1972, tulisan yang berisi mengenal Islam maupun sikap nasionalisme).  
  6. Kisah-kisah Jaman Revolusi  (memuat pengalaman dan pengamatannya sepanjang revolusi fisik pada tahun 1945-1949).  
  7. Kisah-kisah Jakarta Setelah Proklamasi. 
  8. Profil Wartawan Indonesia. 
  9. Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi.
Dari berbagai sumber. Foto : anugerahadiwarta

Jangan lupa, baca juga  :

Tahun 2011: Biaya Prajabatan CPNS Naik 100%...?!

Semenjak otonomi daerah digaungkan, ternyata biaya pendidikan dan latihan (Diklat) prajabatan dibebankan pada para CPNS. Tahun lalu, biaya ini besarnya berkisar antara 2 juta rupiah sampai dengan 3 juta-an rupiah tergantung pada golongannya.

Tahun ini, biaya prajabatan dilingkup daerah Trenggalek besarannya diperkirakan tidak jauh dari tahun lalu. Menurut para CPNS di kota Kripik Tempe (yang dahulu juga cukup kondang dengan sebutan kota tiwul dan sekarang kota tepung Cassava), untuk golongan I/II sudah diisyarati pihak BKD sekitar 2,5 juta sedang golongan III mencapai 3,5 atau hampir 4 juta rupiah. Mudah-mudahan, biaya prajabatan tersebut tahun depan tidak sampai naik 100%, seperti diberitakan bahwa di Tulungagung terjadi  Biaya diklat Prajabatan Naik 100%!

Bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Tulungagung, siap-siap saja merogoh kantong lebih dalam. Sebab, tahun 2011 mendatang, biaya pendidikan dan latihan (Diklat) Prajabatan bagi CPNS bakal naik sampai 100 %.

“Tahun 2011 sudah ditetapkan biaya Diklat Prajabatan untuk CPNS golongan I dan II masing-masing Rp 4,5 juta. Begitupun dengan golongan III, tahun depan mereka nanti harus menanggung biaya sebesar Rp 5,5 juta, tidak lagi Rp 3 juta seperti tahun sekarang,” ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, Drs Kusmadi MSi, Minggu (25/7/2010).

Kenaikan biaya Diklat Prajabatan, masih katanya, disebabkan karena waktu penyelenggaraan Diklat Prajabatan diperpanjang, rata-rata mencapai satu bulan setengah atau 45 hari. Karena itu, lanjutnya, guna meringankan pembiayaan Diklat Prajabatan CPNS, pihaknya sudah mengajukan seluruh CPNS lingkup Pemkab setempat ke Badiklat Pemprov Jatim untuk menyelesaikan Diklat Prajabatan tahun ini. Sebelum ada kenaikan biaya Diklat Prajabatan tahun 2011.

Diungkapkan, bulan Agustus 2010 mendatang, CPNS golongan III formasi tahun 2009 sudah direncanakan untuk mengikuti Diklat Prajabatan yang kemudian disusul CPNS golongan I dan II dari formasi tahun yang sama. “Untuk sisa formasi tahun 2008, sudah sebagian mengikuti Prajabatan sebelum Agustus. Kebanyakan dari golongan I dan II,” katanya.

Selama ini, waktu penyelenggaraan Diklat Prajabatan bagi CPNS golongan I dan II berlangsung selama 16 hari saja. Sedang Diklat Prajabatan bagi CPNS golongan III selama 23 hari. Sementara biaya Diklat Prajabatan untuk golongan I dan II masing-masing sebesar Rp 2,2 juta dan untuk CPNS golongan III sebesar Rp 3 juta.((afa/isp)

Ada Polisi Trenggalek Akan Dipraperadilankan!?

Tatik Susilowati


Sebuah berita yang cukup mengejutkan: Ada seorang warga Trenggalek asal  Desa/Kecamatan Karangan berani mengajukan permohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Trenggalek terhadap seorang anggota Polisi! Menurutku, inilah gebrakan yang cukup berani dari seorang warga/masyarakat/rakyat di daerah tertinggal seperti kota "kripik tempe" tercinta. Terlebih lagi ternyata warga yang mengajukan permohonan tersebut adalah seorang wanita, kaum yang selama ini kita kenal sebagai makhluk yang lemah gemulai dan "tunduk" pada kaum lelaki. Wanita itu bernama Tatik Susilowati warga RT 10 RW 03 Desa/Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Propinsi Jawa Timur, Indonesia my lovely country (lengkap banget, kan alamatnya...hmmm...aku kok!)

Nah, apabila kasus tersebut nantinya bisa berlanjut sampai ke meja hijau, maka sungguh suatu upaya mencari keadilan yang pantas diacungi jempol. Dan, CahNdeso yakin kaum makelar kasus, para pencoleng hukum, akan terlibas buntung dari bumi Menaksopal, jika Srikandi Tatik Susilowati bisa memenangkan perkaranya. Atau setidaknya, kaum makelar kasus dan pencoreng keadilan akan gemetaran karena kemenangannya. 

Peristiwa bermula karena tindakan kanit serse Mapolsek Watulimo Aiptu K (inisial)  beserta anak buahnya dalam menindak lanjuti laporan DD (juga inisialnya saja,. Heran?! Jangan heran bila aku hanya berani sebut inisial...hhmmm...aku kok, CahNdeso!), terhadap  Tatik Susilowati terlalu berlebihan dan tidak menghormati atas nama hukum. Tatik menganggap perlakuan petugas atas dirinya terlampau menonjolkan arogansi dan cenderung melecehkan HAM. 

Oleh sebab itu, karena Aiptu K berdinas di Mapolsek Watulimo, maka Kapolsek Watulimo AKP Hariyanto SH. harus berurusan dengan hukum, sebagaimana dirilis oleh prigibeach.com. Permohonan pemeriksaan praperadilan tersebut telah dilayangkan Tatik ke Pengadilan Negeri Trenggalek sekira pukul 10.00 WIB pagi tadi didampingi kuasa hukumnya YB. Irpan SH. Mhum.

Dalam surat termohon No :78/SKK/PRAPER/PID/VII/2010 tanggal 22 Juli 2010, alasan permohonan praperadilan salah satunya menganggap tindakan kanit serse Mapolsek Watulimo Aiptu K beserta anak buahnya dalam menindak lanjuti laporan DD terhadap pemohon Tatik terlalu berlebihan dan tidak menghormati atas nama hukum.

"Klien kami mengaku telah didatangi kanit serse bersama anakbuahnya yang berjumlah 9 (sembilan) orang ke rumah pemohon dengan sikap yang arogan. Katanya pemohon akan dihadapkan kepada termohon atas perintah Kapolsek. Tetapi ternyata kanit serse tidak bisa memberikan surat perintah padahal waktu itu sudah pukul 02.30 Wib", jelas Irpan. (Catatan CahNdeso: menghadapi seorang perempuan, bawa pasukan layaknya akan menggerebeg teroris!? Bayangkan!)

Selain arogan menurut Irpan, ketika dikonfrontasikan di Mapolsek Watulimo, pemohon tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk permasalahannya dengan DD. Oleh kanit serse justru malah balik dibentak-bentak. 

 "Prinsip, klien kami adalah keadilan bagi seluruh warga negara. Institusi hukum harus bisa berlaku prosedural dan adil sesuai dengan Undang-Undang. Sama sekali sekali, tidak ada niatan menyudutkan hukum." papar pria asal Jawa Tengah itu.

Tidak hanya itu, Tatik mengaku juga mendapat perlakuan yang kurang mengenakan. Perempuan yang berprofesi sebagai kontraktor bangunan itu sangat tidak berkenan atas semua peristiwa yang dialaminya. 

"Saya ini perempuan yang lemah. Tidak sepantasnya memperoleh perlakuan dari aparat penegak hukum seperti ini " tukasnya.

Terkait hal itu, Kapolsek Watulimo AKP Haryanto dikonfirmasi melalui telepon selulernya mengaku, semua tindakan yang dilakukannya bersama anggotanya sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

"Semua yang kami lakukan sudah prosedural. Kalau memang ada yang kurang berkenan dan mau dipraperadilankan, silahkan. Kami siap. Biar pengadilan yang nantinya memutuskan," tegasnya.

Minggu, 25 Juli 2010

Balita Itu Akhirnya Meninggal Juga!

Sabtu, 24 Juli kemarn CahNdeso memposting : HAN 2010: Balita Mlinjon Mengidap "Megacolon"; Ingin rasanya memeluk Alex dalam dekapan saat dia masih ada di Mlinjon ketika akan dibawa ke RSUD Dr. Sudomo Trenggalek. Namun, kala itu tidak ada "keberanian" untuk mendekat. Dan malam ini, penyesalan itu datang!

Setelah menjalani proses penyembuhan selama dua hari paska operasinya, akhirnya Alex Galih Prasmalingga, balita berusia dua setengah tahun asal Dsn Selorejo Desa Mlinjon Kecamatan Suruh Trenggalek Jatim, yang awalnya disinyalir terkena Gizi Buruk, meninggal dunia! Alek meninggal pagi tadi Minggu (25/07) di RSUD dr.Sutomo Karangmenjangan sekira pukul 09.00 Wib dan saat itu juga jenazahnya dibawa ke rumah duka untuk di makamkan di TPU desanya.

Rencanya Alex akan menjalankan proses operasi dalam 2 (dua) tahap, tetapi ketika masih menjalani operasinya pada tahap pertama, selang 2 (dua) hari kemudian alek meninggal dunia. Pasien yang awalnya diduga tekena busung lapar tersebut mengalami kelemahan fisik berat setelah operasi. 

"Prosedur medis yang kita lakukan saat operasi kepada Alek terlebih dulu dengan melakukan citiscan, lantas Tim ahli bedah anak menyatakan Alek positif terkena tumor Kista atau sejenis tumor yang berbentuk cairan" Ungkap salah satu dokter Tim dari RSUD dr.Sutomo Surabaya sebagaimana dirilis media lokal online prigibeach.com.

"Operasi tahap pertama dilakukan agar bisa mengurangi penyumbatan cairan pada paru-paru, tapi kondisi pasien yang lemah dan tergolong akut, pasien tidak dapat kami tolong" imbuhnya.

Jaikem alias brintik ( 72) nenek Alex mengatakan jika dirinya bersama keluarga telah mengikhlaskan kepergian cucunya itu. Bahkan keluarga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu , termasuk pemerintah . "Mudah-mudahan amal baik semuanya di balas oleh Tuhan dan Alex bisa tenang di sana.

CahNdeso juga menyampaikan ikut berbela sungkawa, tak lupa pula turut  berterimakasih pada semua pihak yang telah membantu proses pengobatan Alex hingga dia dimakamkan. Sambil menyuarakan  keluhan dari beberapa warga Trenggalek yang saat ini mengidap sakit namun tidak mampu berobat karena Jamkesmas-nya belum maksimal. "Wahai, kapankah kami bisa sembuh seperti sediakala?! Adakah  dermawan yang juga peduli pada kami?!"  (CahNdeso hanya menjadi penerus keluhan rakyat jelata; salah satunya baca saja  Jamkesmas Belum Maksimal)

Sabtu, 24 Juli 2010

Ilmuwan Berkarakter: Menolak Hadiah Milyaran!

Diera kapitalisme merajai dunia, ternyata masih banyak juga ilmuwan dan budayawan yang dengan ksatria menolak hadiah bernilai milyaran rupiah. Bila hanya ratusan juta rupiah, barangkali di Indonesia dicontohkan oleh Goenawan Muhammad, budayawan kita, yang telah mengembalikan Bakrie Award. Padahal, hadiah yang mereka terima itu bukan grativikasi atau semacamnya, melainkan penghargaan atas kerja keras mereka sebagai seorang pakar! 

Andai yang menolak hadiah adalah seorang yang sudah hidup berkecukupan, mungkin tidak terlalu mengherankan. Tapi, bagaimana bila dia hanya seorang yang seperti Dr Grigory Perelman, ahli Matematika Rusia, berusia 44 tahun, yang miskin? Alangkah indahnya dunia (maksudku negeri kita) kalau para penguasa negeri ini bersikap sebijaksana, searif dia, se-ksatria dia...?! (Kalau aku, sih.... sudah tentu tidak masuk dalam kategori : penolak hadiah.... sebab, aku serakah lagi tamak-temahak!)

Dr Grigory Perelman, ahli Matematika Rusia, dengan tegas telah menolak pemberian hadiah senilai satu juta dollar AS (kira-kira Rp. 10 M); . Menurutnya dia bukanlah orang yang pantas untuk menerima  penghargaan yang rencananya akan diberikan oleh Clay Mathematics Institute, sebuah lembaga asal Amerika Serikat.

Grigory, disebut-sebut sebagai matematika tercerdas sedunia ini, bukan orang kaya. Pria paruh baya ini hanya tinggal di flat sederhana di St Petersburg. Perelman dianuegerahi duwit sebanyak itu, karena kemampuannya memecahkan Konjektur Poincare, yang sudah satu abad memusingkan matematikawan. Solusi itu dia posting lewat internet.

Atas penghargaan dari lembaga yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, itu, Perelman menyatakan menolak hadiah. Alasannya, seperti dikutip oleh Interfax, ia menilai kontribusinya dalam membuktikan dugaan Poincare tidak lebih hebat daripada ahli Matematika Amerika Serikat, Richard Hamilton, yang pertama kali mengusulkan program untuk solusi tersebut. Konjektur Poincare adalah rumusan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yang ada di empat dimensi atau lebih.

"Aku sudah memiliki semua yang kuinginkan," kata Perelman tak lama setelah penghargaan itu diumumkan, Maret lalu.

Padahal, menurut tetangganya, Vera Petrovna, yang pernah berkunjung ke flatnya, Perelman hanya memiliki satu meja, bangku, dan tempat tidur dengan kasur kotor yang ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya. "Kami berusaha untuk menyingkirkan kecoa di blok kami, tetapi serangga-serangga itu bersarang di apartemennya," kata Vera.
Sebelumnya -empat tahun lalu- jenius Matematika itu juga tak muncul untuk menerima penghargaan bergengsi Fields Medal dari Uni Matematika Internasional karena memecahkan Konjektur Poincare. Pada waktu itu ia mengatakan, "Aku tidak tertarik pada uang atau ketenaran. Aku tidak ingin dipamerkan seperti hewan di kebun binatang."

"Aku bukan pahlawan Matematika. Aku juga tidak terlalu berhasil. Itu sebabnya aku tidak ingin semua orang menatapku," katanya ketika itu.

Pada tahun 2002, Perelman, saat itu peneliti di Institut Matematika Steklov di St Petersburg, mulai mem-posting karya ilmiahnya untuk memecahkan konjektur Poincare, salah satu dari tujuh teka-teki Matematika yang masing-masing pemecahannya berhadiah 1 juta dollar AS dari Institut Clay. Berbagai tes yang ketat membuktikan bahwa dia benar.

Teka-teki topologi ini pada dasarnya menyatakan bahwa setiap ruang tiga dimensi tanpa lubang di dalamnya adalah setara dengan sebuah wilayah yang membentang. Teka-teki itu sudah lebih dari 100 tahun ketika Perelman memecahkannya, dan dapat membantu menentukan bentuk alam semesta.
Tahun 2003 Perelman berhenti dari Institut Steklov. Teman-temannya mengatakan bahwa dia sama sekali mengundurkan diri dari Matematika karena subyek itu terlalu menyakitkan untuk dibicarakan.

Turnamen Catur HUT-RI 2010 Diramaikan Pemain Muda Berbakat!

Kiri-kanan: Faiq, Yogi, Hanik dan Ipong - para pecatur muda Trenggalek

Pertandingan Catur kelompok umum digelar oleh Panitia HUT-RI Ke-65 dan Hari Jadi Trenggalek Ke-816,bertempat di gedung Gapensi jalan dr. Soetomo, Trenggalek, Jum'at (23/7) mulai pukul 19.00 (WIB) dan akan berakhir besok Sabtu (24/7). Pecatur yang mengikuti turnamen ini terdiri dari 42 peserta,  pertandingan berlangsung dalam sistem Swiss 7 babak.

Menurut Kuncahyoningrat, Ketua Komisi Pembinaan Atlet Percasi Trenggalek, pertandingan kali ini akan didominasi oleh pemain-pemain lama. Mereka datang dari Kecamatan Trenggalek, Panggul, Watulimo, Durenan, Pogalan, Kampak, Karangan, Tugu, dan Gandusari.

"Suatu hal yang sangat menggembirakan, bahwa tahun ini para pecatur muda Trenggalek banyak yang sudah berani menantang peserta dewasa," demikian Kuncahyo. Menurutnya pecatur seperti Nanik Dwi yang kemarin di kelompok Yunior tampil sebagai Juara Pertama, akan menjadi lawan berat bagi pecatur senior. Sementara pecatur Yunior Andika Yogi Setiawan yang baru meraih gelar Juara Nasional dalam O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) 2010 kategori catur kilat, patut diacungi jempol. Tehnik permainannya tidak kalah dengan para seniornya, ujar Kuncahyo menerangkan.

Dalam dunia catur di tataran  Jawa Timur, Trenggalek memang merupakan lumbung bakat bagi Pengda Jatim. Hanik Dwi, siswi SMAN 1 Durenan adalah Juara 1 Kejurda Catur Kelompok C, dan beberapa kali selalu menyabet medali dalam setiap even regional. Sementara teman sedaerahnya - Siti Susanti siswi SMAN 1 Trenggalek- juga pernah masuk dalam peringkat 3 Jatim pada Porda Pelajar Tingkat Propinsi Tahun 2007, dan dalam Kejurda Catur Kelompok B tahun 2010 lalu, Siti menduduki peringkat 6 se-Jatim. Kedua pecatur muda puteri asal Trenggalek ini akan diberangkatkan ke Menado untuk mengikuti Kejurnas Catur Tahun 2010. Dan Andika Yogi Setiawan akan memperkuat tim Indonesia dalam turnamen Olimpiade Olahraga Pelajar se-Asia di Jakarta tahun ini juga. 


Yogi, demikian panggilan Andika Yogi Setiawan, adalah siswa kelas 6 SDN 2 Parakan, Kecamatan Trenggalek. Di kelompok yunior kemarin Yogi tidak boleh ikut, dan pada turnamen kelompok umum ini ia tampil bersama rekan satu sekolahnya Faiq Muhaya (Faiq) yang baru duduk di kelas 5, yang kemarin di kelompok Yunior Faiq hanya mampu meraih nilai 2,5. Dalam pada itu, dari Kecamatan Karangan ada Ipong Pujo Nalendro, siswa kelas 5 SDN 1 Karangan ini, di  turnamen siswa sekolah dasar se-wilayah Karangan Tahun 2010 menyabet Juara pertama.

Mungkin Anda tertarik: 

Jumat, 23 Juli 2010

Mesum: Gerayangi Pembantu, Masuk Bui

Ingat dengan postinganku tentang kemesuman "juragan" terhadap pembantunya yang berjudul Mesum : Gerayangi Pembantu, Nyaris Dihakimi Warga? Ternyata kasusnya kini terus dilanjutkan dan pihak Polres Trenggalek sudah menetapkan pelaku pelecehan seksual yakni sang juragan, sebagai tersangka. Atas ketegasan aparat kepolisian ini, CahNdeso menunduk khidmat penuh hormat dan sangat mengapresiasi. 

TH alias CH (48) pria keturunan yang berstatus warga Jalan Panglima Sudirman, RT/RW 02/01 Trenggalek, yang sempat dihakimi massa di Dusun Ngembes Desa Sumberdadi Kecamatan Trenggalek itu ditetapkan sebagai tersangka setelah dua pembantunya mengaku pada penyidik Polres Trenggalek bahwa tubuhnya sering digerayangi oleh pelaku. Bahkan sang pembantu memberikan detail tanggalnya yakni  9, 12, 13, 16, serta 17 Juli, seperti direlease prigibeach.com. Semua pelecehan seksual tersebut dilakukan tersangka di dalam toko saat korban sedang bekerja. 

Kapolres Trenggalek AKBP Eddy Hermanto melalui Kasat Reskrim AKP Saiful Rohman membenarkan hal tersebut.  "Tersangka kita kenai pasal 285 serta 335 tentang perbuatan cabul pada anak dibawah umur," jelasnya.

Pernyataan Polisi, ditetapkannya Tony Hartono sebagai tersangka berdasar keterangan dua pembatunya, Winda Yunita (18) RT/RW 3/1 Desa Sukosari Kecamatan Trenggalek dan Weni Purnamasari (20) RT/RW 2/1 Desa Parakan Kecamatan Trenggalek.

Saat itu, ketika sedang bekerja di toko kain milik tersangka, Winda didekati kemudian tersangka memuji-muji bahwa celana Winda bagus. Tersangka juga menanyai dimana celana itu dibeli. Bahkan, anehnya lagi tersangka bertanya apa yang ada didalam celana Winda.

Tersangka semakin nakal ketika memegang dan memijit paha Winda. Dengan penuh ketakutan saat itu juga Winda langsung lari ke toko depan menghampiri Weni yang sedang bekerja, lalu menceritakan apa yang baru dialaminya.

Ternyata, tidak hanya Winda. Weni mengaku juga mengalami hal serupa. Weni mengungkapkan perutnya pernah dielus-elus tersangka beberapa kali, namun Weni takut menceritakan kepada orang lain. Sebab, tersangka meminta hal tersebut tidak diberitahukan kepada siapapun.

Nah, beruntunglah TH alias CH bila beberapa malam lalu luput dari penghakiman massa lantaran perbuatan nakalnya kepada dua pembantunya. Andaikata aparat desa setempat tidak langsung melerainya dan mengamankannya
di Balai Desa Sumberdadi, Kecamatan Trenggalek, tentu dirinya bisa celaka akibat amukan massa yang beringas.

Halooooo...pak Polisi, tegakkan terus panji-panji harkat dan martabat wanita utamanya para pekerja rumah tangga yang selama ini seakan dianggap sebagai obyek yang tidak berharga. Salam hormat, warga Trenggalek senantiasa mendukung kinerja Pak Polisi untuk menjadikan hukum sebagai Panglima di daerah ini. 

NB: Nama tersangka  saya tuliskan inisialnya saja, sedang untuk korban saya tulis sesuai aslinya. (maaf, yaaaa...)

Kamis, 22 Juli 2010

Revolusi Belum Selesai. For a Fighting Nation, There's No Journey's End




"Jangan katakan negara ini negara kaya
kalau orang miskin berkembang di desa dan di kota
jangan sebut dirimu kaya
kalau tetanggamu makan bangkai kucingnya
lambang negara ini mestinya terompah dan belacu
dan perlu diusulkan
agar bertemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda..." 

Camkan baik-baik kutipan Sajak Orang Miskin yang ditulis W.S. Rendra pada medio 1970-an ini saat merenungi hari kelahiran Pancasila tiap tanggal 1 Juni. Sudahkah Pancasila yang digali Bung Karno digunakan dan dilaksanakan sepenuh-penuhnya untuk menghasilkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Di era reformasi ini, Pancasila memang tak lagi digunakan sebagai alat untuk menggebuk rakyat sendiri seperti dilakukan rezim Orde Baru, tapi mengapa Pancasila masih saja dipahami sebatas "mantra kosong tanpa makna" demi merebut dan mempertahankan kuasa? Mengapa masih saja ada jurang menganga di antara nilai-nilai luhur Pancasila dan kehidupan nyata? Apa yang akan kita katakan kepada Bung Karno? Bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkannya kepada sejarah?

Kenanglah apa yang terjadi 63 tahun lalu. Sebelum menyebut lima dasar negara yang kemudian menjelma menjadi Pancasila, Bung Karno lebih dulu menguraikan panjang lebar makna kemerdekaan bagi perjalanan bangsa ke depan. Bung Karno yakin, proklamasi/kemerdekaan yang sedang direbut, diperjuangkan dan dipersiapkan waktu itu adalah ibarat jembatan emas. 

Jembatan emas. Apa maksudnya? Bung Karno sebetulnya ingin mengatakan, ketika kemerdekaan berhasil direbut, bukan berarti lalu cita-cita bersama para pejuang bisa serta-merta terwujud dengan sendirinya. Untuk menjamin terwujudnya cita-cita proklamasi, Bung Karno lalu menawarkan agar Indonesia diletakkan di atas lima dasar negara. Nah untuk apa semua proses itu dilakukan? Tak lain tak bukan demi terwujudnya kesejahteraan rakyat atau keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Kini, 63 tahun berlalu. Pertanyaannya kemudian, apakah Pancasila sebagaimana dipidatokan Bung Karno telah mewujud di dunia nyata? Lihatlah apa yang terjadi di Silang Monas, 1 Juni 2008, persis saat kita merenung dan memperingati Hari Lahir Pancasila. Segerombolan orang yang menyebut dirinya Front Pembela Islam (FPI) menyerang warga bangsa (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Silang Monas. Puluhan korban berjatuhan, dan aparat negara yang seharusnya melindungi warganya menghilang entah ke mana. 

Ketuhanan yang Maha Esa. Mengapa sebagian dari kita tega membelakanginya? Mengapa sebagian dari kita tak kunjung paham, bahwa selain mendambakan masyarakat beriman dan bertakwa, kita juga ingin menekankan hasrat terciptanya kerukunan dan saling menghormati antar umat beragama. Sudah 63 tahun, tapi mengapa masih saja sebagian umat beragama merasa was-was, khawatir, tak tenang, dan merasa dipersulit saat akan beribadah atau mendirikan tempat ibadah. Sementara di sisi lain ada sebagian warga bangsa yang dengan arogan menepuk dada dan memaksakan keyakinan dan kebenaran mereka sendiri. 

Kapan kita paham, bahwa demokrasi tak hidup di ruang hampa? Bahwa demokrasi juga mensyaratkan adanya kebersediaan mengakui minoritas dan bertoleransi kepada perbedaan? Bahwa demokrasi pada hakikatnya adalah menciptakan dan menjalankan kesepakatan tanpa jalan kekerasan? Bahwa demokrasi pada hakikatnya adalah mentransfer konflik jalanan yang berpotensi memicu kekerasan ke meja-meja perundingan? Kerusuhan di Monas, kasus Ahmadiyah, dan konflik-konflik bernuansa agama yang masih saja terjadi menunjukkan kepada kita bahwa di sudut ini Pancasila (khususnya sila pertama) ternyata belum merasuki akal budi kita semua. 

Simak juga apa yang terjadi di Universitas Nasional (Unas) begitu pemerintah menaikkan harga BBM. Polisi, bagai segerombolan serigala menyerbu domba, menyerang mahasiswa yang berdemo menyuarakan kepedihan rakyat sampai ke dalam kampus. Bagaimana kita masih bisa mengucapkan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab pada upacara bendera? Sila kedua Pancasila ini mewajibkan pemenuhan dan perlindungan hak dasar manusia dan warga negara. Bagaimana bisa aparat negara dengan sesuka hati, mentang-mentang berkuasa, melakukan tindak kekerasan kepada anak bangsa yang seharusnya dihormati dan dilindungi hak dan kemerdekaannya? 

Persatuan Indonesia. Setelah 63 tahun, masih saja ada warga bangsa yang ingin mendirikan negara sendiri. Masih ada pula warga bangsa yang merasa diri mayoritas, dan memandang sebelah mata minoritas dan merasa lebih berhak atas negeri ini dibanding yang lain. Kita mengakui, keadilan dan kesejahteraan memang belum merasuki sekujur negeri, tetapi apakah separatisme menjadi satu-satunya jalan keluar? 

Memang benar, reformasi berhasil membongkar sistem otoriter yang dihelat Soeharto. Tetapi mengapa runtuhnya sistem otoriter itu menghasilkan sistem demokrasi -yang disebut Ketua Umum Megawati Soekarnoputri-sebagai demokrasi prosedural? Benar, pemimpin dipilih oleh rakyat dan kebijakan pemimpin acapkali sudah mendengar suara rakyat. Namun pertanyaannya, entah bagaimana prosesnya dan perumusannya, kebijakan yang lahir sama sekali tidak mencerminkan keberpihakan pada rakyat yang memilih mereka, yang tadinya didengar aspirasinya, dan diperjuangkan kepentingannya. 

Itulah sebabnya kita juga juga musti merenungi sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dan Permusyawaratan Perwakilan. Kini, praktik demokrasi semakin mahal, semakin menjadi milik mereka yang punya uang. Untuk menjamin hak dipilih atau menduduki jabatan publik, seseorang tak cukup memenuhi persyaratan formal. Mereka juga harus berkocek tebal atau ditopang makhluk-makhluk yang bergelimang uang. Sementara rakyat biasa hanya mampu mengecap sisa-sisa, mematuki remah-remah. Yang tersisa tinggal hak memilih, itupun dihantui iming-iming yang bisa membelokkan kemudi hati nuraninya. 

Akibatnya, seperti diungkapkan Ibu Mega, demokrasi tetap berkutat pada demokrasi prosedural, tak kunjung melangkah maju pada apa yang disebut demokrasi substantif. Dampak selanjutnya, rakyat tetap saja menderita. Lihat apa yang terjadi dengan korban lumpur Lapindo di Porong. Mereka tetap saja tak tersentuh beragam instrumen penegakan hukum yang menjadi sistem demokrasi. Mereka dibiarkan melakukan negosiasi dengan pemilik uang sambil dikepung peraturan-peraturan yang sedemikian rumitnya sehingga sampai ini hari tak kunjung memperoleh hak-hak substantifnya. 

Simak juga laporan majalah Tempo beberapa waktu lalu. Reformasi yang menghasilkan demokrasi prosedural menciptakan tebing-tebing curam dalam keadilan sosial. Sumber-sumber ekonomi tetap dikuasai para elite ekonomi Orde Baru. Rakyat tetap saja menyandang predikat korban, setelah selama 32 tahun menjadi korban perilaku kanibal elite ekonomi Orde Baru. Kenaikan harga BBM adalah contoh mutakhir dikorbankannya rakyat demi kepentingan-kepentingan absurd para elite ekonomi kita.

Kalau sudah begini, bagaimana kita masih punya muka kepada para pejuang dan pendiri bangsa yang menyaksikan tingkah-polah kita dari masa silam? Apakah ini yang disebut kebijakan pro-keadilan sosial? Bagaimana kita bisa menyebutnya selaras dengan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia kalau kebijakan itu membuat rakyat semakin menderita? Lalu kemana perginya amanat penderitaan rakyat? Tak heran kalau penyair sekelas W.S. Rendra memotret nasib rakyat kita ke dalam bait-bait puisi, dan menyuguhkannya ke depan wajah kita agar segera bisa memperbaiki diri. 

Ah, begitu melelahkannya mengikuti perjalanan bangsa ini. Tapi jangan sampai ada kata menyerah. Karena, seperti kata Bung Karno: "Revolusi belum selesai. For a fighting nation, there's no journey's end."
Hanya kita, kita sendirilah yang bisa menentukan nasib bangsa. Para pendiri bangsa telah menyediakan sebuah jembatan emas melalui pertarungan yang berdarah-darah. Dan setelah itu, kita jualah yang memutuskan: mau terperosok ke jurang kehinaan atau lembah keadilan dan kemakmuran?

By : Sirmadji
(Putera Trenggalek)
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Hasil Kejuaraan Catur Yunior HUT-RI 2010




Foto1 : Edo Berlian Priambudi, Kelas 7 SMP Muhammadiyah 5 Karangan, Juara I (Pertama).

Pertandingan catur dalam rangka HUT-RI Ke-65 dan Hari Jadi Trenggalek Ke-816 berlangsung sejak Rabu (21/7) dan sesuai jadwal kelompok SD/MI/SDLB dan SMP/MTs, siswa SMA/MA/SMK, hari ini Kamis (22/7) selesai. Pecatur Yunior dari kalangan pelajar, diikuti oleh 43 pemain, terdiri dari 28 siswa SD/MI/SDLB dan SMP/MTs, 15 siswa SMA/MA/SMK.

Pertandingan kelompok Yunior ini memakai sistem Swiss dengan 6 babak. Nampaknya para pecatur muda Trenggalek memang mengalami banyak kemajuan. Permainan mereka begitu agresif dan memenuhi standar teoritis. Hasil pertandingan Yunior selengkapnya sebagai berikut :
 
Foto 2: Siti Susanti Vs Hanik Dwi (berjilbab)

Foto 3: Puput, pecatur putri berbakat dari SMPN 1 Trenggalek





  1. Kelompok SD/MI/SDLB dan SMP/MTs
    • Juara I (Pertama)         : Edo Berlian Priambudi - SMP Muhammadiyah 5 Karanagan, Nilai 5,5;
    • Juara II (Kedua)          : Yoga - SMP Negeri 1 Trenggalek, Nilai 5,0;
    • Juara III (Ketiga)         : Mambaul - MTs Raden Paku, Trenggalek, Nilai 4,5
    • Juara IV (Harapan)      : Puput - SMP Negeri 1 Trenggalek, Nilai 4,5
Mambaul dan Puput memiliki score sama 4,5 namun Puput kalah dalam nilai WP, SB, dan PS sehingga Mambaul menduduki peringkat ketiga.
  1. Kelompok SMA/MA/SMK
    • Juara I (Pertama)         : Hanik Dwi - SMA Negeri 1 Durenan, Nilai 6,0;
    • Juara II (Kedua)          : Siti Susanti - SMA Negeri 1 Trenggalek, Nilai 4,5 (PS=17);
    • Juara III (Ketiga)         : Hanik Ramadhan - SMA Negeri 1 Durenan, Nilai 4,5 (PS=16);
    • Juara IV (Harapan)      : Rahmad - SMA Negeri 1 Tugu, Nilai 4,0
Seperti telah kuprediksi untuk kelompok  SMA/MA/SMK akan muncul kandidat Hanik Dwi, Siti Susanti dan Deni, ternyata hanya dua nama pertama yang berhasil; sementara Deni dikalahkan oleh Hanik Ramadhan dari SMAN 1 Durenan pada babak ke-5. Peringkat IV (Harapan) diraih oleh Rahmad dari SMAN 1 Tugu. Rahmad pada kejuaraan yang sama tahun 2009 menduduki peringkat III  kelompok SD/MI/SDLB dan SMP/MTs.

Pada kelompok SD/MI/SDLB dan SMP/MTs, juga ada peningkatan pemain dan kualitas teknik bertandingnya. Sebuah kejutan, Edo - siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 5 Karangan, berhasil menyabet juara I dengan 5 kali menang dan 1 kali remis. Edo, bocah asal desa Salamrejo (kecamatan Karangan) ini cukup berbakat, hanya kurang pembinaan. Dalam pada itu, Puput dari SMPN 1 Trenggalek, menurutku pecatur putri berbakat ini memang sedikit "lengah", sehingga terpaksa menerima kekalahan pada babak kelima, dan hanya mampu menduduki peringkat harapan.

Okay, apapun hasilnya, mari kita tingkatkan prestasi dan menjunjung tinggi sportivitas. Gens Una Sumus! 

Mungkin Anda juga ingin tahu kejuaraan catur tahun 2009: 

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (256) Artikel (222) Info (213) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (85) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (82) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (62) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Artikel-Copas (18) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (8) Fauna (8) Idul Fitri (7) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1) lebaran (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top