Sabtu, 27 Juni 2009

JPU LAMBAN : KIMPLING BEBAS

Trenggalek, Memo

Imam Waldi alias Kimpling, caleg PDP yang gagal dalam pemilu lalu akhirnya bebas dari tahanan. Pria bertubuh dempal yang dipenjarakan lantaran dugaan penipuan ini Selasa (23/6) dikeluarkan dari Rutan Trenggalek.

"Saya tidak berani menahan seseorang yang tidak ada dasar penahanannya. Siang ini saya keluarkan. Saya minta petugas agar Imam Waldi diantarkan ke kejaksaan, agar ditangani kejaksaan," ujar Kepala Rutan Trenggalek Krismono melalui salah seorang stafnya. Kimpling bebas dengan dasar selembar surat pembebasan yang diteken Karutan Trenggalek - Krismono.

Dalam surat tersebut, Krismono menyatakan bahwa pembebasan Kimpling demi hukum. Dengan alasan tidak ada dasar hukum yang mengharuskan penahanannya lebih lanjut. Artinya, jika Kimpling terus ditahan, maka yang berwenang untuk mehanan adalah Pengadilan Negeri Trenggalek. Sebab masa penahanan oleh kejaksaan telah habis, yaitu tiga puluh hari pertama, dilanjutkan dua puluh hari perpanjangan penahanan. Atau habis pada 22 Juni (pukul 24.00) kemarin malam.

Seharusnya sebelum masa tahanan habis, pihak Kejaksaan segera melimpahkan berkas dan tersangka kepada penegak hukum berikutnya. Atau dalam kasus Kimpling, diserahkan dari Kejaksaan Negeri Trenggalek kepada Pengadilan Negeri Trenggalek.

Diduga, akibat kelalaian JPU pelimpahan tersangka dan berkasnya terlambat dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Trenggalek. Buktinya Pengadilan Negeri Trenggalek baru menerima berkas pada pukul 10.00 kemarin. "Kami bertanggung jawab atas perkara saudara Imam Waldi alias Kimpling. Tadi kami baru terima berkas dari penyidik di Kejaksaan. Diterima jam berapa, silahkan cek ke panitera," ujar Kepala Pengadilan Negeri Trenggalek Lasito.

Tentang dugaan kelalainan ini, Jaksa Penuntut Umum Sigit Prabowo membantah. Dia mengatakan sudah mengirimkan surat berita acara pelimpahan kepada Imam Waldi yang ditembuskan ke Rutan Trenggalek pukul 22.00 kemarin malam. "Untuk penahanan itu kan masih ada waktu kesinambungan," ucap Sigit. Namun karena kemarin Pengadilan Negeri Trenggalek tidak mengeluarkan penetapan penahanan, Kimpling akhirnya bisa kembali pulang. Kemarin dia ditemani istrinya Leni Marlena. Sementara perkara terkait dugaan penipuan yang dituduhkan terhadap dirinya tersebut terus berjalan.

Sigit mengatakan dakwaan sudah lengkap, rencananya akan dibacakan dalam sidang perdana 30 Juni nanti. Sigit menerima hasil audit dari PT Succofindo di Surabaya yang menyatakan kerugian atas tindakan Kimpling pada PT Cipta Inti Parmindo selaku distributor perlengkapan sekolah mencapai Rp 1,18 miliar.

Dikeluarkan dari rutan, Kimpling mengaku senang. Dia berencana akan meminta bantuan penasehat hukumnya. "Kalau jaksa lupa ndak memperpanjang penahanan saya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya senang, bisa kembali ke rumah," ujar Kimpling.

Kimpling ditahan hampir empat bulan lalu atas laporan penasihat hukum PT Cipta Inti Parmindo Surabaya karena Kimpling melakukan penipuan dengan tidak menyetorkan uang hasil penjualan alat sekolah ke perusahaan, sehingga perusahaan mengalami kerugian.(Haz).

Catatan CahNdeso:

Masyaallah.....

AKSI JAMBRET KEMBALI TERJADI

Aksi jambret di wilayah Trenggalek makin menggila, senin (22/6) sekitar pukul 05.00 wib, seorang perempuan paruh baya bernama Mujilah (59) warga Rt 09 Rw 04 Dusun Ngrayung Desa Ngadirenggo Kecamatan Pogalan Trenggalek menjadi korban aksi penjambretan.

Tak tanggung-tanggung, kalung emas seberat sepuluh gram yang melingkar di lehernya berhasil di bawa kabur oleh pelaku, kejadian berawal saat korban naik sepeda pancal sendirian dari rumah menuju pasar Bendorejo untuk berjualan, sesampainya di depan gedung serbaguna Pogalan, tiba-tiba di pepet seseorang yang mengendarai sepeda motor mio dari arah belakang dan langsung menyambar kalung di lehernya.

Setelah mengalami kejadian naas tersebut, korban langsung melapor ke Polsek Pogalan yang hanya berjarak 200 meter dari lokasi kejadian, kepada polisi dia mengaku sebelumnya tidak merasa di buntuti seseorang, yang dia tau, tiba–tiba dirinya di pepet orang yang menaiki motor mio dan menjambret kalungnya, jelas korban.

Kabag Binamitra Polres Trenggalek AKP Jumadi membenarkan adanya peristiwa tersebut, dari hasil oleh TKP di lapangan, ciri-ciri pelaku merupakan DPO yang sudah lama di cari, jelas Kabag.

Kamis, 25 Juni 2009

PANSUS : LKPJ BUPATI HANYA BICARA KUALITAS


Bupati Soeharto, saat menyerahkan naskah LKPJ pada Dewan

Pansus DPRD yang diketuai oleh Kholiq, SH., M.Si. menilai APBD Trenggalek Tahun 2008 hanya bicara kualitas sehingga parameternya tidak jelas dan sulit dirumuskan. Kebijakan Pemerintah Daerah yang tertuang dalam APBD setiap tahunnya berdasarkan RPJMD yang merupakan arah pengggerak dinamika dan pengelolaan sumberdaya daerah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam kurun waktu lima tahun. Padahal pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, termasuk IPM bukan semata-mata bentuk out come kinerja pemerintah, melainkan akumulasi hasil kerja pemerintah dan masyarakat –yang juga harus dihargai- serta pengaruh-pengaruh eksternal baik lokal, nasional maupun yang bersifat global. Dengan analisa kualitatif seperti yang disajikan oleh LKPJ Bupati tersebut, Pansus melihat bisa berujung pada benturan pandangan berbagai pihak yang berkepentingan. Diharapkan ke depan perlu ada penyempurnaan dengan sajian kuantitatif untuk tolok ukur setiap kebijakan, mengingat RPJMD masih bersifat makro sehingga sulit dianalisa secara kuantitatif untuk uji efektivitas, produktivitas dan effesiensi kinerja Pemerintah Daerah dari realitas kinerja eksekutif. Indikator ekonomi makro tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan kinerja pemda.

Menyangkut Bidang Pemerintahan, SDM masyarakat masih perlu peningkatan kemampuan agar lebih berdaya melalui peran fasilitasi pemerintah. Komitmen APBD masih kecil, terlihat dari program-program pemberdayaan di bidang pertanian, perdagangan, koperasi, industri rumah tangga, UKM, dll. Bahkan inisiatif anggaran Rp.10 M untuk sapi perah terbukti tidak teregulasi dengan baik dan gagal dilaksanakan.

Kualitas SDM birokrasi yang dimiliki daerah ini terbilang cukup baik, rata-rata berpendidikan S1 dan S2. Hanya saja, karena penempatan yang tidak pas pada posisi yang sesuai dengan kompetensi dan profesionalismenya (the man is not on the right place), SDM birokrasi di daerah ini mengalami kelambanan produktivitas dan prestasi. Terutama pada tataran manajer-menengah -atau di bawahnya- yang bukan hanya membutuhkan kemampuan manajemen, tetapi masih diperlukan kemampuan tehnik, skill dan profesionalisme sesuai dengan basis pendidikannya. Dalam hal ini RPJMD dengan misi meningkatkan profesionalisme aparatur pemerintahan dan manajemen pemerintahan daerah yang efektif, produktif dan efisien, namun dilihat dari program-program yang tertuang masih meninggalkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance). Akibatnya penyampaian RAPBD sering molor dari jadwal yang ditetapkan peraturan perundang-undangan sehingga pelaksanaan APBD pun terlambat akhirnya berdampak lemahnya daya serap APBD. Itu merupakan bukti kinerja yang kurang efektif, tidak efisien, dan menghambat produktivitas. Intikator lain bisa diteliti dari kondisi subtansi administrasi pemerintahan desa. Banyak sekali desa yang terlambat membuat APBDes maupun LPJ, padahal ini merupakan kiat yang sangat strategis dalam rangka mewujudkan otonomi desa yang mandiri, dalam meningkatkan pelayanan publik; sekaligus sebagai bahan evaluasi sejauh mana implementasi PP 72 Tahun 2006 dapat dilaksanakan.

Tatakelola pemerintahan yang baik dalam konteks desentralisasi seharusnya terpola dalam pendelegasian beberapa wewenang khusus dari Bupati kepada Kepala SKPD. Tujuan deregulasi dan debirokratisasi delegasi ini adalah menghindari birokrasi yang sentralistik sekaligus agar jauh lebih produktif dan berkualitas. Misalnya mutasi tugas tenaga tehnis, seharusnya cukup ditangani dalam lingkup SKPD yang bersangkutan, bukan langsung oleh Bupati seperti selama ini. Pansus menegaskan, bahwa SDM birokrasi daerah ini tidak jelek, hanya penempatannya yang tidak tepat.

Kebijakan Umum Pengelolaan Keuangan Daerah, pengelolaan pendapat daerah selama ini juga masih konservatif -dari tahun ke tahun sumbernya sama, karena keterbatasan dalam penggalian sumber-sumber baru. Langkah-langkah inovatif dan berani sangat diperlukan di masa datang, agar bisa mengurangi ketergantungan untuk mencapai otonomi daerah yang mapan. Walau diakui upaya ke sana sudah dilakukan seperti pembentukan beberapa perusahaan daerah dan penyertaan modal usaha pada pihak ketiga, sampai saat ini terasa belum memberikan kontribusi memadai. Sementara maksimalisasi manfaat asset-asset daerah terkesan masih terbengkalai. Pengelolaan belanja daerah juga masih belum maksimal, hampir sepertujuhnya menjadi SILPA, yang bila diamati merupakan fakta gagalnya manajemen pembangunan yang dilaksanakan.

Pembiayaan daerah masih konservatif, sumber penerimaan masih tetap, sedang dari sisi pengeluaran telah diatur dengan Perda masing-masing. Diharapkan ke depan, setiap insiatif Perda terkait diperhitungkan lebih cermat.Secara umum, dalam Kebijakan Umum Pengelolaan Keuangan Daerah, dari sisi pertanggungjawaban keuangan daerah, Pansus sependapat dengan opini BPK.

Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah, urusan wajib diperlukan pendekatan manajemen yang lebih mengedepankan kejelian dan kepiawaian strategi dan pemilihan prioritas. Dalam urusan pilihan, komitmen APBD masih rendah, kecuali peternakan – urusan pilihan yang lain nyaris mengalamai stagnasi. Sementara dalam Penyelenggaraan Tugas Pembantuan, Pansus menilai selama ini DPRD hanya dijadikan legalisator oleh pemerintah daerah –sekedar tahu- sinkronisasi meragukan, pemerataan dan keadilan antar wilayah terabaikan. Fungsi KISS (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplikasi) seharusnya digulirkan secara faktual dan transparan agar pelaksanaan tugas-tugas pembantuan dan dekonsentrasi bisa dipertanggungjawabkan dengan baik dan bermakna, di semua lini dan sektor.

Penyelenggaraan Tugas Umum Pemerintahan, tiga catatan disampaikan, pertama sengketa lahan antara Pemerintah dan masyarakat, dikaitkan dengan program pemerintah sejuta lahan bagi masyarakat kurang mampu dan betul-betul membutuhkan. Kedua, kebijakan dana penanggulangan dan pencegahan bencana alam tidak mutlak dihabiskan jika memang tidak terjadi bencana atau upaya pencegahannya. Ketiga, kerja sama antara Daerah dengan KPU, Pansus berharap agar Daerah mengambil tanggung jawab sebagian anggaran dalam proses pelaksanaan pengamanan pemilu daerah.

Catatan Kawula Alit :

- Cuma ingin menggaris-bawahi, bahwa rekrutmen di lingkungan birokraksi dalam "teropongan" banyak kalangan, di mana saja di Indonesia -utamanya sejak digulirkan otonomi daerah- memang begitu itu. Mudah-mudahan, bila kelak terjadi pergantian pemerintahan baik daerah maupun pusat, rekrutmen bisa lebih dinamis dan berpola luas, demi bangsa dan negara. Bukan picik dan keningratan. Dengan demikian kawula alit dapat menikmati hidup sejahtera. Ngerti sendirilah, apa maksud rakyat bilang gitu !
- Rangkuman di atas saya tulis dengan bahasa sekenanya, karena keterbatasan intelektual dan pengetahuan, mungkin ada kekurangan, CahNdeso (yang kawula alit), mohon maaf.
- Copy naskah Rekomendasi Pansus ditandatangani oleh Ketua Pansus, bertanggal 21 Juni 2009.

Rabu, 24 Juni 2009

ANJANGSANA KE SMK NEGERI 1 SURUH, TRENGGALEK (By : CahNdeso)

Staf Pengajar ketika Study Banding Ke SMKN 1 Blitar

Mereka sedangunjuk kebolehan di Stand Pameran


Lahannya masih sangat luas (atas dan bawah)



Karnaval Hari Proklamasi 17 Agustus 2008

Karnaval Hari Proklamasi 17 Agustus 2008

Ini bukan demo minta dipenuhi kebutuhan sarpras sekolah mereka, tapi masih dalam suasana karnaval Hari Proklamasi 17 Agustus 2008

Siap masuk kelas


Sumadji, S.Pd., Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Suruh, Trenggalek.

SMK Negeri 1 Suruh, Trenggalek, didirikan awal tahun 2008, walaupun belum diresmikan namun sekolah ini sudah opersional untuk tahun ajaran 2008/2009 dengan siswa yang terdaftar sebanyak 78 anak, terdiri dari tiga rombongan belajar, yakni dua kelas untuk Bidang Keahlian Teknik Elektronika (program keahlian Teknik Audio Video) dan satu kelas Bidang Keahlian Teknologi Hasil Pertanian (program keahlian Pengolahan Hasil Pertanian Pangan). Yang menarik dari SMK negeri 1 Suruh ini, adalah icon Bidang Keahlian Teknik Elektronika (Program Keahlian Teknik Audio Video). Kabupaten Trenggalek memiliki 16 SMK Swasta dan 5 SMK Negeri yakni SMK Negeri 1 dan 2 Trenggalek, SMK Negeri 1 Pogalan, SMK Negeri 1 Watulimo, dan terakhir SMK Negeri 1 Suruh ini. Di seluruh kawasan ex-Karesidenan Kediri, SMK yang menggarap Program Keahlian Teknik Audio Video sebelumnya hanya ada di Blitar, dan kini bertambah satu lembaga lagi, yakni SMK Negeri 1 Suruh, Kabupaten Trenggalek.

Visi sekolah ini adalah terwujudnya lembaga pendidikan dan latihan yang menghasilkan tenaga kerja kompeten yang bersertifikasi nasional untuk mengisi lowongan kerja di dunia usaha dunia industri di era global. Sedang misinya ialah, melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi melalui pembelajaran serta penilaian kompetensi dan produksi; meningkatkan kualitas SDM melalui sertifikasi kompetensi, meningkatkan level kualifikasi pendidikan minimal S1/D4, sertifikasi assessor, diklat dan atau OJT di industri; mengembangkan potensi peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler ekstrakurikuler dan pembinaan kedisiplinan; serta melaksanakan layanan prima dalam pengelolaan sekolah melalui Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000.

SMK Negeri 1 Suruh berusaha menjaga kualitas proses belajar mengajar agar dapat menghasilkan lulusan yang berkompoten, sanggup mengembangkan sikap professional, mampu beradaptasi di lingkungan kerja, gigih dalam berkompetisi, berdisiplin dan ulet. Dengan demikian, masyakat merasa puas oleh layanan pendidikan dan pelatihan kejuruan sesuai program keahlian. “Oleh sebab itulah, sekolah bertekat untuk konsisten melaksanakan aktivitas, kendali mutu dan jaminan mutu sekolah, sehingga bisa mewujudkan kesejahteraan sekolah” demikian ujar Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Suruh, Sumadji, S.Pd.

Dari Aloon-aloon kota Trenggalek, Kediri Advertiser harus meluncur kurang lebih 14 KM ke arah selatan, di Jarakan -menikung ke barat melewati Kecamatan Karangan, barulah sampai di lokasi. Masuk lingkungan sekolah, udara terasa segar, khas kawasan hijau bebukitan. Tiba di sana, para siswa sedang tekun mengikuti proses belajar mengajar. Kepala Sekolah dan guru-guru yang tidak bertugas, menyambut saya dengan ramah dan memberikan keterangan yang saya perlukan dengan rinci dan gamblang. Jumlah tenaga guru yang ada sekarang sudah memadai, 22 orang. Namun hanya 5 orang yang PNS sedang 17 lainnya masih berstatus GTT (non-PNS). Staf tata usaha 4 orang, pesuruh dan penjaga sekolah masing-masing 1 orang, dan semuanya masih PTT (non-PNS).

Saya sangat kagum melihat antusiasisme, ketekunan dan kedisiplin para GTT dan PTT, sekalipun –katakanlah- mereka sebenarnya hanya memperoleh imbalan yang pas-pasan (maksud saya, pas-pasan untuk BBM pulang-pergi dan satu kali makan siang?! Sabar sementara, ya Kawan-kawan) Spontanitas hati saya bermunajad pada Robb, semoga Pemerintah Kabupaten Trenggalek secepatnya merubah status mereka jadi PNS, agar mereka lebih berdedikasi, memberikan konstribusi terbaiknya demi mencetak generasi muda Trenggalek yang berwawasan global, mandiri, dan berguna bagi negeri ini.

SMK Negeri 1 Suruh berdiri di atas lahan seluas 2 HA, baru memiliki 3 ruang teori dan 1 kamar kecil (WC). Bayangkan, berapa banyak dan apa saja fasilitas sarana prasarana yang belum ada di sekolah ini? Padahal, di sini lah akan digodok kader-kader penerus bangsa, prospeknya kelak bukan hanya menerima siswa dari kawasan Trenggalek, tetapi juga dari daerah lain seperti Pacitan, Ponorogo, Tulungagung, dll. Setahu saya, banyak SMA/SMK favorit di Kabupaten Trenggalek ini yang menerima murid baru atau siswa mutasi dari luar kabupaten, bahkan luar propinsi dan pulau Jawa.

Kepala SMK Negeri 1 Suruh dan seluruh staf pengajar, berharap usulan yang diajukan sekolah ke Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Pusat via Kantor Dinas P dan K Kabupaten Trenggalek pada tahun 2009 ini bisa segera dikabulkan seluruhnya. Apa yang mereka ajukan adalah kebutuhan yang patut dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan yang kelak diharapkan memiliki standar nasional. Sarpras yang paling mendesak antara lain (termasuk meubelair dan peralatannya), ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, ruang praktek Program Keahlian Teknik Audio Video dan Bidang Keahlian Teknologi Hasil Pertanian, ruang perpustakaan, laboratorium fisika, kimia dan bahasa, ruang unit produksi dan gudang. Tambahan minimal 3 ruang teori juga harus segera ada karena kini sudah menjelang tahun ajaran baru.

Nah, bagi lulusan SMP/MTs di daerah Trenggalek dan sekitarnya, mengapa tidak milih SMK N 1 Suruh untuk melanjutkan pendidikan? Ingat : SMK BISA !
(Catatan: Sekali pun tulisan ini pernah terbit di media "KA -Kediri," bukan berarti dengan saya muat di sini untuk promosi. Ini bukan promosi. Saya hanya sekedar memuatnya, karena kehabisan "bahan tulisan" dan kebetulan memasuki Tahun Ajaran Baru).

Tiga Siswa SMP Negeri 1 Durenan Raih NUN Tertinggi Se-Kabupaten Trenggalek

Anwar Habibi, Dika Ardilla dan Rosida Fitrianingsih.

Tiga siswa SMPN 1 Durenan yang baru saja lulus Unas telah berhasil meraih NUN tertinggi se-Kabupaten Trenggalek. Anwar Habibi meraih NUN 39,15 dengan nilai Bahasa Indonesia (9,40), Baha­sa Inggris (10,00), Matematika (10,00) dan IPA (9,75).
Sedang NUN Dika Ardila juga 39,15 dengan nilai Bahasa Indonesia (9,60), Bahasa Inggris (9,80), Matematika (10,00) dan IPA (9,75). Untuk Rosida Fitrianingsih mendapat 39,10 dengan nilai Bahasa Indonesia (9,80), Bahasa Inggris (9,80), Matematika (10,00) dan IPA (99,50).

Keberhasilan mereka seakan telah melengserkan tradisi SMP Negeri 1 Trenggalek sebagai "Juara Nun Tertinggi se-Kabupaten Trenggalek" selama beberapa tahun. Rasa suka cita atas keberhasilan ketiganya tidaklah membuat mereka lantas membanggakan diri sebagai yang terbaik. Mereka mengakui, apa yang telah diraih adalah anugerah dari Allah. Seluruh siswa dan guru di sekolah mereka mengucap puji syukur ke hadirat Yang Maha Kuasa, mereka semua berbahagia.

Drs. Catur Winarno, MM., Kepala SMP Negeri 1 Trenggalek dengan tulus menyampaikan ucapan selamat pada ketiga siswa tersebut. "Mereka memang layak menjadi yang terbaik. Tidak selamanya sekolah di perkotaan (maksudnya : SMP di kecamatan kota yang difavoritkan/CahNdeso) selalu jadi yang terbaik", katanya dengan sumringah.

Catatan CahNdeso:

Selamat ya, atas keberhasilan Panjenengan yang hampir mencapai NUN sempurna. Semoga, Allah SWT meridloi dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi Panjenengan di masa akan datang. Sukses dan selalu sukses... Alangkah bahagianya, bila anak saya bisa seperti Panjenengan...

Selasa, 23 Juni 2009

HATI-HATI, PENJAHAT KINI MERAJALELA DI TRENGGALEK

(1)
Masyarakat Kabupaten Trenggalek dalam dua bulan terakhir dibuat resah dengan maraknya aksi pencurian barang berharga yang tersimpan dalam jok motor, seperti yang dialami oleh Putri Agus Tina (15) pelajar SMPN I, warga Kauman Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek, Rabu (18/6) pukul 08.00 WIB telah kehilangan HP Nokia.

Kejadian bermula saat korban berolah raga, lari-lari bersama dua temannya di stadion Kelutan Trenggalek, sebelumnya korban menyimpan HP nokia type 3110.C miliknya di dalam jok sepeda motornya yang berada di tempat parkir.

Satu jam kemudian korban beristirahat dan langsung menuju tempat parkir untuk mengambil HP-nya, namun setelah jok dibuka ternyata sudah raib, setelah diteliti tempat kunci jok telah rusak, menyadari dirinya jadi korban aksi pencurian, korban segera melapor ke Polres Trenggalek.

Kabag Binamitra Polres Trenggalek AKP Jumadi membenarkan kejadian tersebut, saat ini pelaku masih dalam penyelidikan, "kami juga menghimbau kususnya masyarakat Trenggalek agar lebih waspada terhadap pencurian," ucapnya.

(2)
Komadi (70) warga Rt 03 Rw 02 Desa Bogoran Kecamatan Kampak Trenggalek, hari senin (15/6) sekitar pukul 23.30 wib, rumahnya hampir kemalingan, untung saja dirinya saat itu masih terjaga dan akhirnya aksi pencurian yang akan dilakukan oleh pelaku ,berhasil di gagalkan.

Kejadian berawal pada Senin malam, saat itu korban berada di dalam rumah dan masih terjaga, ketika mau beranjak tidur dirinya mendengar pintu depan rumahnya di congkel oleh seseorang, lantas korban mendekat kepintu tersebut ingin mengetahui siapa pelakunya, namun belum sempat mengintip, pintunya sudah mulai terbuka di dorong oleh pelaku dari luar.

Mengetahui hal tersebut korban segera menahan pintu dengan kedua tangannya agar tidak terbuka, akhirnya terjadi dorong mendorong beberapa saat antara pelaku dan korban, karena kalah kuat pelaku berhasil membuka pintu, namun setelah pintu terbuka pelaku langsung melarikan diri di kegelapan malam setelah melihat korban berada di depan pintu, dan korbanpun dapat mengenali pelaku, yakni Suryadiono (28) warga Rt 20 Rw 02 Desa Bogoran Kecamatan Kampak.

Kabag Binamitra Polres Trenggalek AKP Jumadi membenarkan kejadian tersebut, setelah kejadian percabaan pencurian di rumahnya, korban pagi harinya melapor ke Polsek Kampak, barang bukti berupa pisau dan sabit yang di gunakan pelaku untuk mencongkel pintu sudah kami amankan, jelasnya.

Catatan CahNdeso:

Hati-hati adalah basis keamanan. Rasullah menganjurkan kita bertawakkal, tapi bukan dengan pasrah saja, melainkan harus ada usaha dan tindakan. Beliau tidak pernah meninggalkan unta yang Beliau kendarai tanpa lebih dahulu mengikatnya di tempat yang aman. Bismilahitawakkaltualallah, lalu kita berjalan kaki di tepi sebelah kiri (kalau di Trenggalek), bukan lantas kita berjalan di tengah hilir mudiknya motor di jalan raya yang ramai. Iya, kan?!

PEMKAB SERIUS GARAP AGROPOLITAN

Kepala Bappeda Trenggalek Imam Suprapto ,SH,MSI

Perekonomian Kabupaten Trenggalek sebagian besar ditopang oleh sektor pertanian, sebanyak 72% penduduk mengandalkan sektor pertanian. Akan tetapi, hal ini tidak didukung oleh ketersediaan lahan yang dimiliki. Luasan kepemilikan lahan petani di Kabupaten Trenggalek sangat sempit, yaitu berkisar 0,3 hektare. Kondidi tersebut mengakibatkan pendapatan petani sangat rendah.

Salah satu program terobosan dalam rangka peningkatan pendapatan petani di Kabupaten Trenggalek adalah dengan Pengembangan Kawasan Agropolitan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Bendungan, Watulimo, dan Pule. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dari sektor pertanian dalam arti luas dan sebagi model untuk dikembangkan di wilayah kecamatan lain di Kabupaten Trenggalek.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bappeda Kabupaten Trenggalek, Imam Suprapto, SH., M.Si. saat Rapat Koordinasi Sinkronisasi dan Integrasi Kegiatan Primatani di Kawasan Agropolitan Kabupaten Trenggalek, yang diselenggarakan di Graha Bhawarasa Kabupaten Trenggalek, Selasa 16 Juni 2009. Acara ini dihadiri oleh Bupati Trenggalek, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim, Dr. Sudarmadi Purnomo, Peneliti BPTP, Prof. Dr. Gatot Kartono, Kepala SKPD Pemkab Trenggalek, Tim Prima Tani BPTP Jatim, serta Camat Bendungan, Pule, dan Watulimo.

Bupati Trenggalek, H. Soeharto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam upaya peningkatan kinerja program agroplitan di Kabupaten Trenggalek perlu dukungan inovasi teknologi tepat guna (TTG) yang spesifikasi lokasi, sehingga diperlukan sinergisme kelembagaan antara sumber inovasi teknologi dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Kehadiran BPTP Jawa Timur melalui "Prima Tani diharapkan dapat memicu dalam menginisiasi program Agropolitan di Kabupaten Trenggalek.

Agenda yang telah dilaksanakan Kabupaten Trenggalek dalam kegiatan Agropolitan antara lain: Teknologi pengelolaan terpadu budidaya sapi perah, teknologi pengelolaan terpadu sistem usaha tani hortikultura dan perkebunan, teknologi pengelolaan agroindustrial hasil perikanan, bantuan peralatan pengolahan hasil pertanian/perkebunan/perikanan dan peternakan berupa peralatan teknologi tepat guna spesifik lokal, demplot peralatan pengolahan hasil pertanian/perkebunan, dan demplot pengembangan kawasan agropolitan.

MAHASISWI ITU MENGADU KE POLRES TRENGGALEK

Tidak terima dianiaya sang pacar, WSS (20) berstatus mahasiswi di salahsatu universitas malang, warga Rt 04 Rw 01 Dusun Tengger Desa Prambon Kecamatan Tugu Trenggalek, minggu (21/6) pukul 10.00 wib mendatangi Polres untuk melaporkan peristiwa tersebut. Dihadapan polisi, gadis mungil berwajah manis ini menceritakan peristiwa penganiayaan yang dilakukan oleh kekasihnya itu, yakni TS (24) termasuk salah satu anggota Polres Trenggalek, warga Dusun Keningaran Kelurahan Surodakan Trenggalek.

Peristiwa penganiayaan itu sebenarnya terjadi pada minggu (14/6) pukul 13.00 wib, saat korban berada dirumah bibinya yang bernama Suhartini warga Rt 05 Rw 01 Dusun Krajan Desa Nglongsor Kecamatan Tugu, tiba-tiba korban di datangi tersangka yang langsung menampar pipi menendang dan mencekik lehernya.

Dikatakan korban, peristiwa tersebut terjadi berawal ketika korban menuntut tersangka untuk segera menikahinya. Tuntutan ini disampaikan korban yang merasa khawatir dan cemburu karena pernah memergoki tersangka melakukan pertemuan dengan wanita lain, jelas korban di hadapan polisi.

Kabag Binamitra Polres Trenggalek AKP Jumadi membenarkan adanya laporan peristiwa penganiayaan yang dilakukan oleh anggotanya, namun belum terbukti, kasusnya masih dalam penyelidikan, ucapnya sembari tersenyum ramah.

Catatan CahNdeso:

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia lahir dalam era Reformasi, yakni tanggal 8 Januari 2002. Alangkah sangat tragis dan menyedihkan, bila sekarang masih ada aparat kepolisian yang "mungkasi" masalah dengan gaya "cowboy", gaya lama. Jangankan dalam urusan pribadi, dalam penyidikan/pencarian bukti/pengumpulan keterangan/interogasi sehubungan dengan kasus pidana pun, gaya ortodoks ini tidak pantas dan dilarang oleh Hukum. Dalam melaksanakan tugas negara, aparat kepolisian harus selalu berorientasi pada norma hukum dan norma sosial, seperti diamanatkan Pasal 19 ayat 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang POLRI. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan serta menjunjung tinggi hak azazi manusia.

Kalau dengan urusan pribadi, gimana, ya?

Pak Polisi, tegaknya Hukum dan Keadilan di negeri tercinta ini tergantung panjenengan sami. Dan kami kawula alit memohon perlindungan pada panjenengan semua. Sumonggooooo..........

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun, Penjual Es Itu Telah Wafat

Jenazah alm. Sawal ketika akan dievakuasi petugas


Seorang kawula alit berprofesi sebagai penjual es keliling bernama Sawal (60) warga Rt 03 Rw 01 Dusun Ndarang Kelurahan Tamanan Trenggalek senin (22/6) sekitar pukul 15.00 wib, tewas mendadak di trotoar jalan Soekarno – Hatta, depan SMAN I Trenggalek.
Di katakan Suparji (50) warga Blitar, saksi yang mengetahui pertama kali korban meninggal, “ Sebelum ajal merenggutnya korban terlihat dari arah selatan, mengayuh sepeda gerobak menjajakan dagangan es, kemudian berhenti di trotoar depan SMAN I, korban langsung tiduran.” Jelasnya.

Lima menit kemudian ada seorang yang ingin membeli es, setelah di panggil beberapa kali korban tak mau bangun, akhirnya pembeli itu saya bantu untuk membangunkannya, namun saya sangat terkejut, kondisi korban sudah meninggal, ke mudian ada beberapa orang yang melapor peristiwa itu ke Polres Trnggalek, ucap Suparji.

Kabag Binamitra Polres Trenggalek, AKP Jumadi membenarkan Peristiwa tersebut, jasadnya setelah di evakuasi dan di bawa ke RSUD Dr Sudomo Trenggalek untuk di mintakan visum, hasilnya tidak ada tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban, diperkirakan Sawal meninggal akibat terkena serangan jantung.

UNAS PROGRAM PAKET "C" : DIIKUTI 155 SISWA TAK LULUS UNAS

Sebagian peserta Unas Paket C, tekun mengerjakan soal

Selasa, (23/6) pukul 13.00 hari pertama Unas Program Paket C Setara SMA Tahun 2009 di Kabupaten Trenggalek berlangsung aman, lancar dan tertib. Dari jalur formal 155 siswa yang tidak lulus dalam Unas SMA/MA/SMK yang lalu semuanya mengikuti, yakni dari SMA : 40, MA : 34, dan SMK : 81 siswa. Sedangkan total peserta Unas Paket C regular adalah 584 siswa yang tersebar di 11 kecamatan.

Menurut Dra. Siti Marfuah, Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan Trenggalek, peserta dari jalur formal terdiri dari 81 jurusan IPA dan 74 jurusan IPS. Pelaksanaan Unas sesuai dengan peraturan, petunjuk dan arahan dari Depdiknas dan BNSP, materi soal dan lembar jawaban yang telah disiapkan oleh BNSP sejak datang di Trenggalek hingga hari “H” sangat dijaga kerahasiaan dan kemanannya. Walaupun pengawasan tidak seketat Unas SMA/MA dan SMK yang baru lalu, namun semuanya dilakukan dengan sangat disiplin, ketat dan propsedural, di semua jenjang pendidikan diawasi dengan ketat seperti tahun lalu. Tim pengawas dari Panitia Unas dibantu oleh Tim Independen dan satuan Polres Trenggalek tanpa uniform. Para pengawas ujian menjalankan tugasnya dengan seksama serta berusaha untuk menjaga ketertiban dan kelancaran Unas Programm Paket C ini sesuai dengan juknis dan aturan yang telah ditetapkan pemerintah.

Ujian Nasional Program Paket C ini berlangsung selama 4 hari mulai hari inii dan berakhir tanggal 26 Juni 2009, Mapel yang diujikan sama dengan Unas yang lalu. Lokasi ujian di SDN 1 Sumbergedong, SMKN 2 (Trenggalek), SDN 2 Kamolan (Durenan), SDN 2 Dompyong, Hidayatullah Sumurup (Bendungan), SMP Islam (Gandusdari), SDN Pakel (Watulimo), SDN 3 Karangan (Karangan), SDN3 Prambon (Tugu), SDN 3 Jombok (Pule), SMK Ir. Sutami (Panggul), MI Masaran (Munjungan), Ponpes Darussalam (Dongko) dan SMPN 1 Suruh (Suruh).
Ditanya, bagaimana prospek hasil Unas Paket C kali ini, Dra. Siti Marfuah optimis siswa akan mampu mengerjakan semua materi dengan baik. Dan prosentase kelulusan akan lebih tinggi dari tahun lalu. “Tahun 2008 prosentase kelulusan Unas Paket C di Trenggalek mencapai hampir 100 prosen” demikian Kabid PNFI Dinas Pendidikan Trenggalek menjelaskan.

Senin, 22 Juni 2009

SENANDUNG KAWULA ALIT "ANAKKU TIDAK LULUS UNAS"

Sabtu, 20 Juni, hasil Unas SMP diumumkan. Ternyata 30 siswa SMP Sore Pule, tidak lulus semua, SMP Muhammadiyah Watulimo, dari 38 siswa, 35 tidak lulus. Masih adanya sekolah dengan angka ketidaklulusan 100 persen telah mengundang banyak cemoohan dari para pengamat pendidikan di daerah ini. Padahal selama ini Dinas Pendidikan Trenggalek mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk peningkatan mutu pendidikan kita.

Tidak bermaksud meremehkan kinerja instansi terkait (termasuk lembaga sekolahnya), namun tulisan ini mencoba menyoroti (bukan mengevaluasi) dari sudut pandang "kawula alit". Data kelulusan SMP kemarin, terlihat bahwa yang menuai angka terbanyak siswa tidak lulus adalah sekolah yang berlokasi di pedalaman, sementara SMP (negeri/swasta) yang siswanya berhasil lulus terletak di daerah datar dan perkotaan. Apakah sekolah yang di pinggiran ini membawa pengaruh terhadap proses belajar mengajar?

Parameter keberhasilan kegiatan belajar mengajar sudah ditetapkan secara jeli dan akurat oleh para pakar. Prosedur pembinaan siswa pun sudah ada tuntunan dan pedomannya secara teoeritis dan pragmatis. Andaikata, siswa di sekolah sudah diberikan pendidikan sesuai dengan standardisasi dari Departemen Pendidikan, bukankah suatu hal yang sangat mengerikan bila masih juga terjadi ada sekolah yang siswanya 100% tidak lulus UNAS?

Penyebab ketidak lulusan yang tragis semacam ini harus dievaluasi secara jeli. Jangan hanya menyalahkan siswa dan orang tua murid. Pihak sekolah dan instansi terkait, harus berani bertanggungjawab dan mengakui dengan ksatria bahwa mereka memang telah melakukan kesalahan. Selama UNAS diadakan angka ketidak-lulusan didominasi oleh sekolah swasta utamanya yang ada di pelosok. Bukan berarti para guru di sekolah-sekolah swasta tidak mampu menerapkan paedagogis untuk menggiring murid mereka agar berprestasi. Namun faktor kesejahteraan guru di sekolah swasta ini barangkali juga telah membuat mereka "tersandung".

Peningkatan mutu pendidikan mutlak dilaksanakan, peningkatan kesejahteraan guru PNS juga sudah digulirkan oleh pemerintah diantaranya melalui sertifikasi sebagai "cek" untuk memperoleh tambahan tunjangan fungsional guru. Lalu, apakah perlakuan terhadap guru di sekolah-sekolah swasta sudah dimaksimalkan demi kesetaraan penghasilan mereka dengan "waktu" yang mereka habiskan di sekolah? Belum maksimal!

Banyak hal yang menyebabkan siswa tidak lulus. Walaupun demikian, dari gambaran data dan fakta yang terjadi di daerah ini, yang paling prioritas adalah kesejahteraan guru/pengelola lembaga tersebut. Yang akhirnya, berujung pada nasib siswa sekolah itu! Sungguh mengenaskan, dan kita dapat merasakan, seandainya anak kita juga tidak lulus! Masyaallah...!

Bagi para birokrat di daerah ini, mungkin tidak terlampau pusing. Paling juga hanya mengatakan, kasihan, kasihan dan kasihan anak-anak itu. Bukan itu yang dibutuhkan, tapi kinerja yang profesional, dan bertanggung jawab. Pemkab, dalam hal ini Dinas Pendidikan Trenggalek, seharusnya lebih merapatkan barisan dan menerapkan kebijakan tersendiri terhadap pembinaan sekolah-sekolah swasta. Bukan hanya dalam masalah tehnis, namun juga yang non tehnis.

Data yang masuk dari sekolah-sekolah, bukan untuk ditumpuk saja atau cuma dibaca. Perlu evaluasi dan solusi. Untuk itu, dibutuhkan kecerdasan intelektual, kepekaan hati nurani dan keluasan pengalaman. Evaluasi, bukan sekedar data tertulis yang ada di meja kerja. Kenyataan di lapangan terkadang lebih "buruk" dari apa yang disajikan dalam laporan.

Wahai, bagaimana rasanya jika yang tidak lulus itu adalah anak seorang bupati atau kepala dinas? Apakah orang tua siswa itu bisa menerima kenyataan? Tulisan ini, hanyalah "senandung kawula alit", bukan apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa, juga tidak bisa dijadikan apa-apa.

Nurani Soyomukti, Pemuda Trenggalek yang Terbitkan Dua Belas Buku









Berawal dari Broken Home, Luapkan Perasaan dengan Menulis Puisi

Berawal dari senang menulis puisi, Nurani Soyomukti, warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, berhasil mengeluarkan dua belas buku. Bagaimana perjalanan pemuda usia 29 tahun itu hingga memantapkan hati menjadi penulis?

Dua hari lalu, bertempat di aula STKIP PGRI Trenggalek, Nurani didampingi dua pembicara lain. Yaitu Mamik Nuriyah yang juga penulis, serta Suparlan (Kasi Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek).

Ketiganya terlihat gayeng menghadapi mahasiswa dalam acara ngaji buku berjudul Memahami Filsafat Cinta dengan tema Menggugat Cinta Palsu, Mewujudkan Cinta Sejati. Buku tersebut merupakan buku ketujuh Nurani yang diterbitkan pada Juni 2008 lalu.
“Buku ini sempat tidur selama lima tahun. Isinya memang agak sentimentil, dengan landasan filasafat yang sampai sekarang sebenarnya saya masih mencari-cari,” kata alumnus Hubungan Internasional (HI) Universitas Negeri Jember ini.
Dalam buku setebal 169 halaman tersebut, Nurani mengulas tentang cinta lewat kajian secara plural. Ada cinta antara dua jenis kelamin manusia sampai kajian cinta lewat perspektif sosial dan pandangan filsafat. “Cinta bagi saya hanyalah sebuah kata. Cinta sejati adalah sebuah tindakan, aksi nyata yang memunculkan produktivitas dan memberi manfaat, tidak hanya pada diri sendiri tapi juga sesama,” kata Nurani.
Begitulah diskusi yang berlangsung selama dua jam ini memberi pencerahan kepada mahasiswa. Meski akhirnya masih satu sisi saja pemahaman dari mahasiswa, jauh dari materi yang ingin disampaikan sang penulis.
Nurani yang kini memutuskan kembali ke Trenggalek ini mendapat kesenangan saat dia memulai menulis, dari karya puisi. Itu dilakukannya saat mengenyam pendidikan di bangku SMAN Durenan pada 1997 lalu. Mejadi anggota OSIS menangani seni dan sastra, hobi menulisnya semakin terasah, akhinya muncul keinginan untuk terus menulis. “Latar belakang saya dari keluarga broken home, yang membuat saya minder. Lewat tulisanlah saya bisa mengeluarkan keresahan saya. Seiring dengan berjalannya waktu dan bekal pengalaman, saya jadi sadar kalau menulis bisa sebagai cara untuk mendapatkan uang,” tutur lelaki yang terjun sebagai aktivis mahasiswa ini.
Menginjak dunia mahasiswa, Nurani melebarkan kualitas tulisan dalam berbagai artikel, opini dan beberapa buku berhasil diterbitkan. Antara lain; Pendidikan Berspektif Pendidikan diterbitkan Ar-ruzz Media Jogyakarta pada Januari 2008. Berikutnya buku Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas, Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme, Ada lagi Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neoliberalisme diterbitkan Garasi Jogyakarta juga pada Januari 2008.
Ada juga Hugo, Chavez Vs Amerika Serikat diterbitkan Garasi Jogyakarta pada Februari 2008, Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez dan Politik Radikal diterbitkan Resist Book Jogyakarta pada Mei 2007.
Tahun 2007, di tengah kesibukannya di Jakarta sebagai peneliti dan pekerjaan lain Nurani mulai produktif lagi. Dia sempat vakum menulis saat asyik menjadi aktivis dan sempat menjadi buron lantaran membakar bendera salah satu partai politik dalam satu aksi massa.
Kini Nurani memutuskan untuk kembali ke Trenggalek. Beberapa tulisan dalam tahap penyelesaian. “Kontradiksi dalam diri, dari keresahan, kekecerawaan dan realita kehidupan, serta pergaulan luas menjadi modal untuk karya tulis,” ucap peraih juara umum pertama penulisan Esai Pemuda, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Jakarta tahun 2007 lalu itu.
Ingin membagi kemampuan menulisnya, Nurani dan teman-temannya menggagas program Sekolah Litera atau sekolah menulis. “Tujuannya untuk membangun kepribadian dan wawasan dengan cara menjadi pembaca karya literer berupa sastra dan buku, serta menjadi penulis,” ujar Nurani. (Titin Ratna, Ratu)

Bulan Depan, Depdiknas Luncurkan CD Ujian Nasional

JAKARTA | SURYA Online - Pada akhir Juli mendatang, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan meluncurkan kepingan Compact Disk (CD) tentang Ujian Nasional. CD itu bisa dijadikan pegangan informasi bagi masyarakat luas.

Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Burhanudin Tola dalam jumpa pers ‘Hasil Ujian Nasional 2008/2009′ di Jakarta, Senin (22/6). Burhanudin menegaskan, pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, akan tetap konsisten melaksanakan UN.

“Karena secara ilmiah kami melihat adanya perubahan yang baik pada kualitas belajar siswa dan hasil yang diperolehnya,” ujar Burhanudin.

Untuk itulah, segala informasi mengenai UN, mulai persiapan hingga pelaksanaan, perlu dihadirkan di dalam sebuah CD yang akan diluncurkannya pada akhir Juli mendatang. Nantinya, CD itu bisa dijadikan pegangan informasi bagi masyarakat luas.

“Di dalamnya kami sajikan lengkap mengenai ujian nasional sebagai data atau informasi yang transparan dan bisa digunakan oleh semua pihak,” ujarnya. ltf/kcm

Meski Diprotes, UN Jalan Terus

JAKARTA | SURYA Online - Kendati banyak pihak mendesak dan menuntut ujian nasional (UN) dihapuskan terkait banyaknya permasalahan di dalamnya, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tetap akan menggelar UN.

Rencana tersebut disampaikan oleh Ketua BSNP Mungin Eddy Wibowo dalam jumpa pers “Hasil Ujian Nasional 2008/2009″ di Jakarta, Senin (22/6). Didampingi oleh Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Burhanudin Tola, dan anggota BSNP, Djemari Mardapi, Mungin mengatakan, pelaksanaan UN sudah sesuai peraturan yang berlaku.

Pada 1984, ujian pernah diselenggarakan, baik oleh daerah maupun sekolah. Namun, pelaksanaannya tidak berhasil meningkatkan pendidikan. Melalui PP No 10 Tahun 2005 Pasal 63 (1), disebutkan, untuk penilaian kompetensi secara nasional, harus melalui ujian nasional.

“Ujian nasional tetap akan kami laksanakan karena sudah dilakukan secara transparan, obyektif, dan kredibel. Salah kalau ada yang mengatakan UN menghalangi kelulusan siswa,” ujar Mungin.

Senada dengan Mungin, Burhanudin Tola menambahkan bahwa pemerintah akan tetap konsisten melaksanakan UN. “Secara ilmiah, kami melihat adanya perubahan yang baik pada kualitas belajar siswa dan hasil yang diperolehnya,” ujar Burhanudin.

Untuk itu, pada akhir Juli mendatang, Depdiknas akan meluncurkan kepingan compact disk (CD) tentang ujian nasional.

“Di dalamnya akan kami sajikan lengkap mengenai ujian nasional sebagai data atau informasi yang transparan dan bisa digunakan oleh semua pihak,” ujarnya. lft/kcm

Minggu, 21 Juni 2009

Biaya Mahal, Danang Menolak Pilih SMU RSBI


Danang dan Mega

Tulungagung (beritajatim.com) - Rasa senang masih tercermin dari wajah yang berseri-seri dua siswa SMP Negeri II Tulungagung, yang telah merebut peringkat 1 dan 2 NUN terbaik se-Jawa Timur. Danang Setiawan dan Fatima Kus Megawati, keduanya hanya bisa bersyukur kepada Tuhan.

Ditemui di SMP Negeri II Tulungagung Jl Panglima Sudirman, Tulungagung, Sabtu (19/6/20009), dua siswa yang masih mengenakan seragam pramuka ini, tampak ceria. Mega, sapaan Fatima Kus Megawati didampingi kedua orang tuanya, dr. El-Kusbandono (55) dan Agustina Ratna (47), mengaku baru saja menjalani tes masuk Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) di SMU 1 Boyolangu, Tulungagung.

Mega bersikukuh untuk dapat masuk ke SMU RSBI. Anak bungsu dari tiga bersaudara yang gemar dengan membaca novel dan main piano ini bercita-cita ingin menjadi dosen. "Saya ingin
menjadi dosen," ujar Mega, siswa yang tidak menyukai senetron ini.

Sementara Danang, datang ke sekolahnya bersama Lilik Jatmikawati, ibunya. Danang, peraih peringkat pertama tingkat Jatim itu baru saja datang dari SMU Kedungwaru, melihat proses penerimaan siswa baru. Berbeda dengan Mega, bocah asal Jl Gusti Ngurah Rai Gg 7, No 290 Tulungagung itu mengaku memilih jalur reguler.

Kenapa Danang tidak ingin masuk sekolah berkategori RSBI? Siswa yang lahir 11 September 1993 silam itu mengaku bahwa biaya untuk sekolah di RSBI sangat mahal. Dengan kondisi orang tua yang pas-pasan, yaitu ibu bekerja sebagai staf di DPRD Tulungagung, Danang merasa kasihan.

"Kakak saya masih kuliah, dan adik saya juga sekolah, saya kasihan dengan orang tua jika harus masuk ke SMU RSBI. Lebih baik di SMU Kedungwaru yang terkenal dengan olah raga basketnya, sekaligus untuk mengembangkan bakat saya," ujar Danang.

Putra dari pasangan Mulyono dan Lilik Djatmikawati ini mengaku tidak menemui kesulitan ketika mengerjakan soal ujian. Melainkan, Danang hanya khwatir apabila kunci jawabannya rusak. Danang mengaku tidak ada kiat khusus dalam menghadapi ujian, hanya belajar seperti hari-hari biasa dan meminta do'a kepada orang tua. "Yang tidak kalah penting adalah doa orang tua,” kata Danang yang juga rajin mengerjakan Shalat Tahajud ini.

Secara terpisah Wali Kelas 9 A Suratno merasakan kebanggaan yang sama dengan para guru dan Kepsek atas prestasi dua siswanya. “Ini tidak lain juga karena hasil kerja keras kami dalam memberikan bimbingan belajar yang diberikan pada tambahan pelajaran di luar jam, jadi mereka selalu semangat belajar khusunya dalam mengerjakan soal,” pungkasnya.

Catatan CahNdeso :

Jika di Tulungagung demikian, bisa jadi di Trenggalek pun begitu. Biaya sekolah di SMU yang "menggeliatkan kawula alit ", bisa melemparkan generasi berpotensi ke lembah droup out. Sungguh beruntung putra putri para warga berduit, sekalipun anak-anak mereka lemah dalam struktur otaknya, namun gagah perkasa dalam kondisi brankas orang tuanya. Fenomena inilah yang berujung pada perdagangan sertifikat pendidikan formal. Apalah jadinya negeri ini bila paradigma ini terus berlanjut?

Geliat Kawula Alit


Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek, berusaha untuk meningkatan kualitas pelayanan terhadap semua lapisan masyarakat. Kinerja yang maksimal dari aparat berbagai unsur dan sektor, dari semua lembaga di daerah, semua lini dan front, baik legeslatif, yudikatif maupun eksekutif. Secara serempak dan gempita, penuh semangat juang, didukung dengan semua fasilitas dan perangkat mulai administrasi, hingga infrastruktur, rembug warga, rembug desa, hingga pada peraturan daerah yang bersumber pada peraturan-perundangan yang berlaku di Negeri kita tercinta.

Namun, mungkin ada ketidak-sempurnaan, kekurangan yang tidak bertolak dari "niat", melainkan lebih disebabkan oleh kealpaan para pelakunya, yang pernah Anda rasakan, atau pernah Anda saksikan, atau pernah Anda dengar dari keluhan teman yang pernah mengalaminya, kekurangan-kekurangan itu bisa Anda sampaikan dalam blog "Kawula Alit Bersuara". Tulislah "uneg-uneg" Anda dengan bahasa yang lugas, tegas, tetapi sopan dan terhormat.

Blog "Kawula Alit Bersuara", akan mencoba meneruskan "keluhan" Anda, pada instansi/lembaga terkait untuk konfirmasi dan menanggapinya sesuai hak dan kewenangan yang mereka miliki. Hal-hal yang menyangkut masalah layanan publik biasanya tidak lepas dari instansi/lembaga yang menangani kepentingan umum seperti kesehatan, pendidikan, atau apa saja.

"Kawula Alit Bersuara" bukan dikelola oleh pemerintah, namun kreasi dari kawula alit Trenggalek, yang mencoba untuk menampung, menyalurkan aspirasi dan "jeritan" sesama kawula alit di daerah ini. Mungkin, kita -kawula alit- sudah memiliki wakil di legeslatif, tetapi kita sadar bahwa wakil-wakil kita di legeslatif terlalu sibuk dan sangat jarang berkomunikasi apa lagi tatap muka dengan rakyat yang telah memilih mereka. Barangkali, dengan tunjangan Informasi dan Komunikasi Teknologi yang mereka terima, para wakil kita di legeslatif sempat membaca keluhan Anda yang tertulis dalam blog "Kawula Alit Bersuara" ini. Kemudian, dengan demikian mereka bisa menangkap aspirasi kita, lalu mereka memperjuangkannya dengan segenap daya dan upaya, demi masa depan daerah kita. Sehingga, sebelum kita melakukan demonstrasi, apa yang kita inginkan bisa mereka berikan. Kita -kawula alit- hanya punya keinginan untuk : hidup tenang, aman, sejahtera dalam nuansa keadilan dan koridor hukum yang berlaku.

Mari, tulis saja apa yang menurut Anda perlu diperbaiki, demi masa depan yang lebih baik dan barokah bagi Trenggalek yang kita cintai.

Jumat, 19 Juni 2009

Letkol Arm Hermawan Gesang Prakoso, Dandim Trenggalek

Letkol Arm Hermawan Gesang Prakoso, Dandim Trenggalek Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya (DSJ), Kolenel Arm. Yul Aviandi, memimpin upacara serah terima jabatan Komandan Kodim 0806/Trenggalek dari LetKol. Inf. Sutarman kepada LetKol. Arm. Hernawan Gesang Prakoso, bertempat di lapangan Makodim 0806/Trnggalek, Kamis 18 Juni 2009. Hadir dalam serah terima jabatan ini Wakil Bupati Trenggalek, Mahsun Ismail,S.Ag.MM., Seketraris Daerah Kabupaten Trenggalek, Kepala SKPD lingkup Pemkab Trenggalek, tokoh masyarakat dan alim ulama, serta Komandan Kodim se-wilayah Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun. Komandan Korem 081/DSJ, Kolenel Arm. Yul Aviandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa mutasi jabatan di lingkungan Korem 081/DSJ merupakan hal yang biasa terjadi, dan merupakan wujud dari proses pembinaan satuan dan pembinaan personil baik melalui Tour of Duty (ToD) maupun Tour of Area (ToA) sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam menjawab tantangan tugas.

Selanjutnya, Kolenel Arm. Yul Aviandi, atas nama Komandan Korem 081/DSJ mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setingi-tingginya kepada Letkol Inf. Sutarman atas pelaksanaan tugas dan pengabdiannya dalam memimpin para prajurit serta keluarganya di Kodim 0806/Trenggalek. “Semoga pengalaman tugas di Kodim 0806/Trenggalek dapat menjadi bekal dalam mengemban tugas di tempat yang baru sebagai Pabandya Binwanmil Kodam V/Brawijaya”, lanjutnya. Kepada Letkol Arm. Hernawan Gesang Prakoso yang telah mendapatkan kepercayaan dan kehormatan sebagai Dandim 0806/Trenggalek, Komandan Korem 081/DSJ mengucapkan selamat datang dan selamat bertugas. “Saya percaya dengan bekal pengalaman penugasan selama ini Saudara akan mampu memimpin Kodim 0806/Trenggalek” kata Kolonel Arm. Yul Aviandi.

Pada akhir sambutannya, Komandan Korem 081/DSJ menekankan kepada seluruh prajurit Kodim 0806/Trenggalek untuk bersikap netral dalam Pemilu Presiden yang akan datang, karena netralitas tersebut sudah menjadi komitmen TNI kepada seluruh komponen bangsa dalam rangka menjaga kesatuan dan persatuan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pejabat "Nyabu" Divonis 11 Bulan



Foto : A.S. ketika dipersidangan Rabu, 17 Juni 2009

A.S., mantan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Trenggalek, Rabu (17/6) divonis hukuman penjara 11 bulan potong tahanan dan denda Rp 1 juta oleh Pengadilan Negeri Tulungagung. Ketua majelis hakim Eko Sugianto mengatakan A.S. terbukti bersalah karena tanpa hak, memiliki, menyimpan psikotropika jenis sabu-sabu, dan secara meyakinkan melanggar pasal 62 Undang-Undang RI nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropik. Dengan putusan ini berarti A.S. harus menjalani kurungan selama lebih kurang 7 bulan lagi di Lembaga Pemasyarakatan Tulungagung, karena dirinya sudah ditahan sejak 20 Februari lalu. Kasusnya diungkap polisi tatkala dia sedang berada di Kafe 2000 di Desa Kauman, Kecamatan Kauman. Tulungagung dan tertangkap basah sedang “on” dengan sabu-sabu seberat 0.063 gram sebagai barang bukti.

Usai membacakan putusan, majelis hakim memerintahkan agar A.S. tetap ditahan. Selain itu, majelis hakim juga membebankan biaya perkara sebesar Rp 5 ribu kepada A.S. yang sebelum jadi Kepala BPPKB pernah pula menjabat Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek. Apabila denda yang dibebankan tidak dibayar, maka pidana akan bertambah dua bulan. Sedangkan barang bukti sabu-sabu seberat 0,063 gram akan dirampas dan dihancurkan. Hal yang meringankan A.S.antara lain di berstatus PNS serta berjanji tidak mengisab sabu-sabu lagi. A.S. yang duduk di kursi pesakitan mendengarkan keputusan hakim tanpa didampingi istrinya. Dirinya menyatakan tidak banding atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim yang diketuai Eko Sugianto itu. “Apakah saudara menerima keputusan peng­adilan ini? Ataukah perlu waktu sekitar satu minggu untuk mengajukan banding?” tanya Eko Sugianto terhadap A.S..Tanpa pikir panjang, pertanyan itu langsung jawab oleh A.S. “Ya, saya menerima, Pak”.

Sementara Lina Dwi Lestari, Jaksa Penuntut Umum (JPU) masih belum dapat memutuskan. “Kami masih pikir-pikir dulu,” kata Lina dalam sidang. Sedangkan A.S langsung ngeloyor masuk tahanan usai berjabat tangan dengan majelis hakim. Awalnya A.S. pria yang tinggal di Jalan Panglima Sudirman Trenggalek itu diancam 5 tahun penjara. Namun dalam sidang tuntutan, A.S. hanya dituntut 16 bulan, alasan pihak Kejaksaan, dia hanya pengguna. Namun kemudian oleh Pengadilan Negeri Tulungagung divonis 11 bulan penjara potong tahanan.

Catatan CahNdeso:

Mudah-mudahan, bisa dijadikan pelajaran yang bermanfaat bagi rekan-rekan A.S.Hentikan "nyabu", dan fokus pada tugas yang diemban. Stamina sexual tidak perlu dilipatgandakan dengan cara-cara ini. Itu cara busuk yang akan membunuh diri sendiri. Mau coba-coba??? Heeee...eem, CahNdeso sudah lama "ngelirik" kelakuan segelintir pejabat dan birokrat maupun aleg yang "nyrempet" dunia narkoba dan perek. Jangan dikira polisi kita buta, ya.. Bos!!!

Namun, CahNdeso berdoa dengan tulus, semoga Pak A.S. sabar dan tawakkal menjalani hukuman. Allah, ternyata masih sayang pada Bapak sehingga sebelum Bapak "menghablur" dalam dunia itu, Allah langsung menegur.

Hari Lingkungan Hidup di Pendopo Kabupaten Trenggalek



Wabup Mahsun Isma’il salami peserta apel HLH di Pendopo Kabupaten


Hari Lingkungan Hidup di Kabupaten Trenggalek, diperingati bersamaan dengan pelaksanaan Apel Integrasi, bertempat di halaman Pendopo Kabupaten Trenggalek, 17 Juni 2009, dengan pembina Apel, Wakil Bupati Trenggalek, Mahsun Ismail, S.Ag.MM. Tema Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2009 adalah “Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim”.

Wakil Bupati trenggalek, Mahsun Ismail, S.Ag.,MM, dalam amanatnya menyampaikan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh ketergantungan dalam penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak dan gas bumi yang mengakibatkan meningkatnya suhu di permukaan bumi. Hal tersebut membawa akibat mencairnya es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, banjir besar-besaran, dan gelombang badai besar.

Wakil Bupati menambahkan bahwa pemerintah seharusnya mulai menggunakan energi alternatif seperti energi matahari, air, dan angin yang lebih ramah lingkungan, selain melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan, serta melakukan penanaman pohon di lingkungan sekitar kita.

Perubahan iklim jelas menyengsarakan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, sudah saatnya kita, pemerintah, industri dan masyarakat, bahu-membahu berupaya untuk menghambat terjadinya perubahan iklim. Padahal, menurut laporan ADB (Bank Pembangunan Asia), ”The Economic of Climate Change in Southeast Asia: A Regional Review” menyebutkan bahwa penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di Asia Tenggara adalah Indonesia, yaitu sebesar 59 persen, lanjut Mahsun Ismail, S.Ag.,MM.

Pada akhir sambutannya Wakil Bupati Trenggalek, Mahsun Ismail, S.AG.,MM mengingatkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, oleh karena itu setiap orang juga berkewajiban memelihara kelestarian lingkungan hidup, mencegah serta menanggulangi pencemamaran dan keruskan lingkungan hidup.Selesainya apel, acara kemudian dilanjutkan dengan tasyakuran bertempat di Pendopo Kabupaten Trenggalek.

PACAR-PACAR NVT BELUM PENUHI PANGGILAN PENYIDIK

Sejak pemeriksaan pada Nvt siswi SMK Karya Darma (KD) akhir bulan lalu, hingga kemarin penyidik kasus video porno yang diduga dilakukannya belum berlanjut, pasalnya hingga kemarin dua orang saksi yang diundang penyidik untuk dimintai keterangan belum juga hadir. "Sampai sekarang belum datang, kabarnya yang bersangkutan ada di Surabaya,” ujar Kapolres Trenggalek AKBP Desmawan Putra melalui Kasatreskrim AKP Wajib Santoso.

Menindaklanjuti beredarnya temuan video porno, penyidik Polres Trenggalek telah memeriksa kepala sekolah dan guru BP SMK Karya Dharma, setelah itu penyidik juga memeriksa Nvt, kepada penyidik Nvt membantah perempuan dalam video adalah dirinya. Dijelaskan Wajib, penyidik kini tengah memanggil dua orang lagi, yang tak lain adalah cowok Nvt,karena saat dimintai keterangan Nvt mengaku pernah melakukan hubungan badan beberapa kali dengan pacar-pacarnya, dari keterangan tersebut penyidik ingin mencari tahu sejauh mana hubungan badan yang dilakukan antara Nvt dengan pacar-pacanya tersebut. “Apakah pada saat melakukan hubungan badan itu ada yang sengaja merekam atau bagaimana,” ujar Wajib.

Surat panggilan sudah dilayangkan pihak kepolisian dua kali, namun hingga panggilan kedua tersebut yang bersangkutan belum juga datang. “Alasannya yang bersangkutan berada di luar kota, sebenarnya surat panggilan sudah diterima orang tuanya,” ucap Wajib.“Sementara, sampai sekarang baru Nvt dan pihak sekolah yang di mintai keterangan, penyidik belum bisa menetapkan tersangkanya, kami harus mencari bukti yang lengkap dulu untuk menentukan tersangkannya” jelas Wajib.

Kamis, 18 Juni 2009

GELIAT BISNIS BONSAI DAN TANAMAN HIAS DI TRENGGALEK






Foto: Bonsai "Kimeng" (Terbaik I pada Pameran Tahun 2008) Bonsai "Gambiran", Bonsai "Wahong", dan Bonsai "Serut"


Di tengah arus globalisasi dan transformasi teknologi , ternyata bisniz Bonsái dan tanaman hias di daerah ini masih potensial dan menjanjikan. Namun tidak sembarang orang mampu menekuni usaha ini dengan baik dan menuai sukses. Sudah banyak contoh para pemodal yang mengalami kebangkrutan karena kurang professional, namun bagi mereka yang memang berbakat dan professional, usaha yang satu ini selain menguntungkan juga menyenangkan.

“Dengan menekuni usaha ini, saya bisa mengerti bahwa kehidupan ini ada yang mengaturnya. Dan saya jadi lebih dekat dengan alam, lebih mencintainya lagi”, kata Eko Priyono (30), Ketua Paguyuban Bonsai “Dangkelan” dari Pogalan. Lokasi penjualan Bonsai di daerah ini sebenarnya cukup banyak dan tersebar, namun yang paling dikenal masyarakat adalah di sekitar jalan Brigjen Sutran, depan Mapolres Trenggalek, sebelah timur Hotel Widowati. Ada banyak jenis bonsai yang dijual, hampir semuanya adalah hasil hutan daerah ini. semisal jenis “wahong”, “serut” dan “gambiran”. Ketiga jenis ini kelasnya boleh dikata sudah “go international”, dan harganya berkisar antara Rp.500 ribu hingga puluhan juta rupiah. Untuk jenis “gambiran” (hokiante) yang setengah jadi ditawarkan Rp.35 juta, sedang untuk tanaman hias harganya berkisar antara 70 ribu hingga 1 juta rupiah. Keistimewaan dari “hokiante” menurut pakar dan mereka yang percaya apabila dipajang di rumah bisa membawa berkah, hokki, kesehatan dan ketentraman dalam rumah tangga.

Bagi penggemar bonsai dan tanaman hias, CahNdeso menganjurkan sebaiknya mengunjungi kawasan depan Mapolres Trenggalek ini. Andaikata belum berniat beli, anda bisa melihat-lihat alih-alih refreshing sembari memperluas cakrawala pengetahuan tentang bonsai dan tanaman hias, dan juga untuk menghirup udara segar yang rendah polusi. Para pengusaha, produsen dan penggemar berencana mengadakan pameran pada bulan Juni 2009. Dalam kesempatan tersebut akan dipajang semua koleksi bonsai dan tanaman hias terbaik yang dimiliki oleh warga Trenggalek. Sebuah ajang yang langka bagi pengusaha bonsai untuk mempromosikan koleksi mereka, dan bagi masyarakat Trenggalek merupakan wahana pengenalan sekaligus menambah ilmu untuk bekal “back to nature”, dan mencintai lingkungan hidup.

Budi Daya Bonsai di Pesisiran Munjungan

Kreatif, inovatif dan prduktif adalah salah satu kunci untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup di era global. Itulah antara lain yang dilakukan warga di pesisiran selatan Bumi Menak Sopal, terutama ketika ikan sedang tidak musim. Contohnya adalah budi daya Bonsai, yang didesain dari sisa-sisa batang pohon. Sisa-sisa pohon yang berbentuk brungkahan , diolah lalu ditata dan dibentuk dengan gaya artistik. Bonggolan pohon itu banyak terdapat di pulau-pulau kecil atau perengan laut (tebing-tebing pulau di pantai selatan). Bisa juga, dari tetumbuhan yang sudah lama mati dan bekas hutan jarahan yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan.

“Kami punya aturan yang harus kami taati yaitu saat-saat mengambil bonggolan, kami harus menggantinya dengan menancapkan bibit-bibit pohon seperti sengon, jati, atau pinus”, ujar Rokhman Hudi, warga RT 05/RW 01 Munjungan. Rokhman sudah cukup lama menekuni budi daya ini, demikian pula dengan rekan-rekannya Slamet Hadinoto warga desa Masaran dan Adam, warga dukuh Ngalinan (Kecamatan Munjungan).

Hebatnya, mereka tak segan-segan untuk memburu sisa-sisa pohon itu, sampai pesisir Banyuwangi dan Pacitan Jawa Timur. Selain sebagai mata pencaharian, kreasi budi daya ini juga bertujuan untuk memanfaat limbah pohon yang sudah mati menjadi hiasan yang indah dan artistik sekaligus mencoba melestarikan hutan di mana mereka mendapatkan bonggolan itu yakni dengan menanam kembali bibit pohon baru sebagai ganti brungkahan yang mereka ambil.

Kata Rokhman, dia mampu menjual koleksinya dengan harga sampai puluhan juta rupiah, bahkan dari keterangannya ada yang pernah di bawa ke Istana Negara sebagai penghias. “Harganya tergantung jenis dan desaign-nya, Mas“ ucapnya polos. Disain tak hanya memenuhi karakteristik seni, namun juga ditentukan bobot kesulitan dalam pembuatannya.

Jenis-jenis Bonsai koleksi pemuda-pemuda kreatif ini bervariasi, ada “waung laut”, “laban semut”, “apak laut”, “wareng laut”, “santigi laut” dan lainnya. Peminatnya banyak, ada yang datang dari Ponorogo, Madiun, Kediri juga dari sekitar Trenggalek, ujar para pembudi daya Bonsai dengan wajah sumringah penuh kebanggaan.

SUKARELAWAN PENGAMAN LAUT DI PESISIR MUNJUNGAN

Pengamanan di kawasan pinggiran laut, termasuk laut selatan,ternyata tidak hanya dilakukan oleh para aparat AIRUD yang tergabung dalam kepolisian saja, tetapi ada juga yang dilakukan oleh warga setempat. Dengan semangat untuk melestarikan ekosistem laut, kesadaran para warga muncul, merasa turut bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan laut sebagai lahan perburuan para nelayan, sumber kelestarian kehidupan habitat laut.

Kesadaran seperti itulah tampaknya yang diyakini dan dibelanya mati-matian,begitulah itulah yang dilakukan oleh Sulih Prasetyo, warga RT 01/RW 01 desa/kecamatan Munjungan, Trenggalek, anggota kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas), sebuah lembaga pengawasan pengairan yang sering dikenal sebagai “polisinya nelayan”.

“Kami harus menjaga dengan baik keamanan para nelayan dan juga semua kekayaan yang dimiliki oleh laut, khususnya di kawasan Munjungan”, ujar Sulih bersemangat. Dikatakan, selain laut, sungai-sungai juga termasuk dalam tanggung jawab yang diembannya. Baik di laut maupun di sungai, ujar Sulih, orang tidak dibenarkan mengggunakan strum atau pun putas, lantaran perilaku seperti itu membahayakan kelestarian habitat dan lingkungan laut serta sungai yang menjadi sasaran perburuan ikan.

Untuk Munjungan, lembaga ini sudah diresmikan sejak beberapa tahun lalu, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Peresmiannya dilakukan di Pantai Prigi Watulimo Trenggalek, berbarengan dengan peresmian pelabuhan. Sulih merasa bangga, meski secara resmi sampai kini pihaknya belum nenerima tunjangan atau gaji dalam bentuk apa pun. “Saya merasa bangga menunaikan tugas ini”, ujarnya ketika bertemu CahNdeso belum lama ini dengan semangat yang tulus.

Rabu, 17 Juni 2009

MARBANI TERPILIH JADI WAKET DEWAN

Marbani saat mencontreng



Suasana pemilihan langsung wakil ketua DPRD Trenggalek

Proses panjang perjuangan Partai Demokrasi Perjuangan untuk mendudukkan kader-kadernya di pimpinan DPRD Trenggalek agaknya sudah ada titik terang keberhasilan. Kemarin Senin (15/06) bertempat di aula Sidang paripurna DPRD Trenggalek, Marbani anggota dewan asal Watulimo dari FPDIP meraup suara terbanyak dalam gelar rapat paripurna dengan agenda pemilihan Pengganti antar waktu kursi wakil ketua dewan yang telah ditinggalkan Hardjio. Marbani mendapatkan 19 Suara sedangkan lawannya Agus Priyanto,SH yang menjabat Ketua FPDIP mendapatkan 10. Sisanya 2 abstain dan 1 suara tidak Sah.

Rapat yang di gelar mulai pukul 09.00WIB itu di hadiri 32 Anggota dari 45 anggota dan langsung di pimpin wakil Ketua Drs Sukono ,MM dengan pemandu kegiatan yang sekaligus panelisnya Setwan DPRD Trenggalek Mahfud Effendy ,SH,MM. Bak pilihan Bupati wakil Bupati , acara pagi itu melalui tata tertib dan mekanisme pemilihan. Sukono juga membeberkan dasar –dasar diadakannya pemilihan tersebut mulai dari usulan Fraksi PDIP, usulan panmus Panmus sampai usulan ke Gubernur Jatim. Bahkan calon yang diusulkan didudukkan di kursi paling depan dengan menghadap pemilih yang anggota dewan. Saksipun juga dipilih dari masing-masing anggota fraksi yang mewakili.Ketika acara pemilihan langsung dengan sistem tertutup belum di mulai ,hujan interupsi dilayangkan berkali-kali kepada pimpinan sidang.

Yosep sumanto, anggota FPDIP meminta tidak dilakukan Voting , menurut anggota dewan yang juga ketua PAC Karangan PDIP itu budaya voting bukanlah mendidik, tapi hal itu langsung disambut interupsi dari fraksi lain. “Yang penting lancar sesuai hasil panmus” , teriak Joko Among dari FPKB. Akhirnya Sukono menengahi dan membenarkan alasan Joko memang sudah sesuai mekanisme. Setelah proses berlangsung dan ke-32 anggota dewan yang hadir sudah mencontreng, Marbani meraup angka contrengan tertinggi dengan 19 suara, sedangkan Agus Priyanto mendapat 10 suara yang abstain 2 suara serta satu suara rusak.

Sesaat sesudah pilihan Marbani dan Agus langsung berangkulan, kemudian Marbani mendapat ucapan selamat dari rekan-rekannya. "Mudah-mudahan amanah ini bisa saya emban dengan sebaik-baiknya” Ujar aleg yang kemarin mencalonkan lagi tapi gagal. "Kita akan usulkan hasil ini ke Gubernur , kalau tidak ada ganjalan mungkin sudah dapat SK pada bulan Juli nanti“ Kata Mahfud .

Selasa, 16 Juni 2009

PEMILU PRESIDEN Satu Putaran Munculkan Kekuatan Dominan

Selasa, 16 Juni 2009 | 04:55 WIB

Jakarta, Kompas - Jika Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2009-2014 berlangsung satu putaran, itu akan memunculkan kekuatan dominan di pemerintahan. Ini akan melemahkan pengawasan dan keseimbangan kekuatan di pemerintahan.

”Jika pilpres berlangsung satu putaran, semua kekuatan akan terdorong untuk bergabung dengan pemenang. Jadi dominasi tidak hanya terjadi di eksekutif, tetapi juga dalam interaksi dengan lembaga lain, seperti legislatif,” kata Airlangga Pribadi, pengajar Ilmu Politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Jumat (14/6) lalu.

Airlangga juga melihat, wacana pilpres satu putaran, seperti yang belakangan muncul, merupakan bagian dari upaya mobilisasi opini yang biasa dilakukan pada masa kampanye.

Namun, Direktur Eksekutif Cirus Surveyors Group Andrinof Chaniago melihat, wacana pilpres cukup satu putaran dapat menjadi teror intelektual di masyarakat. Jadi pengkritisan perlu dilakukan, terutama dengan melihat siapa yang memunculkan wacana itu untuk pertama kali dan apa kepentingannya.

Andrinof menduga wacana ini sengaja dimunculkan oleh pihak tertentu, dengan harapan agar

yang bersangkutan akan dilihat berjasa jika pilpres pada akhirnya berlangsung satu putaran.

Menurut Arbi Sanit, pengajar politik dari Universitas Indonesia, menilai munculnya wacana pilpres sebaiknya berlangsung satu putaran merupakan hasil analisis. Namun, lanjut Arbi, kemungkinan pilpres berlangsung satu atau dua putaran saat ini masih relatif sama besar. (NWO)

RSUD Dr. Sudomo Trenggalek Tambah Fasilitas

Demi memaksimalkan pelayanan bagi penderita paru-paru, RSUD Dr. Sudomo Trenggalek dikucuri dana Rp 1,4 miliar. Dana sebesar itu digunakan untuk pengadaan alat-alat kedokteran paru-paru.Selama ini kalau ada yang berat kita kirim keluar (rujuk). Ke Surabaya atau ke Malang, dengan adanya peralatan baru, nantinya bisa ditangani sendiri, “ kata Direktur RSUD Dr. Sudomo - Sardjono Bhaskoro. Sardjono menambahkan, tidak ada kesulitan tenaga ahli. Juga dokter spesialis paru juga sudah ada. “Ya, semuanya sudah kita siapkan, dan memang untuk paru ini kan sangat dibutuhkan. Karena pasien penyakit ini jumlahnya cukup banyak,” kata Sardjono.

Pada tahun ini, selain anggaran sebesar itu, untuk rumah sakit yang berada di Jalan Dr. Sutomo Trenggalek itu juga mendapatkan kucuran dana untuk programpemeliharaan sarana dan prasarana sebesar Rp 3,7 miliar. Dengan rincian Rp 70 juta untuk pemeliharaan rutin/ berkala pengolahan limbah rumah sakit.

Selain itu untuk jasa pelayanan kesehatan Rp 3 miliar, kemitraan alih tehnologi kedokteran an kesehatan Rp 50 juta, pengembangan type rumah sakit Rp 400 juta,
serta rehabilitasi ruang operasi khusus paru-paru Rp 200 juta.

Masih ada lagi anggaran untuk pos lain. Yaitu pengadaan perlengkapan keperawatan Rp 300 juta, rehabilitasi gudang instalasi farmasi Rp 450 juta,pembangunan ruang pelayanan gakin Rp 250 juta, penambahan ruang rawat inap kelas III dari dana DAK Rp 1 miliar, serta pengadaan alat-alat kesehatan juga dari dana DAK Rp 376 juta.

Catatan CahNdeso:

Mugi-mugi kawula alit kados kulo menika, mboten ngantos menikmati fasilitas paru-paru niku. Mugi-mugi sedaya kawula Nggalek ugi semanten ugi.
Mugi-mugi, anggaran kang semanten agengipun mboten ndadosaken ingkang "melaksanakan kegiatan" gerah amnesia ndadak.
Ya Allah Gusti Kang Murbheng Dumadi, kawula nyuwun kanthi sanget, Panjenengan bimbing sedaya paramedis, perawat, bidan lan dokter wonten RSUD amrih tansah ngugemi "kode etik" tur panggah mituhu dumatheng tuntunan iman, kebak sih-katresnan tuwin jujur angsale ngladosi pasien kang mertamba kanthi piandel kartu Jamkesmas. Amin ya Mujibasshailin.

SWASEMBADA BERAS, TRENGGALEK TERIMA PENGHARGAAN DARI PRESIDEN

Bupati Soeharto dan Presiden SBY


Keberhasilan swasembada beras nasional, tak akan tercapai tanpa dukungan dan keberhasilan swasembada beras di tingkat daerah atau kabupaten. Tahun ini, kerja keras Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Perhutbun) Kabupaten Trenggalek dalam mendukung suksesnya swasembada beras nasional tersebut, membuahkan hasil yang ditandai dengan peningkatan produksi padi di Kabupaten Trenggalek.
Dengan keberhasilan ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek menerima piagam penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhonono, yang diserahkan kepada Bupati Trenggalek, H. Soeharto, saat pembukaan Jambore Sekolah Lapang Pengelolaan Sumber Daya Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang dilaksanakan di Asrama haji Donohuda, Boyolali, Jawa Tengah, pada Senin 8 Juni 2009.

Menurut Ir. Syamsudin, selaku Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Pertahutbun) Kabupaten Trenggalek, penghargaan tersebut diberikan kepada Kabupaten Trenggalek karena dinilai berhasil meningkatkan produksi pangan, dalam hal ini produksi padi di atas 5%. Untuk tahun ini peningkatan produksi padi di Kabupaten Trenggalek mencapai 14% dengan total produksi mencapai 149 ribu ton. Dengan pencapaian tersebut, Kabupaten Trenggalek menduduki peringkat 5 dalam peningkatan produksi pangan di Jawa Timur.

Untuk mencapai hasil tersebut tidaklah mudah. Pemerintah Kabupaten Trenggalek, melalui Dinas Pertahutbun telah melakukan berbagai upaya, diantaranya melalui sekolah lapang pertanian di tiap desa yang bertujuan untuk meningkatkan SDM petani. Untuk sekolah lapang ini di setiap kelompok tani disediakan lahan seluas 25 hektare, dan satu hektare-nya untuk laborat lapang.

Selain itu, Dinas Perhutbun juga memberikan bantuan berupa bibit unggul kepada petani, baik hibrida maupun non hibrida. Dengan bibit unggul tersebut diharapkan mampu menghasilkan yang lebih baik. Untuk menunjang hal diatas, Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga memperbaiki saluran irigrasi, dan bantuan pompa air untuk daerah yang airnya sulit.

Catatan CahNdeso:

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga Nggalek swasembada beras. Hayooo...siapa yang bilang Nggalek hanya mampu beli beras ke luar derah? Sekarang terbukti, cangkul dan sabitku, sawah dan panenanku, kinerja dan produktivitasku sanggup meraih penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Makanya, jangan "rempeyek dimet-remet" jangan ngenyek banget-banget, marang aku kawula alit, petani yang gak kenal birokrasi, yang cuma ngerti rasa trasi.

Tapi...apa harga beras hasil panenanku bisa memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari untuk selama musim tanam hingga panen akan datang, ya?

Waaaah....hidup dengan beras thok yang gak bisa....! Mudah-mudahan, dengan swasembada beras ini, kami kawula alit - khususnya petani - bisa lebih diperhatikan dan ditingkatkan kesejahteraannya. Mudah-mudahan ada "pasukan khusus" yang didrop oleh Kanjeng Bupati dan para pentholan Birokrasi Nggalek, untuk menumpas hama tikus dan menyebarkan pupuk bersubsidi dengan penuh tanggungjawab dan kesungguhan. Amin......

“NGINCENG” SIDANG PARIPURNA DEWAN


Sebuah Lokomotif, siap berangkat !
(Foto: Saya ada di mana, ya?!)

Senin, 15 Juni 2009, pukul 19.47 (WIB), musim “mbediding”, saya meluncur dari rumah menuju Gedung DPRD Trenggalek, tiba di sana pukul 19.58. Para peserta sidang dan undangan lainnya,sudah banyak yang hadir - mereka telah siap di tempat duduk masing-masing dalam ruang sidang. Pukul 20.02 sidang dibuka. Anggota Dewan yang hadir hanya 26 orang, absen 19 orang termasuk Ketua Dewan Dawam Ismail, juga Akbar Abas, yang lain saya lupa. Kepala SKPD, lembaga, institusi dan hampir semua pejabat teras nampaknya hadir (para birokrat ini setiap acara yang dihadiri “kanjeng bupati”, saya lihat sangat tertib, antusias dan banyak yang berulah agar diperhatikan. Mungkin mereka ingin tebar pesona).

Malam ini, saya pakai batik yang terbilang masih baru, celana hitam, bersepatu – menurut saya sudah necis-lah, sudah rapi, dan berharap teman-teman (atau ada seseorang yang mungkin mau jadi teman saya) di gedung Dewan, nantinya tidak akan malu lagi menyapa saya. Memang benar, beberapa aleg (anggota legeslatif) yang ketemu sebelum sidang dimulai, mereka menyalami dan menjabat tangan saya, menyapa dengan gaya yang tidak mirip iklan salah satu produk rokok (maksud saya, tidak berjiwa “bukan basa-basi”). Kemudian saya duduk di lobbi persis di depan ruang sidang. Saya, biasanya berlagak tidak serius mengikuti acara sidang. Duduk bersandar jok kursi, santai, mata terpejam seolah ngantuk, tidak perduli dengan sekitar. Staf Setwan berseliweran, sibuk menata-nata. Saya diam.

Malam ini agenda sidang hanya satu, penyampaian pemandangan fraksi-fraksi atas pelaksanaan APBD Tahun 2008 dan LKPJ Bupati Trenggalek. Mengingat aleg yang hadir hanya 26 dari 45 walaupun Kanjeng Bupati dan Wakilnya hadir, saya jadi malas untuk serius (jadi bukan berlagak gak serius seperti biasa). Dari rumah, saya membawa angan, tentu akan ada “pemandangan dari fraksi-fraksi” yang menolak LKPJ dengan suara lantang dan tegas. Seperti misalnya, “APBD kita kok 99% untuk pembangunan fisik, yang non fisik alias pembinaan IES-Q (maksud saya pembangunan mental spiritual, gitu loh!) kok Cuma sekian prosen?” Dengan bla-bla-bla data terperinci. Namun, apa lacur?!
Ada lima fraksi di DPRD Trenggalek. F-PKB diberi kesempatan pertama untuk berorasi, lalu menyusul F-PDI, dst. Pembicara F-PKB adalah beliau Al-Mukarrom Imam Musadji. Saya lebih terkesan dengan “voice”nya yang mendekati bariton dari pada gramatikal, kosa kata, atau bahkan kalimat yang disajikan. Kritik PKB yang agak condong merakyat adalah dibatalkannya Pilkades di Desa Ngerdani dan Pemerintah Kabupaten menunjuk Pejabat Kades yang tidak “pas” karena orang itu sekarang masih bermasalah dengan hukum (sudah divonis pengadilan). Selebihnya, saya memprediksi (bukan su’udzon) : kemungkinan besar, pandangan F-PKB atau bahkan fraksi-fraksi yang lainnya akan sama, yakni penuh dengan formalitas, solidaritas, stabilitas dan “tas-tas” lain yang dirangkai dengan kalimat-kalimat puitis, sastrawi, agamis, penuh arti yang hanya dimengerti oleh mereka (anggota Legeslatif dan Eksekutif). Sementara saya yang “kawula alit” mengalami kesulitan untuk mencernanya.

Akhirnya, hanya sembilan menit saya bertahan di jok kursi depan ruang sidang, Al-Mukarrom belum selesai dengan “puisi”nya, tepat pukul 20.11 saya pulang, sambil menolak pemberian kotak berisi jajanan yang diulurkan oleh petugas dari Setwan (bukan bermaksud menolak rizki, hanya malu). Lebih baik saya di rumah, duduk bercengkerama dengan istri dan anak-anak menikmati acara-acara yang ditayangkan telivisi.

Sampai di rumah, ternyata TV yang ditonton istri saya channel sinetron melulu. Saya lupa, kalau istri saya lebih menyukai sinetron dari pada acara yang saya senangi. Ah…dengan demikian, nasib saya ternyata lebih baik, buktinya? Saya kemudian harus “ngetekur” depan laptop mengonsep novel-novel yang entah kapan akan terbit: namun saya tetap berharap kelak akan bisa terbit dan menghasilkan milyaran rupiah seperti A. Herata lewat Lasykar Pelangi-nya. Maybe…yes, maybe yes, maybe yes! Ya Malika Yaumiddin iyaka’abudu wa iyaka’asta’in. Dan yang pasti, saya bukan anggota salah satu partai politik. Saya pernah bermunajad agar diijinkan menjadi sastrawan yang berguna bagi Islam, karena sastrawan diberi tempat khusus dalam Kitab Suci agamaku, al Qur’anul Karim. Mudah-mudahan sebelum ajal menjemput, ada berkas novel yang berhasil saya selesaikan. Andai belum terbit, bukan masalah besar, paling tidak – anak cucu saya kelak mengerti bahwa saya sudah berusaha mengejar cita-cita yang saya munajadkan pada al Khaliq. Permisiiiiii…………

Senin, 15 Juni 2009

TEPUNG CASSAVA TRENGGALEK MAKIN DIKENAL

Upaya terobosan yang dilakukan oleh Bupati Trenggalek H. Soeharto untuk mengangkat taraf hidup petani ketela pohon kini sedikit demi sedikit telah kelihatan hasilnya. Terlebih dengan pengolahan ketela pohon menjadi tepung mocaf (cassava) kini telah mampu menampung hasil panenan dari para petani serta dapat meningkatkan harga jual ketela itu sendiri. Demikian pula dengan pemasaran tepung mocaf ini yang telah ditampung oleh PT Tiga Pilar ternyata mampu melambungkan nama Trenggalek di tingkat nasional.

Berkaitan dengan hal tersebut banyak kabupaten lain terutama di luar Pulau jawa yang tertarik untuk mengikuti jejak keberhasilan Kabupaten Trenggalek. Salah satunya adalah Kabupaten Tulang Bawang Propinsi Lampung yang datang langsung ke Trenggalek dalam rangka studi banding belajar masalah tepung mocaf.

Rombongan yang terdiri dari 15 orang ini dipimpin oleh Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Tulang Bawang. Rombongan ini terdiri dari unsur dinas terkait, anggota DPRD Tulang Bawang, petani ketela, kelompok tani, dan pengurus koperasi. Bupati Trenggalek berkenan menerima di Gedung Pertemuan Bhawarasa pada tanggal 21 Mei 2009 sebulan yang lalu.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan kab. Tulang Bawang menyatakan ucapan terima kasih atas perkenan Bupati Trenggalek yang telah berkenan menerima rombongan dengan terbuka dan penuh sukacita. Selanjutnya denyatakan atas kesannya yang mendalam dalam belajar masalah tepung mocaf ini yang selanjutnya akan diterapkan di daerahnya. Mengingat potensi ketela pohon di Kabupaten Tulang Bawang jauh lebih besar dari pada yang di Trenggalek.

Sebaliknya Bupati Trenggalek H. Soeharto dalam kata ucapan selamat datang menyatakan rasa terima kasih atas perhatian dari pihak Pemkab Tulang Bawang yang menaruh perhatian besar terhadap pengembangan mocaf di Trenggalek. Bupati H. Soeharto juga sanggup membantu secara penuh apa yang menjadi maksud dan keinginan rombongan dari Tulang Bawang.

Kegiatan selama kunjungan di Trenggalek antara lain langsung melihat proses pembuatan mocaf di Desa Kerjo Kecamatan Karangan. Juga meninjau proses kegiatan di Koperasi gemah Ripah yang menangani pemasaran Cassava serta mengikuti presentasi yang langsung dipimpin oleh Bupati Trenggalek. Acara kunjungan ini ditutup dengan tukar menukar cindera mata masing-masing kabupaten Trenggalek dan Tulang Bawang.

Catatan CahNdeso:

Weleh-weleh, tibake Nggalek-ku wis kondang ning kana...alhamdulillah.

STADION KELUTAN AKAN DIPERMAK

Stadion Kelutan mendapatkan kucuran Rp 6 miliar dari APBD. Dana awal dari sebuah rencana pembangunan renovasi berkelanjutan, dengan target Trenggalek kelak mempunyai prasarana olahraga yang memadai. Dalam master plannya, yang direhab bukan hanya bagian dalam, namun juga luar stadion khususnya bagian depan akan disediakan semacam pusat perbelanjaan untuk aneka jenis produksi khas Trenggalek.
Tribun yang sekarang ada di sisi timur menghadap ke barat akan dipindah ke sisi lain, di mana bagian bawah tribun akan dijadikan ruang ganti pakaian dan tempat penyimpanan sarana olahraga.
Selain itu, juga akan ada perbaikan untuk rumput dan pagar lapangan. Sementara untuk kios di depan stadion direncanakan untuk relokasi pedagang di sekitar alun-alun. “Selama ini banyak pembeli tamu-tamu yang datang dari Pacitan dan luar kota lain, butuh sentra makanan,” kata Imam.
Dengan disediakannya kios tersebut untuk memberi tempat pedagang kaki lima yang mulai menjamur di alun-alun. “Ketika pemerintah nantinya menertibkan, sudah ada solusi relokasi tempatnya,” ucap Imam.
Selama ini sarana olahraga di Stadion Kelutan memang sangat memprihatinkan. Terutama rumput di lapagan sepak bola yang kurang layak untuk pertandingan. Untuk pengerjaaannya, proyek renovasi stadion ini ditangani dinas perumahan, permukiman dan kebersihan Trenggalek.

Catatan CahNdeso

Nah...gituuuu...kalau perlu, itu kolam renang juga direnovasi..dengan demikian, bila saya dan keluarga renang bisa lebih leluasa dan segeeee...er.

TIGA SMA LULUS UNAS 100%



Siswa SMAN 1 Trenggalek ketika Mengikuti UNAS.

Pengumuman kelulusan Ujian Akhir Nasional di Trenggalek disampaikan via surat oleh sekolah masing-masing. Bagi siswa yang tidak menerima surat berarti Lulus UNAS. Tiga sekolah yang siswanya 100% lulus, yaitu SMA Negeri 1 Trenggalek, SMAN 1 Karangan dan SMA Karya Dharma 1 Trenggalek. Ada 40 siswa yang tidak lulus, yakni dari SMAN 1 Pule 7 siswa, SMAN 1 Dongko, SMAN 1 Panggul, SMAN 1 Munjungan, SMAN 2 Karangan dan SMA Islam Watulimo masing-masing 4 siswa. SMAN 1 Tugu 3 siswa, sedang SMAN 1 Durenan, SMAN 1 Bendungan dan SMA Hasan Munahir masing-masing 2 siswanya tidak lulus. SMAN 2 Trenggalek, SMAN 1 Kampak, SMA PGRI Munjungan, dan SMA Muhamadiyah Watulimo masing-masing 1 siswa. “Kendati standar nilai kelulusan lebih tinggi, ternyata prosentase kelulusan siswa SMA di Trenggalek bisa meningkat dibanding tahun lalu. Yang tidak lulus hanya 11 siswa IPA dan 29 siswa IPS,” kata Drs. Abu Mansur, Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek menerangkan.

Dua siswi Jurusan IPA SMAN 1 Trenggalek berhasil meraih Nilai Ujian Nasional 57.00 menempati peringkat empat dan lima se-Jawa Timur. Sukses yang diraih Erni Agustina dan Maretha Laksmi Maharani tersebut telah menambah cerah pamor pendidikan di Kabupaten Trenggalek di forum regional. Sepuluh besar tingkat Kabupaten diraih oleh SMAN 1 Trenggalek untuk Jurusan IPA dan SMAN 2 Trenggalek untuk IPS, namun ada siswa SMAN 1 Kampak yang menempati peringkat ke-enam Jurusan IPS.

Pelaksanaan UNAS di Kabupaten Trenggalek oleh kalangan pengamat pendidikan dinilai fair dan sesuai dengan prosedur. Jika ternyata Dinas Pendidikan Trenggalek mampu menempatkan daerah ini dalam peringkat sepuluh besar pelaksana UNAS TERBAIK se-Jawa Timur itu suatu hal yang wajar. “Tidak ada rekayasa, tidak ada upaya apapun untuk membantu murid dalam UNAS. Nilai yang mereka peroleh adalah murni hasil siswa itu sendiri”, demikian Drs. Suwatno, Kabid SMP/SM menegaskan. Pengumuman kelulusan siswa MA dilakukan oleh Depag Trenggalek, sedangkan untuk SMK akan disampaikan Selasal 16 Juni, karena informasinya baru akan diterima Dinas Pendidikan Trenggalek Senin, 15 Juni 2009.

Catatan CahNdeso :

Tahun lalu, Trenggalek menempati peringkat sembilan se-Jawa Timur, dalam hal prosentase kelulusan. Dibandingkan dengan Tulungagung jumlah siswanya yang tidak lulus sebanyak 100 anak, Trenggalek menurut saya masih “onjo” juga, padahal jumlah peserta UNAS SMAnya cuma terpaut kurang lebih seratus-an siswa lebih banyak Tulungagung.

CahNdeso menyampaikan respek dan apresiasi yang setinggi-tingginya pada semua Guru dan Kepala Sekolah di Trenggalek. Selamat berjuang, terus inovatif dan dinamis !

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (256) Artikel (222) Info (213) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (85) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (82) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (62) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Artikel-Copas (18) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (8) Fauna (8) Idul Fitri (7) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1) lebaran (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top